alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri
Karya Difabel

Pemkab Beri Ruang untuk Terus Berkarya

26 Mei 2020, 12: 45: 59 WIB | editor : Perdana

PANTANG MENYERAH: Sebanyak 20 difabel mendapatkan pelatihan membuat masker transparan di BLK Wonogiri. Masker tersebut akan dibagikan kepada penyandang tuli.

PANTANG MENYERAH: Sebanyak 20 difabel mendapatkan pelatihan membuat masker transparan di BLK Wonogiri. Masker tersebut akan dibagikan kepada penyandang tuli. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

JIWA kemanusiaan dan kreativitas difabel mendapat acungan jempol Bupati Wonogiri Joko Sutopo. "Mereka memiliki keterbatasan fisik, tetapi masih bisa berkarya. Mampu membuat inovasi yang bagus," terangnya, kemarin.

Apresiasi juga diberikan terhadap penyandang tuli yang membuat masker transparan dan diwujudkan dengan pemesanan sebanyak 1.687 masker melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Wonogiri. Masker dibeli Rp 7.500 per buah.

Sekitar 20 penyandang disabilitas dikerahkan untuk bisa membuat masker transparan dengan mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Ngadirojo. "Kami beri ruang seluas-luasnya untuk mereka. Di saat Pandemi Covid-19 ada kebutuhan APD (alat pelindung diri) khusus untuk penyandang tuli. Kendalanya seperti permodalan dan tingkat produksinya, bisa diatasi bersama," jelasnya.

Setelah mengikuti pelatihan, bupati berharap para difabel dapat membentuk kelompok usaha bersama (Kube) yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi. 

Pemkab memberikan modal awal senilai Rp 5 juta untuk penyandang disabilitas membuat masker transparan. Nominal modal awal itu masih bisa bertambah. 

Menurut bupati, modal usaha tersebut adalah hak para penyandang disabilitas untuk memperkuat usahanya. Ke depan, ditargetkan ada peningkatan kemampuan disabilitas mengelola Kube dan bisa mendapatkan bantuan dana dari APBD.

"Sementara ini kami belum masuk ke pembentukan Kube. Kami masuk ranah pemanfaatan potensi yang ada dulu. Kami dorong yang ini dulu," ujarnya. 

Jekek, sapaan akrab bupat Wonogiri menambahkan, harus ada upaya membantu disabilitas memaksimalkan potensinya. Tantangannya adalah kurangnya komunikasi dan koordinasi. "Mereka juga mengakui itu. Mungkin ada rasa minder dan aspek-aspek keterbatasan lain,” jelasnya.

Tahun ini, pemkab menganggarkan Rp 2 miliar untuk pemberdayaan difabel. Ditambah Rp 1 miliar untuk pengadaan alat bantu. Anggaran tersebut tidak terdampak refocusing dalam rangka penanggulangan Covid-19. 

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri Kurnia Listiyarini menambahkan, anggaran dari pemkab juga digunakan untuk mendorong para difabel ini membuat Kube. Tujuannya di antaranya membantu difabel nonproduktif.

"Nonproduktif itu maksudnya yang tidak bisa apa-apa, diberi jaminan hidup. Difabel sebelum ada Covid-19 kan merupakan kelompok yang membutuhkan bantuan," jelasnya. 

Selain itu, ada tambahan bantuan sebanyak 200 alat bantu untuk para difabel senilai Rp 500 juta. Terdapat 400 penyandang disabilitas yang telah mendapatkan alat bantu.

Terkait Kube, ada beberapa yang sudah berkembang. Di antaranya Kube di Kecamatan Kismantoro dengan memproduksi batik, serta kerajinan bambu di Kecamatan Eromoko.

Di lain sisi, mengacu catatan dinsos, terdapat 8.491 difabel yang tersebar di 25 kecamatan. “Itu yang terdata. Ada keluarga yang menyembunyikan identitas anak difabel karena dianggap aib. Jangan seperti itu, tidak perlu," tegas Kurnia.

Dia menekankan, pemkab tetap memberikan hak yang sama kepada penyandang disabilitas. Seperti mendapatkan pendidikan dan kesehatan. Sebab itu, pihak keluarga tidak perlu menyembunyikan keberadaan mereka. Sebab dikhawatirkan malah membuat difabel tidak produktif, tidak berdaya dan tidak mandiri.

“Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya agar para penyandang disabilitas dapat produktif. Termasuk mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja,” terangnya. 

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Wonogiri Ristanti menyambut baik difabel yang bersedia mengikuti pelatihan di BLK. "Kami punya paket pelatihan. Misalnya difabel membutuhkan, mereka boleh mengikutinya," katanya.

Paket pelatihan yang biasa dipilih difabel antara lain menjahit, membatik, dan desain grafis. "Batiknya saya akui bagus-bagus. Anaknya juga telaten," ungkap dia. 

Pdara difabel yang mengikuti pelatihan di BLK dijadikan satu kelas bersama orang lain. 

Terbaru, difabel dilatih membuat masker transparan. 

Sementara itu, Eka Sari Utami, 24, salah seorang juru bahasa isyarat sekaligus pelopor pembuatan masker transparan bersama Sutantini, 40, penyandang tuli mengatakan, respons pemkab terhadap inovasi tersebut bagus.

"Setelah ada pertemuan dengan pak bupati dan Pak Bambang (Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri) kami langsung survei BLK dan urus segala keperluan pelatihan," ujarnya.

Akhirnya ada 20 difabel bersedia dilatih dan menjadi tim pembuatan masker transparan.

"Pengerjaan masker transparan dilakukan di rumah masing-masing. Yang paling jauh dari Kecamatan Slogohimo," ucapnya.

Pemilihan menjahit masker di rumah adalah guna mematuhi protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, sekaligus agar para difabel tetap nyaman. (al/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia