alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Pengalaman "Nggrantes" Fithqoti Afiroh Zuqri Menikah di Masa Pandemi

Hidangan untuk Keluarga Besan pun Dibungkus

28 Mei 2020, 21: 15: 39 WIB | editor : Perdana

Fithqoti Afiroh Zuqri dan Irpan Zulfi Akbar usai ijab kabul di KUA Jebres 11 April lalu.

Fithqoti Afiroh Zuqri dan Irpan Zulfi Akbar usai ijab kabul di KUA Jebres 11 April lalu. (DOK PRIBADI)

Share this      

Masa pandemi meninggalkan banyak cerita. Termasuk bagi Fithqoti Afiroh Zuqri yang melangsungkan pernikahan dengan cara khusus. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo, Radar Solo

IKHLAS. Begitu yang dirasakan Fithqoti Afiroh Zuqri saat ini. Perempuan 26 tahun asal Kecamatan Jebres ini telah melangsungkan akad nikah dengan Irpan Zulfi Akbar, 27, pada 11 April lalu. Dia mengakhiri masa lajang saat situasi mencekam karena Covid-19. Padahal, rangkaian pernikahan mulai dari ijab kabul, resepsi hingga ngunduh mantu sudah disusun sejak Oktober 2019. Atau setengah tahun lalu saat prosesi lamaran dilangsungkan. 

“Desember sudah booking semua. Gedung dan lain-lain. Januari sudah siap semua. Undangan 1.000 lembar dan souvenir sudah siap diedarkan. Kenyataannya kita hanya akad di KUA. Nggrantes sih nggrantes, tapi mau bagaimana lagi. Sekarang sudah ikhlas,” katanya.

Afi, begitu dia disapa, berhasil melewati masa-masa sulit menjelang pernikahan. Januari, saat isu Covid-19 baru muncul di Indonesia, dia masih santai. Tak ada bayangan bakal ada pelarangan berkumpul dan sebagainya, termasuk menggelar hajatan. Memasuki bulan ketiga, Afi tetap santai, Ayahnya yang bimbang. “Bapak mulai bertanya, mundur apa piye?” katanya.

Pertanyaan sang bapak tak begitu direspons. Hingga tepat tiga pekan sebelum hari H, pegawai Pemkot Surakarta ini mulai berpikir. Situasi saat itu memang telah genting, namun belum ada keputusan yang jelas dari pemerintah terkait penyelenggaraan upacara pernikahan. Setiap malam dia memikirkan bagaimana kelanjutan rencana pernikahannya. Sesekali Afi meneteskan air mata.

“Sampai akhirnya ada maklumat Polri agar tidak berkerumun dalam sebuah acara. Termasuk resepsi pernikahan. Akhirnya kita putuskan untuk menunda resepsi. Akadnya tetap,” terangnya.

Tangisnya reda. Dia menyiapkan segala sesuatu untuk akad nikah. Sesuai rencana, akad nikah akan digelar di rumah. Tiga hari jelang prosesi akad, tim dekorasi sudah bersiap. Konsumsi telah dipesan. Matang. Dia pun menghubungi petugas KUA untuk memastikan kehadiran naib dalam ijab kabulnya. Tak disangka, KUA memberi kabar terkait aturan baru penyelenggaraan ijab kabul pernikahan. Semua ijab kabul wajib dilaksanakan di kantor KUA dengan protokol kesehatan ketat.

“Ya Allah… ternyata. Itu kalau saya nggak telepon nggak akan tahu. Syaratnya yang datang ke KUA maksimal lima orang, termasuk fotografer,” katanya.

Meski kaget dengan syarat tersebut, dia akhirnya melaksanakan ijab kabul pada 11 April. Hanya pengantin, saksi, dan dokumentasi yang masuk. Protokol yang diterapkan KUA memang ketat. “Kakak saya saja tidak bisa masuk. Jadi di sana ijab, foto, selesai, langsung disuruh pulang,” ujarnya.

Sesampai di rumah, keluarga Afi dan besan tidak lantas menikmati hidangan. Seluruh jamuan makan dibungkus untuk dibawa pulang oleh keluarga besan. “Jadi yang ada hanya keluarga inti saya, keluarga inti suami. Tetangga nggak ada, memang tidak kita undang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena saat itu lagi marak pembubaran paksa mantenan. Takut saya,” kata Afi.

Meski begitu, kini dia dan keluarga dapat bernapas lega. Syarat utama pernikahan telah dilalui. Afi pun mengambil hikmah dari apa yang telah dijalani selama mempersiapkan pernikahan.

“Hikmahnya jangan terlalu menyepelekan, nggampangne. Kemudian sadar jika Allah lah yang mengatur segalanya. Lha ini sekarang kita belum tahu kapan mau resepsi,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia