alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

Jateng Tak Buru-Buru New Normal, Ganjar: Silakan bagi Daerah Nol Kasus

29 Mei 2020, 06: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan perlu edukasi dan latihan sebelum penerapan new normal.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan perlu edukasi dan latihan sebelum penerapan new normal.

Share this      

SOLO – Sejumlah daerah bersiap menerapkan new normal atau normal baru. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) tidak ingin terburu-buru mengikuti kebijakan ini. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, saat ini pihaknya masih mempersiapkan new normal. Yakni, dengan getol melakukan edukasi dan latihan kepada masyarakat. “Belum (penerapan new normal). Kita lagi latihan. New normal itu bukan bendera finish yang dikibarkan. Terus ini disebut new normal. Maka harus diawali dulu dengan latihan-latihan,” katanya di rumah dinas gubernur, kemarin (28/5).

Meski tidak diambil dalam waktu dekat, namun persiapan menuju new normal terus digenjot. Kantor pemerintahan, layanan publik, perbankan, pasar, industri, tempat ibadah hingga sekolah harus siap dengan sarana prasarana pendukung, seperti tempat cuci tangan, mengukur suhu serta pengaturan flow saat mereka bergerak harus tuntas.

“Sekarang sedang kami coba siapkan mereka mengatur itu. Agar masyarakat siap. Kemarin setelah ada keputusan menteri kesehatan sebagai pedoman, kami perintahkan semua untuk mengatur,” papar Ganjar.

Disinggung kapan kemungkinan kebijakan new normal diambil, Ganjar mengaku masih menunggu perkembangan. Sebab menurutnya, kebijakan itu harus mempertimbangkan banyak faktor, khususnya penurunan kurva kasus positif Covid-19.

“Kapan dilakukan, ya kalau kurvanya turun drastis. Kan itu sudah ada petunjuknya dari gugus tugas, sehingga semua harus mengacu ke sana,” terangnya.

Meski begitu, penerapan new normal bisa saja dilakukan di kabupaten atau kota yang memang nol kasus Covid-19. Daerah yang memang sudah aman, bisa menerapkan kebijakan itu.

“Untuk Jateng tidak dalam waktu dekat, kecuali kabupaten atau kota yang sudah rendah. Rembang kemarin sempat nol kasus, tapi ini infonya ada tiga pasien dari daerah lain, maka tunda dulu. Tegal kemungkinan bisa, tapi hati-hati karena berhubungan dengan daerah sekitarnya. Jadi semua harus diatur dan disiapkan,” tegasnya.

Terkait mekanisme new normal, Ganjar mengatakan, tidak ada penunjukan dari pusat atau pengajuan dari daerah. Hasil rapat beberapa waktu lalu, diputuskan kalau kebijakan itu dilakukan sukarela.

Untuk itu, dia lebih suka menata dan menyiapkan. Bahkan jauh sebelum ini dilakukan, Ganjar menegaskan sudah datang ke pabrik rokok di Kudus. Mereka sudah mengatur, pabrik tekstil sudah berjalan, pasar berjalan dan lainnya. 

“Kemarin saya cek mal sudah mengatur bagus, perkantoran, tempat ibadah, sekolah semua sudah menyiapkan. Intinya saya sudah siapkan. Nanti kalau kurvanya sudah turun sampai ke bawah dan di bawah 50 persen, baru bisa diterapkan. Kalau masih di atas 50 persen, ya jangan,” tukasnya.

Di sisi lain, Ganjar mengatakan, pelaksanaan rapid test masal sudah mulai berjalan di berbagai daerah di Jawa Tengah. “Kota Semarang misalnya, langsung menggelar rapid test di Pasar Kobong, beberapa supermarket, mal, dan tempat ibadah. Tadi pagi saya dapat laporan di Purbalingga, pasar-pasar sudah dites, Wonosobo juga sudah melakukan,” terangnya.

Meski begitu, sampai saat ini laporan pelaksanaan rapid test secara lengkap belum disampaikan. Ganjar berharap, pelaksanaan rapid test segera dilakukan di seluruh daerah di Jawa Tengah. ”Kalau yang kami berikan sebanyak 11.400 rapid test itu bisa dilakukan khususnya di daerah yang banyak kerumunan, maka bisa baik. Asumsinya, kalau satu orang dua kali rapid test, maka sekitar separonya bisa terdeteksi. Itu target kami,” ujarnya. 

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo juga menegaskan Kota Solo belum akan menentukan kapan akan memulai tahapan kenormalan baru. “Kemungkinan dibuka pada bulan depan (Juni) atau awal atau pertengahan Juli. Namun, itu masih perlu dikaji,” ujarnya. (irw/bun/ria)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia