alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Jejak Isaak Pattiwael, Eks Penggawa Piala Dunia 1938 (1)

Gabung Klub Perusahaan Sepatu di Klaten

31 Mei 2020, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

LEGENDA: Skuad Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 di Prancis. Isaak Pattiwael (tiga dari kanan) jadi bagian inti di tim ini.

LEGENDA: Skuad Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 di Prancis. Isaak Pattiwael (tiga dari kanan) jadi bagian inti di tim ini.

Share this      

KLATEN – Nama Isaak/Itjak Pattiwael tentu anak zaman sekarang, banyak yang tidak mengenal sosoknya. Cukup wajar, karena dia eksis di lapangan hijau di tahun 1930-1950an. Dia juga tak pernah gabung dengan Persis Solo saat masa jayanya.

Pemain kelahiran 23 Februari 1914 dan meninggal 16 Maret 1987 tersebut, besar namanya di klub klub VV Jong Ambon Batavia, yang merupakan anggota VBO (klub lokal di Jakarta bentukan Belanda). 

Namanya juga tercatat sebagai salah satu pemain pribumi di skuad Hindia Belanda, yang terjun di ajang Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis.

Sementara itu ada hal menarik lainnya, nama Pattiwael ternyata tercatat di buku “Drama itu bernama Sepakbola” karya Arief Natakusumah, bahwa dia sempat gabung dengan PSIK Klaten.

Pattiwael saat zaman revolusi dicatatkan hijrah ke Klaten. Dia tak sendiri, banyak pemain bola asal Jakarta lainnya yang boyongan ke Klaten, adalah Mahmul, Rislan dan Abidin.

“Namun mereka tidak bergabung dengan Persis, melainkan ke PSIK Klaten lantaran ditawari bekerja di pabrik sepatu Gayamprit. Boleh jadi kepindahan ini seperti sebuah kisah transfer pemain tempo doeloe. Sebelum hijrah ke Klaten, Mahmul, Ruslan dan Abidin adalah anggota tim sepak bola Bata Jakarta. Saat itu perusahaan sepatu milik Belanda ini boyongan sambil membawa peralatan pabrik ke Jawa Tengah,” dilanisr dari catatan di bab Drama 16: Derby Ala Jawa di buku Drama itu bernama Sepakbola.

Ada hal menarik lainnya juga soal Pattiwael di Klaten. Dalam buku Abidin Pentjetak Gol, rekan setimnya Pattiwael, yakni Abidin mencatat kisah hidupnya. 

Di Klaten Abidin ikut bekerja di pabrik Bata. Dia ikut membuat sebuah kesebelasan bersama pemain-pemain  lainnya yang juga ikut mengungsi dari Jakarta. Klub tersebut diberi nama Paberik Sepatu Republik Indonesia ( Pasri). Pemain Pasri asal Jakarta kala itu adalah Machmul, Ruslan, Hutadjulu, Arifin, Busu, Murad, hingga Pattiwael.

Selain mengadakan pertandingan di Klaten, kesebelasan Pasri juga pergi bertanding ke Solo, Jogja, Malang, Madiun dan Kediri.

"Dalam buku ini tercatat saat main di Malang, sempat ada kegegeran pas Pasri bertanding. Pattiwael terlibat dalam perkelahian dengan seorang pemain Malang. Penonton turut melempar batu, ketika pemain pulang ke hotel. Itu membuat polisi ikut turun tangan,” terang Abdillah Afiif, pengamat sejarah bola dari Abidin Side.

“Soal Pattiwael gabung dengan PSIK, saya belum menemukan arsipnya secara langsung. Yang saya tahu memang namanya dikaitkan dengan perusahaan sepatu di Klaten, dan sempat bentuk klub bersama pemain dari Jakarta lainnya bernama Pasri yang bermarkas di Klaten. Pembentukannya tahun 1947, setelah Indonesia merdeka,” terang penulis buku Gue Jakata tersebut. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia