alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Jejak Isaak Pattiwael, Eks Penggawa Piala Dunia 1938 (3)

Tapaki Langkah di Piala Dunia 1938

31 Mei 2020, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

IDOLA SESAAT: Pattiwael (pojok kiri) bersama skuad Timnas Hindia Belanda saat berada di Amsterdam jelang laga melawan Timnas Belanda, 1938 silam.

IDOLA SESAAT: Pattiwael (pojok kiri) bersama skuad Timnas Hindia Belanda saat berada di Amsterdam jelang laga melawan Timnas Belanda, 1938 silam. (DOK. NATIONAL ARCHIEF)

Share this      

AWAL tahun 2018 Badan sepak bola dunia (FIFA) resmi mengakui Indonesia sebagai wakil pertama Asia di pentas Piala Dunia. Itu terjadi di Piala Dunia 1938.

Walaupun sempat ada polemik yang muncul untuk menentukan siapa negara Asia pertama di Piala Dunia. Ini cukup maklum, karena episode 1938, wakil Asia adalah Hindia Belanda (Dutch East Indies).  Indonesia sendiri baru merdeka tujuh tahun setelah Piala Dunia 1938 itu terjadi.

Skuad Hindia Belanda kala itu tak hanya bermaterikan pemain dari Belanda. Ada juga pemain pribumi, dari suku Jawa, Maluku, hingga Tionghoa. Kapten timnas kala itu sendiri adalah seorang pribumi, bernama Achmad Nawir yang merupakan dokter asal Surabaya.

Pattiwael termasuk dalam skuad, saat dia berusia 24 tahun kala itu. Pemain pribumi dan Tionghoa mendominasi. Dari 17 pemain yang masuk skuad, 11 diantaranya merupakan pemain pribumi dan tionghoa, bahkan sembilan jadi pemain inti. Termasuk  saat melawan Hongaria di Piala Dunia, 5 Juni 1938.

Di Piala Dunia, Timnas babak belur kelah 0-6 dari Hungaria, di depan 9.000 penonton yang hadir. Laga melawan Hungaria sendiri digelar di Stadion Velodorme, di Kota Reims, Perancis -sekarang stadionnya dikenal dengan nama Stadion Auguste Delaune-. 

Tim Hungaria menggunakan kostim serba putih, sementara lawannya menggunakan kaos oranye, celana pendek putih dan kaus kaki biru muda. Sayang Hindia Belanda kalah jam terbang dan postur kala itu.

“Ayah saya (Isaak Pattiwael) sempat cetak gol di laga ini, namun dianulir,” terang Yohannes Pattiwael, anak dari Isaak Pattiwael yang dilansir dari video Youtube FIFATV.

Perang Shino di Asia Timur yang menyeret Jepang di bulan Juli 1937, membawa keberuntungan bagi tim sepak bola Hindia Belanda. Jepang yang mengundurkan diri dari kejuaraan FIFA, membuat timnas langsung lolos ke babak final Piala Dunia Prancis, tanpa harus melewati babak kualifikasi.

Sebelum ke Piala Dunia, ternyata PSSI dan NIVU sempat mau ada ide membentuk tim gabungan untuk Piala Dunia 1938. Perjanjian Gentlemen’s Agreement di tahun 1937, jadi pegangan PSSI. Perjanjian ini membawa PSSI diberi kesempatan untuk membentuk timnas, untuk melawan klub Nan Hua asal Hongkong di Semarang, 7 Agustus 1937.

PSSI dadakan membentuk tim. Akhirnya terpilih 12 pemain. Menariknya delapan berasal dari Persis Solo, yakni Maladi, Soemarjo, Soewarno, Handiman, Kemi, Soeharto, Soetris, dan Jazid. Sisanya tiga dari Cirebon (Sardjan, Moestaram, Ahoed), dan satu pemain lagi asal dari Jogjakarta, Djawad.

“Saya lebih senang menyebutnya ini sebagai Timnas Jawa Tengah. Karena tak seluruh anggota terpilih. Tapi tetap harus diakui, ini Timnas pertama PSSI sepertinya,” ujar pengamat sepakbola asal Jakarta Abdillah Afiif.

Hasil seri 2-2 Timnas PSSI atas Nan Hua membuat kaget. Terlebih di laga lain, banyak klub anggota NIVU yang keok dari Nan Hua. Hal ini sepertinya membuat NIVU khawatir, hingga akhirnya pemain yang diboyong ke Piala Dunia adalah pemain anggota NIVU itu sendiri. Walaupun di dalamnya banyak yang berstatus pribumi, namun mereka tidak berkompetisi di bawah payung PSSI.

“Itu adalah drama politis. NIVU melakukan itu mungkin karena punya hak, sebagai anggota FIFA yang diakui,” ujar sejarawan bola asal Bandung, Novan Herfiyana.

Sebelum berlaga di ajang Piala Dunia 1938 di Perancis, tim Hindia Belanda berangkat menggunakan kapal laut 'Baluran'. Mereka meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok pada 27 April 1938, dan tiba di pelabuhan Genoa di Italia.  Achmad Nawir dkk kemudian menuju Belanda dengan mengendarai kereta api. Tim sempat bertanding di Den Haag, sebelum menuju Prancis. 

Usai tersingkir dari Piala Dunia yang kala itu menggunakan sistem gugur, Timnas Hindia Belanda kembali ke Belanda, dan menggelar pertandingan melawan Timnas Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam, 26 Juni 1938. Hasil, tim tamu keok 2-9.  (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia