alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

KAI Siapkan Diri, Ini Tata Cara Penumpang Kereta Api saat New Normal

01 Juni 2020, 12: 21: 29 WIB | editor : Perdana

KAI Daop VI Jogja hanya mengoperasikan kereta api reguler jarak pendek selama pandemi Covid-19.

KAI Daop VI Jogja hanya mengoperasikan kereta api reguler jarak pendek selama pandemi Covid-19. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Semua sektor sedang mempersiapkan diri dalam menyambut kebijakan new normal yang dicanangkan pemerintah, termasuk di bidang angkutan umum. Segala persiapan sudah dilakukan agar layanan tetap optimal, namun tidak mengesampingkan protokol kesehatan.

Pejabat Humas PT Kereta Api Indonesian (KAI) Daop VI Jogjakarta Eko Budianto menuturkan, meski pihaknya masih menunggu secara resmi kapan new normal diberlakukan, namun PT KAI sudah mempersiapkan sejak dini terkait pelayan. Baik itu kepada pelanggan angkutan penumpang maupun kereta barang. Adaptasi pelayanan perkeretaapian dengan mengurangi kontak fisik dan menerapkan protokol kesehatan. 

“Pedoman ini dibuat untuk melindungi, baik itu penumpang maupun pegawai kami dari kemungkinan terpapar virus korona. Kami sudah membuat simulasi beberapa waktu lalu terkait segala kemungkinan yang terjadi,” kata Eko, kemarin.

Ditambahkan Eko, nanti di atas kereta terdapat tim khusus yang intens memerhatikan kesehatan penumpang. Tim ini juga akan rutin mengecek kesehatan penumpang setiap tiga jam sekali. Selain itu, terdapat gerbong khusus untuk ruang isolasi apabila didapati ada penumpang yang sakit atau terpapar Covid-19 saat di perjalanan. “Ruang isolasi juga kami siapkan di setiap stasiun, sebagai ruang tunggu sementara sebelum nantinya dijemput oleh tenaga medis di tiap kota,” tutur Eko.

Para pelanggan nanti juga didorong untuk membeli tiket keberangkatan secara online melalui aplikasi KAI Access, laman resmi KAI serta mitra penjualan tiket resmi KAI lainnya. Meski begitu, loket di stasiun juga masih difungsikan. Namun hanya untuk pembelian go show atau tiga jam sebelum jadwal keberangkatan.

Ketika memasuki area stasiun, masyarakat diwajibkan memakai masker, kemudian suhu tubuh dicek. Bila lebih dari 37,3 derajat celcius, maka tidak diperbolehkan naik. Pada saat mau naik, penumpang juga harus menunjukkan tiket dan identitas kepada petugas. Setelah itu, penumpang melakukan scan tiket secara mandiri. Langkah ini untuk meminimalkan kontak fiksi antara penumpang dan petugas.

Ketika sudah berada di atas kereta, selain menggunakan masker, penumpang juga diharuskan menggunakan face shield yang disediakan PT KAI. Pelindung tersebut wajib dipakai hingga penumpang tersebut turun di stasiun tujuan mereka. “Nanti setelah digunakan langsung disterilisasi agar bisa digunakan oleh penumpang lain,” papar Eko.

Apakah akan ada pembatasan jumlah penumpang di tiap perjalanan? Eko mengatakan, pasti ada. Namun berapa jumlah maksimal penumpang yang ditampung selama perjalanan, masih menunggu kebijakan dari pusat. “Tempat duduk juga kami buat berjarak,” papar Eko.

Untuk pelaksanaan operasional kereta, akan berjalan secara bertahap sambil terus dilakukan evaluasi. “Yang jelas kami masih menunggu pemerintah ketok palu, kapan new normal ini terlaksana. Tapi kapan pun akan dilaksanakan, kami sudah siap,” ujarnya.

Di bagian lain, Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Surakarta Joko Suprapto menyambut baik kebijakan new normal. Sebab, ini menjadi titik terang dari kebuntuan perusahaan otobus (PO) mengingat selama pandemi sama sekali tidak ada pemasukan. “Tentu ini merupakan hal yang baik agar bus bisa segera beroperasi. Namun, untuk SOP kami masih menunggu dari Organda pusat dan dinas perhubungan,” tuturnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Hari Prihatno mengungkapkan, new normal membuat semua aspek kehidupan mengalami penyesuaian, tak terkecuali sistem transportasi publik di Kota Solo, seperti angkutan Feeder dan BST. 

“Waktu Solo berstatus KLB kami sudah mulai terapkan protokol kesehatan, seperti petugas pakai masker, menyediakan hand sanitizer di armada, rutin mencuci armada secara berkala, dan jaga jarak tempat duduk antarpenunpang. Mungkin nanti tidak akan jauh berbeda dari ini," jelas dia.

Untuk teknis lainnya, saat ini masih dalam pembahasan pemkot. Tujuannya, memberikan standar minimal pelaksanaan agar transportasi publik menjadi pilihan yang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk bepergian. (atn/ves/bun/ria) 

(rs/atn/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia