alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Donasi Masuk, Pakan Satwa TSTJ Aman hingga September

01 Juni 2020, 12: 42: 19 WIB | editor : Perdana

Salah satu pegawai tengah menyemprot disinfektan di Taman Satwa Taru Jurug

Salah satu pegawai tengah menyemprot disinfektan di Taman Satwa Taru Jurug (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pandemi Covid-19 sejak Maret lalu juga membawa dampak besar bagi dunia satwa. Penghentian kunjungan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang sudah berjalan tiga bulan terakhir otomatis membuat sumber pendapatan TSTJ mandek.

Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu mengaku harus membuka donasi untuk menyelamatkan kondisi satwa. Apalagi kegiatan wisata ditutup usai Solo berstatus kejadian luar biasa (KLB) Covid-19, sejak pertengahan Maret lalu. Meski pendanaan TSTJ cukup untuk Maret-April, bulan berikutnya TSTJ sudah kembang kempis. 

"Penutupan tempat wisata tentu berdampk pada biaya operasional yang meliputi pemenuhan pakan bagi satwa yang ada di sana. Karena itu, kami juga menggandeng Pemkot Surakarta. Pihak pemkot akan membantu pakan satwa sebesar Rp 100 juta pada Mei sampai Juli," kata Bimo. 

Padahal, kebutuhan operasional TSTJ mencapai Rp 120 juta. Tak kehilangan akal, manajemen TSTJ pun menggelar program penjualan tiket di muka. Hasil penjualan tiket di muka itu digunakan untuk memenuhi kekurangan biaya operasional. Beruntung, banyak masyarakat yang merespons dan memberi bantuan barang maupun uang melalui transfer. 

"Per 31 Mei, kami menutup sementara donasi pakan, karena untuk Mei sampai September sudah terpenuhi. Kami fokus pada penjualan tiket di muka. Hingga saat ini, jumlah tiket yang sudah terjual sebanyak 50.000 lembar yang dapat digunakan hingga Desember 2021," ungkapnya. 

Kepala Program Studi Pendidikan Biologi Muzzazinah mengatakan, pandemi Covid-19 tentu berdampak pada kehidupan satwa. Terutama yang ada di kebun binatang. Apalagi anggaran pengelolaan satwa terbatas akibat operasional yang berhenti sejak tiga bulan lalu. "Karenanya selain mengadakan webinar zona merah satwa selama pandemi, kami juga membantu donasi pakan berupa uang tunai bagi satwa di TSTJ pada 13 Mei lalu," terangnya. 

Di sisi lain Jarot Wahyudi dari Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) mengatakan, penutupan TNGMb sudah dilakukan secara menyeluruh terhitung 15 Maret lalu. Imbas pandemi Covid-19 tentu mengharuskan adanya penutupan tempat wisata alam. Dampak pandemi membawa perubahan dalam pengelolaan satwa liar. 

"Saat pandemi, langkah yang kami tempuh yaitu melakukan surveri dan memonitoring objek wisata agar  zero pengunjung," ungkapnya.

Jarot mengatakan, pihaknya memanfaatkan teknologi untuk pemantauan satwa. Selain itu, perkembangan dan kondisi satwa selalu dipantau. Dengan melakukan pengelolaan satwa liar, pihaknya juga memanfaatkan database satwa liar untuk memudahkan proses pengelolaan. Bahkan rekap data satwa liar dilakukan secara berkala. Ini untuk memastikan kondisi satwa tetap baik. 

"Rekap data simeru setiap pegawai lapangan rutin kami lakukan. Baik pengendali ekosistem hutan, polisi hutan, maupun penyuluh kehutanan," imbuhnya dalam kegiatan Zona Merah Satwa Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19.

Bahkan setiap berjumpa dengan satwa liar akan dilaporkan tiap akhir bulan. Hal tersebut menjadi salah satu objek pemantauan TNGMb. Selain perjumpaan, pihaknya memaksimalkan aplikasi simeru. Yakni dengan monitoring closed circuit television (CCTV) yang terpasang  menyebar di TNGMb, serta melakukan Resort Based Management sesuai tipologi setiap resort pengelolaan," katanya. (rgl/nik/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia