alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Soal Nakes yang Diteror karena Jemput Pasien Covid, Pelaku Dipolisikan

02 Juni 2020, 09: 04: 48 WIB | editor : Perdana

Bupati Yuni saat memantau rapid test masal di Kecamatan Sambirejo, kemarin (1/6).

Bupati Yuni saat memantau rapid test masal di Kecamatan Sambirejo, kemarin (1/6). (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Pemerintah Kabupaten Sragen menyayangkan aksi teror yang ditujukan pada salah seorang tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien Covid-19. Pemkab menyerahkan kasus itu kepada aparat penegak hukum agar diproses lebih lanjut.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan, pihaknya sudah memberikan pendampingan pada petugas Puskesmas Kedawung sekaligus petugas pencegahan Covid-19 Sartuti, 53, yang jadi korban terror

”Kami sudah memberikan pendampingan dan kami sudah upaya bersama-sama karena tidak bisa  diselesaikan sendiri. Di situ disebut koordinator santri pondok Temboro, tapi bisa juga yang melakukan orang lain. Kami lapor ke kepolisian dan tinggal menunggu hasilnya,” tegas bupati saat rapid test di wilayah Kecamatan Sambirejo, kemarin.

Dia menyampaikan, kondisi psikis korban dalam keadaan sehat. Tidak ada ancaman lanjutan dari pelaku. Namun, pihaknya menyikapi masalah ini dengan serius. ”Kami serahkan pada aparat penegak hukum, kami serius,” tegasnya.

Menurut bupati, pandangan masyarakat berbeda-beda. Masyarakat ada berbagai kelompok, ada yang dipahamkan dengan mudah. Ada yang lebih sulit menerima penjelasan. ”Pada dasarnya niat kita membantu, tidak ada tendensi apapun, tidak ada diskriminasi. Tidak hanya pondok pesantren, tapi semua kalangan,” terangnya. 

Seperti diketahui, nakes Sartuti diteror salah seorang yang mengaku kerabat pasien positif Covid-19. Sartuti mendapat teror melalui telepon dan pesan singkat WhatsApp (WA). Isi pesan tersebut bernada ancaman dan akan membalas dendam karena menjemput rekannya yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan akan dirawat di gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS). Namun, wanita yang akrab disapa Tutik itu enggan menangapi intimidasi tersebut.

Menurut Tutik, awalnya memang ada penolakan terkait penjemputan pasien. Tapi setelah diberi penjelasan, semua bisa menerima. ”Petugas kesehatan niatnya hanya mengobati, tidak ada niat menzalimi, apalagi saya juga muslim. Saya matur, jika ada yang kurang berkenan saya mohon maaf,” tutur Tutik. (din/adi/ria) 

(rs/din/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news