alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Tim-Tim Liga 2 Ingin Keluar dari Liga Indonesia Baru

03 Juni 2020, 12: 15: 24 WIB | editor : Perdana

Laga uji coba antartim Liga 2 Persis Solo versus Semen Padang di Stadion Manahan, Kamis lalu (5/3).

Laga uji coba antartim Liga 2 Persis Solo versus Semen Padang di Stadion Manahan, Kamis lalu (5/3). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Sejumlah tim Liga 2 meminta PSSI membentuk operator kompetisi yang terpisah dari Liga 1. Alasannya, pengelolaan liga akan lebih transparan dan adil.

Rencana pembentukan itu bahkan sudah mengerucut. Sejumlah tim seperti PSMS dan Semen Padang bahkan sudah menyiapkan nama, yakni PT Liga Indonesia Modern (PT LIM).

Sekretaris PSMS Medan Julius Raja menyatakan, dengan operator baru tersebut, pengelolaan Liga 2 diharapkan lebih transparan. Lebih fokus mendengar dan membantu klub kasta kedua agar bisa survive dalam berkompetisi. ”Agar Liga 2 bisa lebih mandiri,” katanya.

Dengan adanya operator baru, beberapa hal bisa disesuaikan. Misalnya untuk hak siar, Liga 2 bisa memakai hak siar berbeda dengan Liga 1. Termasuk bola yang dipakai.

”Tapi, semua tetap satu pintu di PSSI. Sehingga klub bisa mandiri dan subsidinya jelas,” paparnya.

Menurut Julius, operator baru Liga 2 ini bisa membuat PSSI mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Jika operator Liga 2 untung, PSSI akan mendapat dana tidak hanya dari operator Liga 1, yakni Liga Indonesia Baru (LIB). Tetapi juga dari Liga 2. ”Transparansi uang ke PSSI juga jelas nantinya,” terangnya.

Semen Padang juga mengaku sepakat. Namun, ada beberapa syarat yang diajukan jika memang menginginkan Semen Padang masuk dalam rencana pembentukan operator tersebut.

”Walaupun sangat setuju, tapi perlu pengkajian lebih dalam terkait rencana ini. Jangan sampai terjadi blunder nantinya,” ucap Direktur Operasional Semen Padang Effendi Syahputra.

Dia menambahkan, timnya setuju karena memang selama ini merasa hanya jadi anak tiri di LIB. Tidak bisa menyuarakan pendapat, tim-tim Liga 2 harus menerima semua keputusan yang dibuat di RUPS.

”Kami sering tidak dilibatkan dalam kebijakan-kebijakan strategis,” tuturnya.

Namun dia mengingatkan, jika nanti sesudah terbentuk, operator baru ini tidak bisa langsung bekerja 100 persen. Masih ada tahapan-tahapan yang harus dicapai. Sebab, euforia klub Liga 2 tidak sebesar Liga 1.

”Jangan berpikir uang subsidi akan naik berlipat-lipat dulu. Pikiran itu harus dihilangkan dulu,” tegas Effendi.

Manajer Persis Solo Hari Purnomo mengaku sepakat dengan ide tersebut. Hanya saja, operator khusus Liga 2 tetap harus menginduk ke PSSI. Harus ada koordinasi antaroperator liga, baik Liga 1 maupun Liga 2. 

”Sehingga masih berkesinambungan, tim juara Liga 2 bisa promosi ke Liga 1. Sebaliknya, tim degradasi dari Liga 1 nanti berkompetisi di Liga 2. Selain itu, butuh perencanaan yang matang, apalagi di tengah pandemi saat ini yang belum ada kepastian lanjut atau tidak liganya,” jelas Hari.

Namun demikian, tidak semua klub setuju dengan rencana itu. Salah satunya klub promosi PSG Gresik. Manajer PSG Gresik Aziz Riduwanto mengaku tidak sepakat dengan rencana pemisahan operator karena klub Liga 2 tidak sebesar Liga 1.

Untuk operasional selama semusim saja, klub Liga 2 harus sekarat mencari dana. Apalagi untuk memikirkan membuat operator baru yang nantinya pasti membutuhkan dana awal untuk saham.

”Untuk menggaji pelatih dan pemain saja kesulitan, betul tidak? Kami kurang setuju adanya operator baru,” tegasnya. (rid/JPG/adi/ria)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia