alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Okupansi Hotel Butuh Efek Domino

04 Juni 2020, 14: 47: 42 WIB | editor : Perdana

KENCANGKAN IKAT PINGGANG: Bangunan sejumlah hotel mencakar langit Kota Bengawan. Selama pandemi, sektor perhotelan menghadapi tantangan berat.

KENCANGKAN IKAT PINGGANG: Bangunan sejumlah hotel mencakar langit Kota Bengawan. Selama pandemi, sektor perhotelan menghadapi tantangan berat. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Jelang penerapan tatanan baru di tengah pandemi Covid-19, tingkat okupansi hotel masih di angka 6-8 persen. Terkategori stagnan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kendati ada sedikit kenaikan jumlah tamu selama Ramadan. Namun peningkatannya tidak begitu berpengaruh.

"Untuk meningkatkan okupansi butuh efek domino. Tergantung seberapa cepat recovery wabah ini oleh pemkot dan negara. Kalau ekonomi bisnis masih dibatasi, bandara masih ditutup, percuma. Karena hotel butuh kehadiran tamu fisik. SOP (standard operational procedure) protokol kesehatan yang dilakukan hotel-hotel saat ini bukan upaya meningkatkan okupansi. Tapi sebagai bentuk pelayanan prima," beber Pejabat Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo Sistho A. Srestho, kemarin.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta pada April lalu, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Kota Bengawan tercatat sebesar 10,85 persen. Angka tersebut secara keseluruhan mengalami penurunan 20,24 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 31,09 persen.

"Penurunan TPK yang cukup signifikan terjadi pada klasifikasi hotel bintang empat plus 

yang turun 28,62 poin. TPK tertinggi tercatat sebesar 14,64 persen terjadi pada hotel bintang dua,” terang Kepala BPS Kota Surakarta Totok Tavirijanto.

TPK  terendah terjadi pada hotel bintang tiga yang hanya mencapai angka 8,51 persen. 

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, TPK hotel bintang pada April 2020 secara rata-rata turun 45,76 poin. 

Rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang pada April lalu juga mengalami penurunan. Mencapai 1,21 hari atau turun 0,29 poin jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,50 hari.

Totok menyebut rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang terlama terjadi pada hotel bintang empat plus yaitu 1,43 hari, sedangkan rata-rata lama menginap yang terendah terjadi pada hotel bintang dua, yaitu 1,10 hari.

“Rata-rata lama menginap tamu asing di hotel bintang pada April mencapai 1,51 hari. Turun 0,72 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,23 hari. Rata-rata lama menginap tamu asing tertinggi terjadi pada hotel bintang dua yang mencapai 2,22 hari dan terendah pada hotel bintang tiga, yaitu 1,11 hari," sambungnya.

Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu domestik di hotel bintang pada April mencapai 1,21 hari. Atau mengalami penurunan 0,28 poin jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 1,49 hari.

“Rata-rata lama menginap tamu domestik terlama terjadi di hotel bintang empat plus, yaitu 1,43 hari dan yang terendah terjadi di hotel bintang dua selama 1,10 hari," pungkas dia. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia