alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Bandara Adi Soemarmo Akan Layani Rapid Test, Biaya sekitar Rp 290 Ribu

13 Juni 2020, 11: 06: 04 WIB | editor : Perdana

Petugas kebersihan membersihkan berbagai fasilitas yang ada di Bandara Adi Soemarmo, beberapa waktu lalu.

Petugas kebersihan membersihkan berbagai fasilitas yang ada di Bandara Adi Soemarmo, beberapa waktu lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Bandara Adi Soemarmo berencana menyiapkan tempat khusus untuk pemeriksaan rapid test bagi calon penumpang. Sebab, kendala yang dialami calon penumpang sampai saat ini adalah kelengkapan berkas penerbangan. Yakni surat keterangan bebas Covid-19.

“Pengecekan untuk menumbuhkan minat masyarakat bepergian naik pesawat. Masalahnya, hasil rapid test ini hanya berlaku tiga hari sejak dilakukan pemeriksaan. Contohnya, Lion Air sempat membukukan ada 108 penumpang yang akan terbang. Tapi hanya 14 orang yang berhasil berangkat. Karena hasil rapid test-nya sudah tidak berlaku. Sudah lebih dari tiga hari,” beber General Manager (GM) Bandara Adi Soemarmo Yani Ajat Hermawan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Rencananya, biaya rapid test tidak akan lebih dari Rp 290 ribu. Karena bukan profit oriented, maka biaya ini diklaim murah. Yani menyebut rute favorit Bandara Adi Soemarmo masih Solo-Cengkareng. Apalagi selama pandemi Covid-19, beberapa rute lainnya ditutup sementara.

“Saat ini hanya ada beberapa rute aktif. Yaitu, Solo-Cengkareng, Solo-Pontianak, dan Solo-Palembang. Beberapa maskapai juga belum ada rilis untuk terbang lagi. Sampai akhir Juni belum ada penerbangan. Maskapai masih merasa berat karena load factor dan jumlah penumpang belum stabil. Sebab kelengkapan berkas yang harus dipenuhi calon penumpang," jelasnya.

Sampai bulan ini, jumlah penumpang masih di angka 30-40 orang. Dua hari terakhir, Yani mengaku ada peningkatan jumlah penumpang sampai 90 orang. Jika dirata-rata, tiap penerbangan berisi 50-69 penumpang per hari. Dengan empat pesawat yang beroperasi, maka jumlah penumpang harian mencapai 200 orang.

“Penumpang disarankan datang tiga jam sebelum penerbangan. Dengan membawa dokumen protokol kesehatan Covid-19. Kalau sudah sampai di bandara akan verifikasi dokumen tersebut. Baik dari pihak airlines dan KKP. Baru kemudian mereka bisa naik terbang. Dikhawatirkan ada antrean saat verifikasi berkas, maka tiga jam sebelum penerbangan sudah harus stand by di bandara," sambungnya.

Sementara itu, selama pandemi ini terjadi penurunan yang cukup tajam pada jumlah penerbangan maupun penumpang di Bandara Adi Soemarmo. Yani mencatat untuk jumlah pesawat turun 95,94 persen dan jumlah penumpang turun 98,79 persen.

Penurunan jumlah pesawat maupun penumpang sudah terjadi sejak awal tahun hingga saat ini. Pada Januari jumlah pesawat yang terbang melalui Bandara Adi Soemarmo sebanyak 1.124 maskapai dengan 130.034 penumpang. Pada Februari, jumlah pesawat turun menjadi 1.207 maskapai dan jumlah penumpang turun menjadi 124.959 orang. Angka ini kembali turun pada Maret, yaitu 866 pesawat dengan 15.860 penumpang. "Dan Mei hanya melayani 30 pesawat dengan jumlah penumpang 489 orang,” tandasnya. (aya/bun/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia