alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Kredit Macet Bank Umum di Solo Naik, Ini yang Jadi Pemicunya

19 Juni 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (JawaPos.com)

Share this      

SOLO – Angka kredit macet bank umum di Solo dan sekitarnya meningkat. Penyebabnya disumbang oleh salah satu debitur yang sejak medio tahun lalu mengalami pemburukan keuangan.

“Berdasarkan data NPL (kredit macet) bank umum masih di atas 10 persen. Untuk posisi April NPL sebesar 10,43 persen atau meningkat jika dibandingkan April 2019 sebesar 2,31 persen,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Surakarta Eko Yunianto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Meski enggan menyampaikan nama perusahaan, Eko menyebut kenaikan NPL ini mayoritas disumbang oleh salah satu debitur. Untuk nominalnya cukup besar sehingga berdampak pada NPL secara keseluruhan terhadap perbankan di Surakarta.

“Keuangan salah satu debitur ini mengalami pemburukan mulai Agustus tahun lalu, sehingga berpengaruh terhadap NPL sekarang,” ungkapnya.

Kendati demikian, angka kredit macet ini turun jika dibandingkan dengan Maret 2020, yaitu sebesar 10,58 persen. Sedangkan dari sisi nominal, OJK mencatat pada Maret angka kredit macet sebesar Rp 8,8 triliun dan pada April turun menjadi Rp 8,59 triliun.

“Angka kredit macet di Solo dan sekitarnya masih di atas Jawa Tengah sebesar 4,96 persen. Meski NPL Jawa Tengah lebih baik, angka ini memburuk jika dibandingkan dengan Maret sebesar 4,82 persen,” sambungnya.

Sementara itu, dari sisi angka kredit bank umum di Solo dan sekitarnya pada posisi April 2020 mencapai Rp 82,37 triliun dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp62,08 triliun. Sedangkan untuk loan to deposit ratio (LDR) di atas 100 persen, tepatnya di angka 114,28 persen.

“Sedangkan untuk total kredit yang disalurkan di Jawa Tengah pada periode yang sama sebesar Rp 295,47 triliun. Kami mencatat secara year on year (yoy), untuk angka kredit bank umum ini tumbuh sebesar 5,97 persen. Meski demikian, secara year to date, angka kredit ini turun sebesar 0,20 persen,” imbuhnya.

Hingga saat ini industri jasa keuangan (IJK) masih terus melakukan restrukturisasi kredit sebagai dampak dari lesunya perekonomian akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data, sampai pada 10 Juni 2020 seluruh industri jasa keuangan di Solo dan sekitarnya melakukan restrukturisasi kredit kepada sebanyak 201.660 debitur. “Kalau untuk outstanding kreditnya sebesar Rp14,59 triliun,” ujarnya. (aya/bun/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia