alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Lebih Dekat dengan Sri Rejeki, Istri Anggota DPRD Wonogiri Joko Lelur

Libatkan Difabel Bikin Menu Botok Telur Asin

19 Juni 2020, 11: 06: 44 WIB | editor : Perdana

TELATEN: Sri Rejeki membungkus bahan botok telur asin, Kamis (18/6).

TELATEN: Sri Rejeki membungkus bahan botok telur asin, Kamis (18/6). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

Pandemi Covid-19 mendorong sejumlah elemen lebih kreatif. Tidak ketinggalan Sri Rejeki. Dia membuat menu tradisional botok telur asin dengan melibatkan sejumlah difabel.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

PEREMPUAN berkerudung tampak luwes membungkus sesuatu menggunakan daun pisang di salah satu rumah di Dusun Manggis RT 01 RW 11, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, kemarin. Setelah itu, dia menusukkan lidi agar bungkusan daun pisang tersebut tertutup rapat. Berlanjut memasukkannya ke dalam dandang untuk dikukus.

Itulah sekelumit tahapan pembuatan botok telur asin inovasi Sri Rejeki. Dia mengaku mendapat ide membuat menu tersebut secara spontan. "Awalnya iseng. Setelah saya cicipi bersama suami, ternyata rasanya enak. Lalu terpikir untuk coba menjualnya," jelasnya. 

Semua bahan yang digunakan membuat botok mudah ditemui. Seperti tahu, santan, cabai, dan bumbu alami lainnya. Ditambah telur asin mentah yang menjadi ciri khasnya. 

Bahan-bahan tersebut dipesan Jeki, sapaan akrab Sri Rejeki lewat aplikasi perpesanan kepada pedagang. Itu guna mematuhi anjuran pemerintah untuk lebih banyak beraktivitas di rumah. 

Untuk daun pisang, lanjutnya, dibeli dari para tetangga. Tujuannya sedikit banya membantu mereka yang terdampak pandemi. Promosi menu hanya dilakukan via WhatsApp kepada sejumlah kolega. 

"Banyak yang penasaran. Orang-orang kan tahunya telur asin matang. Ini dibuat botok," jelas istri anggota DPRD Wonogiri Joko Prayitno atau akrab disapa Joko Lelur ini.

Agar lebih menggugah selera, botok dibuat dengan tingkat pedas berbeda. Mulai dari tidak pedas, sedang, hingga sangat pedas. Untuk mendapatkan botok tersebut harus pesan terlebih dahulu. 

Dalam sehari, Jeki bisa mendapatkan 300 bungkus botok yang dijual Rp 6.000 per bungkus. Proses memasak dilakukan mulai pukul 03.00 agar pagi harinya bisa segera diambil pemesan. "Paling tidak jam 06.00 sebanyak 100 pesanan harus siap diambil," jelasnya. 

Pembeli botok berasal dari beragam kalangan. Mulai dari para tetangga, kolega di Solo dan Jogja, hingga pedagang telur asin mentah yang menyetor telur ke Jeki.

"Dari testimoni yang saya dapat, katanya enak. Kebanyakan pesan lagi. Juga tidak amis. Sekarang malah ada reseller-nya, 16 orang," tuturnya. 

Karena ikut penasaran, Jawa Pos Radar Solo ikut mengicipi botok telur asin itu. Tak heran menu tersebut digemari karena rasanya nendang. Meskipun memakai telur asin, tidak amis.

Karena pesanan terus berdatangan, Jeki melibatkan empat orang untuk membantunya memasak. Salah satunya adalah penyandang tuli. "Setidaknya saya bisa berbagi rezeki dengan mereka. Reseller saya beri harga khusus. Kan ini juga bisa membantu mereka," paparnya. (al/wa)

(rs/it/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia