alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Lapangan Pamedan Yang Tinggal cerita

21 Juni 2020, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PENUH KENANGAN: Suasana pamedan Pura Mangkunegaran yang saat ini tak ada lagi lapangan sepak bola disana.

PENUH KENANGAN: Suasana pamedan Pura Mangkunegaran yang saat ini tak ada lagi lapangan sepak bola disana. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kota Solo memiliki banyak sarana lapangan sepak bola yang digunakan oleh masyarakat. Hampir di tiap kecamatan memiliki banyak lapangan representatif yang rutin digunakan setiap harinya.

Namun di luar sisi tersebut, ternyata ada juga lapangan-lapangan lawas, yang ternyata saat ini keberadaannya hanya tinggal cerita. Diantaranya adalah lapangan di Pamedan Mangkunegaran. Sejak sebelum Indonesia merdeka, ada fasilitas lapangan yang bisa digunakan masyarakat Kota Bengawan untuk berolahraga di kawasan cagar  budaya.

“Lapangan di Mangkunegaran tidak ada rumputnya, tapi kalau main yang nonton banyak sekali,” ucap legenda Persis Solo Hong Widodo.

Hal tersebut diamini mantan pemain Persis era 1960an-1977 Frans Setiabudi. Dia mengakui bahwa Lapangan Pamedan hanya pasir dan tandus. Walau begitu di zaman dulu lapangan ini jadi rujukan utama pemain-pemain potensial untuk berlatih, dan masyarakat yang ingin mencari hiburan menonton pertandingan sepak bola di sore hari.

“Zaman saya masih jadi pemain Persis, lapangan Pamedan sering sekali saya gunakan. Kalau Persis latihannya selalu di Sriwedari, namun saat saya main dengan tim TNH yang sebagain besar pemainnya tionghoa, kami main di lapangan ini (Pamedan) seminggu dua kali,” terang pria yang akrab disapa Wewek tersebut.

Dia mengakui bahwa lapangan Pamedan mulai hilau sekitar pertengahan tahun 1970an. Saat dia pensiun di dari Persis tahun 1977, lapangan ini sudah sepi dari aktivitas olahraga. “Lapangan tidak dibangun lagi karean dibangun hotel Mangkunegaran. Hotelnya akhirnya bubar dan jadi lahan mangkrak, sampai dimanfaatkan jadi lahan parkir,” ujarnya yang ikut membawa Persis menjadi juara perserikatan zona Jateng musim 1968/1969 tersebut.

Wewek mengakui TNH kala itu tak hanya menggunakan lapangan di Pamedan. “Kalau tidak salah TNH kala itu main di Pamedan setiap hari Senin dan Rabu. Hari lainnya digunakan klub lokal lainnya. Kalau tidak salah juga, HWM ikut latihan di Pamedan. Selain di Pamedan, kami (TNH) juga latihan di lapanganlain. Seperti di Kartopuran, Cengklik dan Sriwaru. Setelah Pamedan gak bisa digunakan lagi, akhirnya TNH pindah ke lapangan di timur Solo Square, yang kini lapangan itu juga sudah tidak ada,” ujarnya

Wewek mengakui tak hanya Pamedan dan lapangan di timur Solo Square yang kinihanya tinggal cerita. Ada beberapa lapangan lainnya juga yang kini sudah berpindah wajah.

”Yang sekarang jadi bangunan Korem dulunya adalah lapangan bola. Di Penumping, tepatnya di belakangan kantor kecamatan (Laweyan) dulu juga sempat ada lapangan sepak bolanya,  tapi semua lapangan itu, tahun1970an sudah gak ada lagi,” terangnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia