alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Sambangi Tempat Kelahiran Pasoepati, Bejo Rindu Pelita Solo

23 Juni 2020, 15: 26: 39 WIB | editor : Perdana

Listiyanto Raharjo menunjukkan gawang PSIS Semarang dikepung Pasoepati saat laga melawan Pelita Solo di Stadion Manahan.

Listiyanto Raharjo menunjukkan gawang PSIS Semarang dikepung Pasoepati saat laga melawan Pelita Solo di Stadion Manahan. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Di era Galatama dan awal Liga Indonesia, sempat muncul klub besar bernama Pelita Jaya. Klub asal Jakarta ini, ternyata sempat dua musim pindah ke Solo. Tepatnya di musim Divisi Utama 1999/2000 hingga 2000/2001. Saat itu namanya pun berganti jadi Pelita Solo.

Palang pintu terakhir di tim ini adalah Listiyanto Raharjo, atau yang akrab disapa Bejo. Kemarin (22/6), mantan kiper Timnas Indonesia tersebut menyambangi sesepuh sekaligus pendiri suporter Pasoepati, Mayor Haristanto di Kampung Nayu, Nusukan, Kota Solo. Kebetulan lokasi ini lah tempat Pasoepati bediri pada 2000.

“Saya ikut bangga saat Mas Mayor datang ke Kick Andy. Dia menjelaskan bahwa Pasoepati itu awalnya berdiri bukan untuk Persis Solo yang saat ini mereka bela, namun berdiri karena adanya Pelita Solo. Kepanjangan  Pasoepati sendiri awalnya memang Pasukan Suporter Pelita Sejati. Ini sejarah, dan saya jadi bagian dari klub yang jadi kebanggaan Pasoepati kala itu,” ujar Listianto.

Ketika ditanya soal memori manis saat Pelita bermarkas di Stadion Manahan, ada salah satu aksi Pasoepati yang tak mungkin dia lupakan.

“Jadi sebelum pertandingan, MC menyebutkan nama susunan pemain. Saat nama saya diumumkan, ini posisi penjaga gawang, Listianto Raharjo dengan nama, tinggi. Langsung disambut ribuan Pasoepati dengan ungkapan 'Bejo...Bejo...Bejo... Wu!'. Itu saya dengar ikut merinding tiap kali diumumkan,” terangnya yang kini jadi pelatih kiper PSS Sleman di Liga 1 2020.

Sejak masih jadi pemain Pelita Solo hingga hari ini, kiper yang dikenal karena main menggunakan topi ini ternyata belum sekalipun menyambangi markas Pasoepati.

“Saya ke sini karena ingin mengenang masa-masa manis puluhan tahun yang lalu tersebut. Kebetulan adanya pandemi Covid-19, latihan PSS diliburkan. Dan lagian saya tinggal di Solo juga saat ini,” terangnya.

Jika ditanya soal momen-momen bersama Pelita, Listianto mengakui banyak laga penting yang tak bisa dilupakan. Di antaranya laga kontra PSIS Semarang di Stadion Manahan dan kontra PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida.

"Kita melawan dua tim terbawah klasemen akhir. PSIS sebenarnya menentukan, tapi mereka kalah di Solo dan terdegradasi. Saat itu Manahan penuh sesak. Kalau di markas PSIM, tim ini sudah pasti terdegradasi. Dan di sini ribuan Pasoepati memerahkan Mandala Krida. Suporter PSIM sedikit dan pilih keluar lebih cepat. Tapi ternyata suporter PSIM melempar Pasoepati dari luar. Chaos kala itu, batu beterbangan," tuturnya. 

Mayor sendiri mengakui bahwa Pasoepati kala itu loyal terhadap Pelita Solo. Hampir di tiap laga selalu didukung. Bahkan Pasoepati rela melakukan tret-tet-tet ke beberapa kota untuk mendukung Pelita. 

“Saat itu Pelita banyak diisi pemain-pemain terbaik Indonesia. Hadirnya mereka memang membuat euforia suporter Solo tumbuh,” ujar Mayor. (nik/ria)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia