alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Perangkat Desa Tanon Isolasi Diri di Kuburan, usai Rapid Test Reaktif

24 Juni 2020, 12: 13: 05 WIB | editor : Perdana

Dawam saat menjalani isolasi madiri di pemakaman umum Dusun Bangle.

Dawam saat menjalani isolasi madiri di pemakaman umum Dusun Bangle. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Cara isolasi mandiri yang dilakukan salah seorang perangkat Desa Tanon, Kecamatan Tanon bernama Dawam, 52, ini temasuk beda dan cukup menguji nyali. Setelah di-rapid test dengan hasil reaktif, anggota satgas Covid-19 tingkat desa itu memilih mengisolasi diri di kuburan. Saat ini, dia telah keluar dari pengisolasian diri setelah hasil tes swab keluar dan ternyata negatif Covid-19.

Dawam mengisolasi diri di area pemakaman selama satu pekan, yakni usai menjalani rapid test hingga keluar hasil tes swab yang memastikan dia negatif Covid-19. ”Sudah sekitar seminggu lalu (isolasi diri). Terus dilakukan swab test, hasilnya Alhamdulillah negatif. Jadi akvifitas seperti biasa lagi,” ujar Dawam kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Dawam memilih makam  sebagai tempat isolasi mandiri dengan alasan bisa lebih tenang dan nyaman. Selain itu, suasana yang sepi jauh dari keramainan. Dengan menyepi di kuburan, dia bisa menjaga jarak sementara dari keluarga dan orang banyak.

Lantas, dia memutuskan lokasinya di pemakaman Dusun Bangle. Pertimbangannya,  jarak makam itu tidak jauh dari rumah. Selain itu, ada tempat seperti pendapa yang memungkinkan untuk dipakai tidur. ”Tempatnya ada tutupnya, tidak di luar, semacam pondokannya itu,” bebernya.

Dawam mengaku tidak takut maupun khawatir. Karena sudah biasa. Kuburan bukan tempat  yang menyeramkan baginya. Justru karena sepi, dia bisa tenang merenung. ”Bisa mendekatkan diri pada Allah. Kalau malam sesekali ada suara burung hantu, tapi ya wajar saja,” ujarnya.

Untuk kebutuhan logistik sehari-hari selama isolasi mandiri, istrinya lah yang mengantar. ”Sehari kadang dua kali. Ada juga kemarin teman-teman perangkat ngirim pisang dan rokok. Di tempat isolasi saya juga mengomsumsi vitamin yang diberikan dokter,” ungkapnya.

Dia pun teringat saat baru selesai rapid test dan hasilnya reaktif, perasaannya serasa campur aduk. Kaget dan khawatir. Namun, Dawam akhirnya menganggap hasil itu cukup wajar karena dia merupakan bagian dari satgas Covid-19 desa. Selain itu, kondisi fisiknya cukup lelah karena berkeliling untuk melakukan sosialisasi ke warga.

Bahkan, Dawan mengaku kerja lebih keras setelah ada kabar enam orang warga Kecamatan Tanon dinyatakan positif Covid-19 dari klaster Pasar Kobong Semarang.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Tanon Lukman Hakim membenarkan ada salah satu perangkat desanya yang sempat melakukan isolasi mandiri di pemakaman umum.  Dia menyatakan, isolasi mandiri itu dipilih sendiri oleh perangkatnya. ”Satgas kita itu saat dilakukan rapid test dinyatakan reaktif, lalu  dia menghindari kerumunan maupun keluarga.  Itu inisiatif sendiri dari Pak Dawam, mungkin sudah terbiasa sendiri,” jelas Lukman.

Hingga saat ini Tanon masih menjadi kecamatan paling tinggi positif Covid-19. Berdasarkan update situasi Covd-19 Sragen per Selasa (23/6), ada delapan kasus positif di Tanon. Di antaranya dari klaster Pasar Kobong.

”W arga kami sudah semakin mematuhi protokol pencegahan Covid-19. Kegiatan pengajian, yasinan, dan kumpulan RT saat ini sementara berhenti,” pungkas Lukman. (din/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia