alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Hari Terakhir PPDB, Banyak Nama Calon Peserta Didik Tiba-Tiba Hilang 

26 Juni 2020, 10: 27: 51 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi

Share this      

SOLO - Beberapa daftar calon peserta didik (CPD) sempat hilang di hari terakhir penerimaan peserta didik baru (PPPDB) SMA/SMK, kemarin (25/6). Banyak wali murid yang melapor 10:24:56ke sekolah. Di sisi lain, pihak sekolah juga sempat waswas jika kuota CPD tidak terpenuhi. 

Ketua panitia PPDB SMAN 4 Surakarta Nanang Inwanto mengatakan, daftar CPD sempat berubah. Bahkan ada tiga nama CPD jalur perpindahan orang tua yang hilang. Pihaknya lantas dihubungi wali CPD yang bersangkutan. Karena berkaitan dengan server PPDB, Nanang mengaku telah menghubungi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng untuk perbaikan. 

"Di hari terakhir PPDB, server sempat tidak stabil lagi. Ada beberapa masyarakat yang melapor ke sekolah karena nama anaknya hilang. Pihak sekolah juga waswas kok kuota pendaftarnya bisa hilang," terang Nanang. 

Di hari terakhir PPDB, masih ada CPD yang mendaftar. Sekolah juga masih perlu melakukan verifikasi data lagi. Karena sebagian CPD yang baru mendaftar belum dilakukan verifikasi. Sampai hari terakhir ada empat CPD dengan surat keterangan domisili (SKD) yang diverifikasi. Dan ditemukan dua yang terindikasi bermasalah. 

"Ini kami masih menunggu CPD untuk konfirmasi data. Ya, ini kan hari terakhir PPDB harusnya server bisa lebih stabil. Kalau sampai data CPD hilang, bukan hanya masyarakat yang khawatir, namu juga sekolah," katanya. 

Hal serupa juga diamini Kepala SMAN 1 Surakarta Harminingsih. Perubahan nama CPD yang hilang sempat membuat panik pihak sekolah. Beruntung, menjelang sore, server PPDB sudah normal kembali.

"Sempat ikut panik juga karena ada beberapa orang tua yang menelepon sekolah. Banyak banyak data yang tiba-tiba hilang," terangnya. 

Pihak sekolah juga terus melanjutkan proses verifikasi dan konfirmasi data. Setidaknya, ada 42 temuan yang harus diverifikasi dan konfirmasi. Di mana 15 temuan itu di antaranya terkait SKD, persoalan piagam, salah mengunggah dokumen, dan lainnya.

Meski demikin, dari 15 SKD tidak ditemukan SKD aspal alias memenuhi syarat. "Ada juga kasus SKD karena ketidakpahaman orang tua. Harusnya cukup KK saja yang diunggah, tapi ditambah SKD. Jadi kami minta diunggah ulang untuk KK saja," katanya. 

Terpisah, Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Wilayah VII Disdikbud Provinsi Jateng Suyanta mengatakan, SMAN 4 Surakarta menduduki CPD dengan SKD yang terbanyak. Disusul SMAN 1 Surakarta, SMAN 3 Surakarta dan juga mungkin SMAN 2 Surakarta. Menurut Suyanta, hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan SKD. 

"Saya melihat ini kurangnya pemahaman masyarakat. Ditambah masa pandemi ini kegiatan sosialisasi kurang. Jadi yang harusnya cukup KK, malah ditambah SKD. Atau KK berubah karena daerah pemekaran kurang dari 1 tahun, anggota keluarga berubah dan sudah domisili lama tetapi KK luar daerah. Sayangnya, masih banyak juga yang memanfaatkan celah untuk kecurangan," terangnya. 

Suyanta melihat adanya indikasi kecurangan karena wali murid terlalu memaksakan diri. Orang tua cenderung memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu. Alhasil mereka justru memanfaatkan celah tersebut untuk berbuat tidak jujur. Suyanta melihat masih ada stigma orang tua pada sekolah favorit tertentu. 

"Karena ini (PPDB berbagai jalur, Red) untuk pemerataan siswa yang ditekankan pendidikan karakter siswa. Dan jangan sampai lupa. Jika ditemukan kecurangan, CPD akan dikeluarkan bahkan akan dilaporkan," katanya. 

Selain itu, banyak keluhan terkait server PPDB yang kembali error. Tidak dimungkiri, hal tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan sekolah. Suyanta menganjurkan agar wali murid tidak perlu panik dan melapor ke Cabdin Wilayah VII. Pihaknya akan meneruskan pada provinsi. 

"Kami atas nama Cabdim wilayah VII Disdikbud Jateng minta maaf pada masyarakat karena pada aplikasi kami ada maintance (perbaikan). Karena ada wilayah-wilayah yang belum masuk dalam zonasi lalu kami tambahkan. Dan itu membuat data berubah meski nanti akan kembali lagi," ungkap Suyanta.

Akibat perbaikan tersebut beberapa data CPD sempat hilang dari daftar. Seperti nama yang tiba-tiba hilang sampai kesalahan penambahan atau pengurangan nilai pada jalur zonasi prestasi. "Semua sudah diperbaiki. Tidak lama kok. Selain itu sampai Jumat verifikasi dan konfirmasi data masih dilakukan tiap sekolah," katanya. (rgl/ria)




(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia