alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Wonogiri Zona Hijau, Bupati Jekek: Sekolah Bisa saja Offline

26 Juni 2020, 11: 28: 53 WIB | editor : Perdana

Kegiatan belajar mengajar di salah satu SMP di Kecamatan Selogiri sebelum pandemi Covid-19.

Kegiatan belajar mengajar di salah satu SMP di Kecamatan Selogiri sebelum pandemi Covid-19. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI - Gugus Tugas Covid-19 Nasional mengumumkan bahwa Wonogiri termasuk dalam 38 wilayah zona hijau yang mampu meredam persebaran Covid-19. Di Jawa Tengah, Wonogiri bersama Pekalongan disebut sebagai zona hijau.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengatakan, perubahan status dari zona kuning ke zona hijau akan ditindaklanjuti dengan adanya koordinasi lintas sektor di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wonogiri.

"Akan kita analisis dulu. Nanti setelah ada rekomendasi dari gugus tugas, akan kita gunakan untuk pijakan kebijakan apa yang akan kita ambil," ungkapnya, kemarin.

Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah bagaimana agar status zona hijau bisa terus dipertahankan. Caranya, dengan membangun kesadaran kolektif tentang protokol kesehatan yang akan diperkuat lagi.

"Akan kita gaungkan apa itu new normal dan budaya baru. Kita beraktivitas berdamai dengan Covid-19. Berdamai ini artinya terbangun kesadaran kalau sampai hari ini pagebluk belum berakhir," papar bupati yang akrab disapa Jekek itu.

Bupati mengatakan, disebutnya Wonogiri sebagai zona hijau adalah kerja keras semua lini. Termasuk masyarakat Wonogiri. Oleh karena itu, dia mengapresiasi warga yang taat dalam menjalankan protokol kesehatan dan tidak boleh lengah agar bisa terhindar dari Covid-19.

Apakah dengan status zona hijau ini Wonogiri akan menerapkan new normal? Jekek mengatakan, diraihnya zona hijau tak berarti bisa gegabah dalam mengambil sikap.

"Zona hijau iya, capaian bersama. Tapi kami dikepung oleh kabupaten lain yang kondisinya memprihatinkan. Tidak kita respons Wonogiri new normal tidak, ini jadi evaluasi bagi kita," bebernya.

Pihaknya akan melakukan pengecekan tingkat ketertiban warga dalam menerapkan protokol kesehatan di ruang publik, seperti pasar tradisional. Keputusan new normal saat ini belum bisa ditentukan hingga hasil kajian sudah keluar.

"Zona hijau ini fluktuatif, kalau euforia oh ini sudah normal padahal sekitar kita seperti itu, lalu masyarakat lengah kan sangat fluktuatif sekali. Bisa kembali ke zona kuning," kata Jekek yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Wonogiri ini.

Bagaimana dengan pelaksanaan pendidikan di zona hijau? Jekek mengatakan, semisal mengikuti aturan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penyelenggaraan pendidikan bisa saja dengan tatap muka.

"Kalau kita ikuti kebijakan dari kementerian, offline bisa diselenggarakan bagi wilayah di zona hijau," kata dia.

Diakui dia, tidak ada evaluasi yang besar terkait dengan sistem study from home. Bahkan sampai hari ini tidak ada evaluasi yang memuaskan. "Kami membaca kalau zona hijau bisa menggelar pendidikan offline. Tapi ini bisa menimbulkan perdebatan," ujar dia.

Jekek berpendapat, penyelenggaraan pendidikan bisa dibagi. Artinya, siswa yang masuk bisa diatur jumlahnya. "Yang masuk pagi berapa persen, siang berapa persen dan yang online berapa persen, digilir. Jadi tatap muka bisa berjalan, opsi belajar daring bisa berjalan," jelasnya.

Dengan begitu, kualitas pendidikan akan tetap terkontrol. Pembelajaran tatap muka bisa digelar ketika penerapan protokol kesehatan dilakukan secara ketat.

"Kedisiplinan kalau bicara pendidikan, anak-anak kita lebih patuh dibandingkan masyarakat di luar dunia pendidikan," pungkas Jekek. (al/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia