alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

OJK Pastikan Krisis Pandemi Ini Tak Akan Berujung Krisis Keuangan

26 Juni 2020, 17: 51: 42 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (JawaPos.com)

Share this      

SOLO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen mengurangi kerugian ekonomi Indonesia imbas pandemi Covid-19. Yakni dengan menstabilkan sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, dan sektor jasa keuangan lainnya. 

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Wimboh Santoso dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS).

"Di awal pandemi langsung direspons negatif oleh para investor global. Mereka sudah memprediksi bila hal ini akan berdampak langsung terhadap pengusaha yang mengeluarkan surat utang atau sahamnya di pasar modal. Ini menyebabkan investor outflow terjadi. Walau sektor riil masih oke, tapi sentimen negatif sudah muncul di seluruh dunia. Akhirnya, para investor menjual sahamnya dan dialihkan ke emas," beber Wimboh yang juga Guru Besar Tidak Tetap bidang Ilmu Manajemen Risiko Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UNS, kemarin.

Sentimen negatif tersebut sempat dirasakan Indonesia dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret lalu. Dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terjadi trading halt selama 30 menit sebanyak dua kali karena kemerosotannya lebih dari 5 persen.

"Tujuannya sebagai langkah preventif dalam mengurangi fluktuasi tajam di pasar modal. Paling parah dampakya di Maret. IHSG Indonesia yang biasanya di atas Rp 6 ribu menjadi di bawah Rp 4.500 karena sentimen negatif di pasar modal, sehingga dampak ini yang pertama kita rasakan. Kalau kondisi normal saham akan di-stop perdagangannya di level 7 persen, tapi kita mengambil kebijakan auto rejection 5 persen agar penurunan tidak begitu cepat," urainya.

Dalam webinar tersebut, Wimboh memastikan bila krisis akibat pandemi Covid-19 tidak akan menjalar menjadi krisis lainnya dengan terus menjalin komunikasi yang intens bersama pemangku kepentingan lainnya. Seperti menteri keuangan (menkeu), Bank Indonesia (BI), dan sektor jasa keuangan. Dia percaya masyarakat tidak akan panik. 

"Aman, krisis pandemi ini tidak akan menjadi krisis keuangan karena kita mitigate dengan kebijakan-kebijakan yang terukur, transparan, dan mudah diimplementasikan," tandasnya. (aya/wa/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia