alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Sudah 70 Persen, Persiapan Wonogiri untuk Buka Sekolah Kembali

27 Juni 2020, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Aktivitas murid di perpustakaan sekolah ketika Covid-19 belum mewabah.

Aktivitas murid di perpustakaan sekolah ketika Covid-19 belum mewabah. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Menyusul penetapan Wonogiri sebagai zona hijau Covid-19, pemerintah setempat mulai menyiapkan kebijakan untuk mengembalikan geliat masyarakat. Termasuk di bidang pendidikan.

"Sesuai instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dimulainya kegiatan belajar mengajar tatap muka (di zona hijau) merupakan kebijakan masing-masing daerah. Harus terpenuhi sarana prasarana sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19," urai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri Yuli Bangun Nursanti, kemarin (26/6).

Ditegaskan Yuli, delapan standar nasional pendidikan (SNP) juga harus dipersiapkan dengan matang, yakni standar kompetensi lulusan, isi, proses, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.

Terkait kesiapan Wonogiri menerapkan protokol kesehatan bidang pendidikan, diakui dia, sudah mencapai 70 persen. “Target kami tetap 100 persen. Ini menunggu RKAS (rencana kegiatan anggaran sekolah). Sisanya menunggu prosedur perubahan dari RKAS," jelasnya.

Menurut Yuli, tidak ada sekolah percontohan penerapan protokol kesehatan. Saat ini setiap sekolah sudah memiliki tempat mencuci tangan, thermogun untuk mengukur suhu tubuh, dan sarana pendukung lainnya.

Kabid Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Retno Puspitorini menambahkan, evaluasi pembelajaran dengan cara dalam jaringan (daring) sejak Maret hingga Juni sudah dilaporkan ke bupati. "Ada beberapa kendala terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kami menemukan fakta 92 persen PJJ masih menggunakan penugasan struktur melalui grup WA (WhatsApp). Baik dengan anak-anak langsung atau wali murid," ungkapnya. 

"Yang jadi kendala itu sinyal (internet), apalagi di Wonogiri dibanding daerah lain se eks Karesidenan Surakarta mungkin yang paling berat. Kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi kendala. Prinsipnya, kami tidak boleh menuntut siswa terkait pemenuhan kurikulum layaknya kondisi normal. Yang diutamakan kesehatan dan keselamatan anak-anak," imbuh dia.

Retno mengaku sudah mengajukan draf atau rencana pelaksanaan pembelajaran kepada bupati di tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli. Ada tiga skenario. Pertama, ketika diterapkan pembelajaran tatap muka, berarti sarana prasarana protokol kesehatan harus terpenuhi dan tida bisa ditawar. Termasuk pembagian sif pelajar masuk sekolah.

Skenario lain, apabila PJJ tetap dilakukan, disdikbud lebih fokus pada peningkatan kompetensi guru. Skenario ketiga adalah campuran antara pembelajaran tatap muka dan PJJ.

Ketua PGRI Wonogiri Mulyatno menuturkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait guna mempersiapkan guru-guru untuk mengajar di tengah pandemi. “Guru tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Justru nanti harus bisa menjadi contoh (bagi peserta didik)," ucapnya.

Terpisah, Sri Sundarini, salah seorang psikolog Kota Makmur menuturkan, orang tua harus bisa mengajari anak disiplin menerapkan protokol kesehatan. “Beri pengertian apa saja yang harus dilakukan ketika berada di lingkungan sekolah, bersosialisasi dengan guru maupun teman-temannya. Beri anak informasi positif agar tidak takut berlebihan dan berpikir hal-hal menyeramkan ketika berada di sekolah," beber dia.

Selain orang tua, para guru dituntut memberikan informasi dan edukasi terkait tata tertib di sekolah ketika pandemi. (al/wa/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia