alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Nostalgia Eks Striker Nasional Indriyanto Nugroho, Salut Suporter Solo

27 Juni 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Mantan penggawa Pelita Jaya Indriyanto Nugroho (kanan) bersama pendiri Pasoepati Mayor Haristanto.

Mantan penggawa Pelita Jaya Indriyanto Nugroho (kanan) bersama pendiri Pasoepati Mayor Haristanto. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

Namanya besar di Pelita Solo. Sosoknya selalu dielu-elukan Pasoepati. Ini tidak membuat Indriyanto Nugroho lupa daratan. Setelah pensiun dari pemain, dia memutuskan pulang kampung. Tapi bukan untuk bermain lagi, melainkan bernostalgia. 

NIKKO AUGLANDY, Solo, Radar Solo

PRIA berbaju hitam tampak berbincang santai sebuah rumah di Nayu, Nusukan, Banjarsari. Di dinding rumah ini terpajang foto-foto euforia Pasoepati mendukung Pelita Solo. Rumah ini milik Mayor Haristanto, salah satu pendiri Pasoepati. Di tempat inilah, 20 tahun silam, kelompok suporter ini berdiri.

“Wah, ini tim yang ikut membesarkan nama saya, Pelita Solo. Saat itu aura dukungan Pasoepati benar-benar gila. Di manapun mainnya pasti ada,” ujar pria tadi yang tak lain Indriyanto Nugroho, mantan penggawa Pelita Solo saat homeground di Stadion Manahan 1999-2001.

Pria yang akrab disapa Nunung tersebut mengakui bahwa euforia Pasoepati memang besar, bahkan sangat loyal. Ada foto besar terpajang, saat Pelita Solo melawan PSIS Semarang. Saat koran ini menunjuk foto tersebut, Nunung tak bisa banyak bercerita.

“Laga ini saya tak ikut dibawa ke Solo. Soalnya Pelita sudah pasti lolos (ke babak 8 besar Divisi Utama 1999/2000). Tapi saya jadi saksi saat Pasoepati hadir di markas PSIM dan Persebaya. Jumlahnya saat itu luar biasa sekali. Merinding saya kalau mengingat fanatisme mereka,” ujarnya.

Pasoepati terbentuk tak lama setelah Pelita Jaya—nama sebelum berganti menjadi Pelita Solo—yang aslinya klub Jakarta memutuskan bermarkas di Stadion Manahan. “Saat main di Jakarta, yang nonton sedikit. Begitu pindah ke Solo, sambutannya benar-benar gila. Stadion selalu penuh sesak. Bahkan kalau main sore di Manahan, jam 1 siang (pukul 13.00) tiket sudah susah didapat. Seluruh tribun sudah terisi penuh. Fanatisme memang membuat pemain ikut bangga," ujarnya.

Kemarin, dia memang khusus datang ke tempat ini untuk bernostalgia. Sambil berbincang dengan sang pemilik rumah Mayor Haristanto. “Kalau bicara jejak, Solo tak bisa dipisahkan. Saya tumbuh di Solo karena sempat menimba ilmu dengan PS Monas Putra, Diklat Arseto, dan sempat ikut Persis Solo di Piala Soeratin. Saya juga putuskan gantung sepatu, tak lama setelah membawa Persepam Madura United jadi juara tiga Divisi Utama 2003. Saat itu main di Stadion Manahan,” terangnya.

Namanya memang selalu dikenang dengan label Mister Cepek. Julukan ini muncul karena kegagalan Arseto Solo merekrut dirinya kala itu. Nunung lebih memilih untuk gabung dengan Pelita Jaya. Keputusan ini sama sekali tak membuat masyarakat Solo menaruh dendam kepadanya. Terbukti dia tetap jadi salah satu idola Pasoepati, saat Pelita pindah ke Solo di musim 1999-2001.  

Dia juga sempat berseragam Persijatim, lalu pindah memperkuat PSIS Semarang. Klub lain yang sempat dibelanya antara lain adalah Persik Kediri, Persih Tembilahan, Persekaba Blora, sampai akhirnya Indriyanto mengakhiri karier di Persepam Madura United.

Bila melihat Stadion Manahan, Pasoepati, dan Persis Solo, Nunung mengaku sangat berharap menyaksikan Persis lolos ke Liga 1. “Adanya fanatisme suporter yang cukup besar, lalu fasilitas stadion memadai, harusnya Persis bermain di kasta tertinggi. Saya kurang tahu problemnya apa. Tapi saya tetap berdoa semoga Persis bisa ada di posisi yang harusnya mereka tapaki,” harapnya. 

Meski sudah tidak menjadi pemain, Nunung tetap tidak bisa berpisah dengan dunia si kulit bundar. Kini tanggung jawabnya semakin besar setelah dipercaya menjadi asisten pelatih Timnas U-16. Tim ini akan terjun di ajang Piala AFC U-20 2020. Undian yang dilakukan pada Kamis (18/6), menempatkan pasukan Bima Sakti ini berada di grup D. Grup ini disebut-sebut merupakan grup neraka karena ada Tiongkok, Arab Saudi, dan Jepang. (*/bun/ria)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia