alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Ini Dia Pemain Berjuluk Mister Cepek

Sempat Dilempari Logam Rp 100

28 Juni 2020, 12: 45: 59 WIB | editor : Perdana

TEMU KANGEN: Indriyanto Nugroho saat menyambangi lokasi terbentuknya Pasoepati di daerah Nusukan, kemarin.

TEMU KANGEN: Indriyanto Nugroho saat menyambangi lokasi terbentuknya Pasoepati di daerah Nusukan, kemarin. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pernah dengar istilah Mister Cepek, tentu pecinta sepak bola pasti akan tertuju pada sosok bernama Indriyanto Nugroho. Ya, dia memang jadi sosok fenomenal di akhir 1990an dan awal 2000.

Namanya mencuat dan jadi buah bibir, karena keputusannya bergabung dengan  klub Pelita Jaya, setelah berguru di timnas Primavera. Dia tercatat sebagai pemain dengan nilai transfer termurah, yakni Rp 100. Dimana Arseto Solo dengan legawa melepas pemain binaannya tersebut, ke Pelita Jaya dengan dana tersebut.

“Jujur, saya sempat syok selama 2 tahun karena kasus tersebut. Selalu terngiang-ngiang di pikiran saya. tapi lambat laun akhirnya bisa saya lupakan juga. Arseto juga sudah lama bubar, dan kejadian tersebut sudah dilupakan banyak orang,” terang Indriyanto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Setelah pulang dari Italia menimba ilmu bersama PSSI Primavera selama dua tahun, 1996 silam, Nunung (sapaan akrab Indriyanto) memang sempat kembali latihan seminggu dengan Arseto. Namun sepanjang itu, dia mengakui menunggu kejelasan dari manajemen apakah dia bisa dipromosikan ke tim senior atau tidak.

“Karena ini bicara profesionalitas, harus ada hitam diatas putih. Tentu saya menanti sebuah kejelasan kala itu. Dan selama menunggu itu, mereka (Arseto) tak memberi kejelasan,” ujarnya.

Pada 29 Maret 1996, sepak bola Indonesia dikejutkan dengan transfer Indriyanto. Transfer tersebut menjadi kontroversial karena Pelita Jaya hanya mengeluarkan uang Rp100 untuk mendapatkan Indriyanto dari Arseto Solo.

“Karena saya komunikasi disini (manajemen Arseto) gak ada kelanjutan, jadinya saya putuskan tanda tangan (dengan Pelita Jaya). Gak lama berita Mister Cepek muncul, dan bikin geger. Itu yang membuat saya syok bacanya,” terangnya.

Wajar jika Nunung syok, angka tersebut merupakan nilai transfer paling murah di sepak bola Indonesia. Terlebih jika dibandingkan dengan nilai transfer saat ini yang kabarnya mencapai miliaran rupiah.

Usai kejadian tersebut, label Mister Cepek memang melekat pada pemain yang sempat berseragam Persis Solo junior di ajang Piala Soeratin 1992 tersebut.

“Saya sempat sering dilempari uang logam Rp 100. Itu terjadi bukan di Solo malahan, malah saat tim saya main di Padang, Medan, dan (stadion) Siliwangi juga dilempari uang logam. Tapi saya cuek saja. Saya balas dipermainan, dan kadang bisa bikin gol,” terangnya.

Sosok Indriyanto ternyata sama tak dibenci oleh masyarakat Solo. Itu terbukti dia jadi salah satu idola Pasoepati, saat Pelita pindah ke Solo di musim 1999-2001. Dia juga sempat berseragam Persijatim, lalu dengan PSIS Semarang. Klub lainnya yang sempat dibelanya antara lain adalah Persik Kediri, Persih Tembilahan, Persekaba Blora, sampai akhirnya Indriyanto mengakhiri karier di Persepam Madura United. 

Kini setelah gantung sepatu sebagai pemain pada 2013, Indriyanto yang pernah memperkuat Timnas Indonesia SEA Games 1995 dan Piala Asia 1996 mulai menekuni profesi sebagai pelatih di SSB Kabomania dan Kabomania FC. Dia juga tercatat sebagai asisten pelatih Timnas U-16 saat ini. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia