alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Gencarkan Sosialisasi, Anak Bawah 15 Tahun Dilarang ke Tempat Publik

29 Juni 2020, 08: 38: 19 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (IRECK OKTAVIANTO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Perubahan aturan di ruang publik untuk usia anak-anak kembali berubah. Saat ini, berbagai kalangan pun diminta segera menyesuaikan dan melakukan sosialisasi secara masif guna percepatan penanganan Covid-19 di Kota Solo.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta Ahyani membenarkan bahwa Pemkot Surakarta kembali menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Surakarta No. 067/1210 tentang Perubahan Kedua Atas Pedoman Teknis Pelaksanaan Penanganan Covid-19 di Kota Surakarta. Dalam perubahan kedua itu, salah satu poin yang paling kentara adalah berubahnya batasan usia anak untuk berada di ruang publik.

Jika sebelumnya pemkot melarang anak di bawah 5 tahun, kali ini standar larangan itu naik sampai usia 15 tahun. "Perubahannya dari sebelumnya larangan anak di bawah usia 5 tahun sekarang di bawah 15 tahun juga belum boleh berada di ruang publik, seperti ibu hamil dan para lansia yang juga masih dilarang," jelas Ahyani, kemarin.

Surat edaran itu pun dikirim ke berbagai kalangan, mulai dari pengelola tempat ibadah, tempat hiburan, rumah makan/resto/kafe, tempat kuliner, pusat perbelanjaan, gedung pertemuan/hotel, hingga pengelola lokasi wisata yang ada di Kota Solo. Harapannya imbauan ini diterapkan dengan tegas guna menekan penyebaran Covid-19.

"Perubahan ini dari hasil evaluasi kasus atau fenomena virus korona di Solo. Tiap pekan akan dievaluasi ulang sesuai perkembangannya. Sehingga akan sangat memungkinkan berubah atau diperpanjang. Kami minta semuanya ikut menyosialisasikan aturan ini," jelas Ahyani.

Untuk pengawasan, akan diperketat di sejumlah area yang berpotensi jadi pusat keramaian. Serta rutin melakukan giat operasi cipta kondisi bersama Satpol PP bersama TNI-Polri.

"Pengawasan lebih ketat, jangan sampai new normal menimbulkan ledakan pasien baru. Jadi harus benar-benar dikawal penerapannya," papar pria yang juga menjabatsekretaris daerah Kota Surakarta itu.

Sementara itu, terbitnya SE tersebut langsung direspons oleh seluruh kelurahan yang ada di Solo. Dengan menyebarluaskannya ke tingkat RT, RW, dan kelompok kemasyarakatan setempat. Salah satunya seperti yang dilakukan di Kelurahan Gandekan, Jebres.

"Kami sebarkan ke grup-grup komunikasi masyarakat, seperti PKK, RT-RW, potensi UMKM, SKD, KTI, sampai ke forum anak. Sementara kopian edaran resminya kami kirim ke ketua LPMK, ketua PKK, ketua RT-RW agar perubahan ini bisa segera disesuaikan masyarakat," kata Lurah Gandekan Arik Rahmadani. (ves/ria)


(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia