alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Polres Klaten Bekuk Sindikat Pembuat Uang Palsu, Total Setengah Miliar

29 Juni 2020, 20: 05: 06 WIB | editor : Perdana

Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu saat memberikan keterangan dan memperlihatkan barang bukti.

Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu saat memberikan keterangan dan memperlihatkan barang bukti. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Jajaran Polres Klaten berhasil membekuk pembuat dan pengedar uang palsu (upal) pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribudi Kecamatan Jatinom, Klaten, dan Salatiga, Kamis (25/6) lalu. Total ada tiga tersangka yang ditangkap dengan sejumlah barang bukti yang ikut diamankan.

Pengungkapkan sindikat pembuat dan pengedar uang palsu itu berawal dari laporan warga ke Polres Klaten. Pelapor merasa curiga dengan pelaku yang hendak menjual uang rupiah dengan perbandingan 1: 3. Pelaku memberikan iming-iming kepada calon korbannya, yakni dengan membeli Rp 1 juta akan diberikan Rp 3 juta.

Kemudian, diketahui salah satu tersangka bernama Nurcholik, 45, warga Kabupaten Pandeglang hendak bertransaksi uang palsu senilai Rp 94 juta dengan korbannya. Polisi pun langsung merespons dengan menanngkap dan memeriksa tersangka.

Dari tangannya didapat uang palsu sejumlah 1.701 lembar yang terdiri dari 179 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu tahun emisi 2014. Serta 1.522 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu tahun emisi 2005.

Kasus itu kemudian dikembangkan kepolisian dan diketahui bahwa uang palsu itu dibuat oleh tersangka lain. Yakni Adam Hermawan, 50, warga Sukabumi, Jawa Barat dan Totok Hermawan, 52, warga Muarabungo, Jambi. Pengejaran dilakukan hingga ke Salatiga. Di sana lah tempat pembuatan uang palsu yang hendak diedarkan di Klaten.

Dari rumah kontrakan di Salatiga itu ditemukan total 5.894 lembar uang palsu. Terdiri dari pecahan Rp 100 ribu emisi 2016 sebanyak 190 lembar. Kemudian, Rp 100 ribu emisi 2014 sebanyak 6 lembar serta Rp 50 ribu emisi 2005 sebanyak 3.270 lembar.

Ada pula uang rupiah palsu yang belum terpotong, antara lain 224 lembar pecahan Rp 100 ribu, dengan per lembarnya berisi Rp 100 ribu dikali enam. Kemudian, 271 lembar pecahan Rp 50 ribu, dengan per lembarnya berisi Rp 50 ribu dikali empat.

“Jadi total keseluruhan barang bukti uang palsu yang dibuat dan disimpan oleh ketiga tersangka berjumlah 7.595 lembar. Ada rupiah palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 5.876 lembar dan rupiah palsu pecahan Rp 100 ribu sebanyak 1.719 lembar, dengan total secara keseluruhan Rp 465.700.000. Kita juga mengamankan alat-alat dan bahan untuk membuat uang palsu tersebut,” jelas Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu, Senin (29/6).

Lebih lanjut dijelaskan Sitepu, tersangka pernah melakukan pembuatan uang palsu di Bandung, tapi belum pernah diedarkan. Termasuk di Semarang sudah dicetak dan diedarkan sebanyak Rp 15 juta. Terkait hal ini pihaknya terus melakukan penyidikan dan pengembangan.

Apakah pengedaran uang palsu ini juga memanfaatkan momen jelang Pilkada Klaten? Sitepu mengungkapkan, hal tersebut masih terus dilakukan penyidikan. Termasuk apakah tersangka juga membuat uang palsu di Klaten, hal itu masih terus dikembangkan.

Sitepu pun mengimbau kepada warga Klaten untuk tetap berhati-hati terhadap peredaran uang palsu. “Apabila ada yang mencurigakan menjual uang dengan perbandingan 1:2 maupun 1:3, maka segera laporkan ke kepolisian terdekat,” jelasnya.

Sementara itu, saat jumpa pers tadi tersangka tidak diperkenankan untuk memberikan keterangan kepada awak media.

Atas perbuatan yang dilakukan, tiga tersangka dijerat dengan ancaman Pasal 36 ayat (1), Jo ayat (2) Undang-Undang (UU) RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Ancaman hukumannya penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar. (ren/ria)







Para tersangka pembuat uang palsu saat digiring di Mapolres Klaten.

Para tersangka pembuat uang palsu saat digiring di Mapolres Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia