alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Berkaca Kasus Pembuatan Upal, Ini Penjelasan BI tentang Ciri Uang Asli

30 Juni 2020, 01: 40: 18 WIB | editor : Perdana

Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI Solo Purwanto saat menjelaskan perbedaan uang asli dengan palsu di Mapolres Klaten.

Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI Solo Purwanto saat menjelaskan perbedaan uang asli dengan palsu di Mapolres Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Terungkapnya pembuatan uang palsu (upal) oleh sindikat di Salatiga yang hendak diedarkan di Klaten menjadi perhatian penuh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo. Kasus ini menjadi laporan pertama dari kepolisian yang diterima BI Solo pada 2020.

Apalagi total pemalsuan uang mencapai hampir setengah miliar rupiah. Tepatnya senilai Rp 465.700.000, dengan lembaran rupiah palsu pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu.

“Kami sangat berterima kasih kepada Polres Klaten dalam mengungkap peredaran uang palsu ini. Jadi kalau kita melihat barang bukti yang diamankan ini, kualitasnya masih rendah. Terutama kertas yang digunakan karena masih belajar dan coba-coba,” jelas Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo Purwanto, Senin (29/6).

Purwanto mengharapkan kepada masyarakat untuk mewaspadai peredaran uang palsu saat melakukan transaksi. Kuncinya dengan 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang ketika menerima uang kertas.

Purwanto memberikan contoh, uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu yang berhasil diamankan Polres Klaten dari tangan tersangka, warnanya tidak terang. Padahal pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu asli yang baru dikeluarkan memiliki warna cerah. Perbedaan kecerahan warna ini patut jadi perhatian.

“Dalam uang kertas juga terdapat color shifting yang merupakan fitur pengamanan, yang apabila dilihat sudut pandang berbeda akan terjadi perubahan warna secara kontras. Sedangkan uang palsu ini tidak berubah warna, hanya dalam satu warna saja,” jelasnya.

Kemudian, saat uang kertas diraba terdapat cetakan timbul, terutama pada tulisan angka 100 akan terasa kasar. Pada uang asli juga terdapat garis di pinggir kertas sebagai blank code bagi tunanetra. Jika terdapat garis dengan dua baris, maka itu pecahan Rp 100 ribu, empat baris untuk Rp 50 ribu serta enam baris untuk pecahan Rp 20 ribu.

“Kemudian jika kita perhatikan dalam uang kertas terdapat logo Bank Indonesia, apabila kita terawang antara depan dan belakang sangat presisi. Mengingat pembuatannya sangat tepat sekali dan warnanya tidak boleh tumpuk antara depan dan belakang,” papar Purwanto.

Ditambahkan dia, dalam uang kertas terdapat tanda air yang jika diterawang bergambar pahlawan. Pembuatan tanda air pada uang kertas dilakukan dengan teknik khusus. Sedangkan untuk uang palsu yang diamankan itu hanya dicetak dengan sablon saja.

“Sebenarnya kalau kita menggunakan alat semacam ultraviolet dan kaca pembesar akan ditemuakan lebih luas lagi perbedaannya. Tapi bagi masyarakat luas, yang paling penting itu tetap 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang,” jelasnya.

Purwanto pun menyarankan kepada masyarakat yang hendak melakukan transaksi dengan jumlah besar, hendaknya perlu melibatkan perbankan. Hal itu guna menghindari dari tindak penipuan oleh orang atau pihak yang tak bertanggung jawab. (ren/ria)



(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia