alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

One Bermanuver, Golkar Kecewa Berat: Otomatis Kita Berpisah!

30 Juni 2020, 13: 22: 58 WIB | editor : Perdana

Wakil Ketua DPD II Parta Golkar Klaten Bidang Hukum dan HAM Triyono.

Wakil Ketua DPD II Parta Golkar Klaten Bidang Hukum dan HAM Triyono. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Manuver yang dilakukan Ketua DPC Partai Demokrat Klaten sekaligus bakal calon bupati One Krisnata dengan menggandeng kader PKS, Muhammad Fajri sebagai bakal calon wakil bupati membuat Partai Golkar kecewa dan sakit hati. Pasalnya, partai bergambar pohon beringin tersebut merasa tidak diajak berkomunikasi sebelumnya.

Sebagai informasi, Partai Golkar dan Partai Demokrat pernah melakukan penandatanganan kesepakatan koalisi pada akhir Februari lalu, dalam menyosong Pilkada Klaten 2020. Bahkan saat itu kader Partai Golkar Endang Srikarti Handayani digadang-gadang menjadi pendamping One.

“Kalau menurut saya, One berarti tidak konsekuen. Berarti menyepelakan Partai Golkar dengan adanya keputusan koalisi itu. Tentunya kami kecewa berat karena tidak diajak komunikasi hingga saat ini,” jelas Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Klaten Bidang Hukum dan HAM Triyono.

Dikatakan Triyono, pascadeklarasi One-Fajri (ORI) itu, pihaknya segera melaporkan ke DPD I Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah dan DPP Partai Golkar. Ia menegaskan, terbentuknya pasangan ORI membuat kecewa para kader Partai Golkar.

“Kalau One tidak konsisten, otomatis kita berpisah, tidak bisa dilanjutkan. Nantinya kita akan menggelar rapat harian dan pleno terlebih dahulu untuk langkah selanjutnya dari Partai Golkar. Karena keputusan partai kami diambil secara kolektif kolegial,” jelasnya.

Selain One-Fajri, saat ini pasangan yang telah terbentuk untuk mengarungi Pilkada Klaten ada Sri Mulyani-Aris Prabowo, diusung PDIP. Lalau, ada juga bakal calon bupati Arif Budiyono (ABY) yang digadang-gadang berpasangan dengan Harjanto yang diusung PAN, PKB, PPP, dan Nasdem.

Partai Golkar sendiri dipastikan tidak bisa mencalonkan diri karena hanya memiliki tujuh kursi. Menurut Triyono, masih ada potensi untuk bisa bergabung ke petahana maupun ABY setelah merasa ditolak oleh One. Meski begitu, dia menegaskan jika partainya tetap ingin menjadi pengusung, bukan pendukung.

“Apapun yang terjadi kita sebagai pengusung. Mengenai Bu Endang kemarin memang sudah kami tanyakan secara langsung jika yang bersangkutan tidak berkenan berpasangan dengan Pak One. Begitu juga Pak One tidak mau berpasangan dengan Bu Endang, sehingga sama-sama tidak mau dengan alasan masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu, saat acara deklarasi One-Fajri di Hotel Galuh Prambanan, Klaten, Dabtu (28/6) lalu, memang tidak tampak satu pun pengurus Partai Golkar. Padahal kedua partai sebelumnya telah menjalin kesepakatan koalisi. Tapi saat itu One memastikan jika Partai Golkar masih dalam koalisi.

“Kaitannya koalisi dengan Partai Golkar itu betul dan posisinya masih standing. Artinya Golkar dan Demokrat memang berkoalisi menuju pilkada dalam konteks koalisi partai,” ucap One. (ren/ria)





(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia