alexametrics
Sabtu, 11 Jul 2020
radarsolo
Home > Sukoharjo
icon featured
Sukoharjo

Masuk Kemarau, 3 Kecamatan & 17 Desa di Sukoharjo Rawan Kekeringan

30 Juni 2020, 17: 59: 20 WIB | editor : Perdana

Dam Colo yang menjadi andalan irigasi petani di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya.

Dam Colo yang menjadi andalan irigasi petani di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo fokus memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Kecamatan Bulu, Weru, dan Tawangsari wajib waspada.

"(Kemarau) tahun lalub ada tiga kecamatan dengan 17 desa terdampak kekeringan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Sri Maryanto, kemarin. 

Wilayah-wilayah kekeringan tersebut tersebar di Kecamatan Weru sebanyak 12 desa, Bulu tiga desa, dan Tawangsari dua desa. Kemarau panjang menyebabkan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat tidak cukup melayani kebutuhan masyarakat.

Sebagai solusinya, Maryanto menyarankan warga di wilayah selatan Wonogiri membuat penampungan air hujan, sehingga, ketika musim kemarau panjang bisa memanen air hujan. "Kalau bikin sumur belum bisa, karena debit airnya yang kecil. Tidak memenuhi syarat," ujarnya.

Ditambahkan Maryanto, kemarau tahun ini mundur. Semula pada Mei diprediksi masuk kemarau, tapi hingga saat ini pasokan air masih ada. Puncak kemarau diperkirakan Agustus. 

Dengan mundurnya musim kemarau, dia berharap dampaknya tidak seperti tahun lalu. Hanya saja, pemkab tetap mengalokasikan anggaran untuk dropping bantuan air bersih.

"Tahun ini kami alokasikan 200 mobil tangki untuk dropping air bersih. Tahun lalu juga 200 mobil tangki. Tapi total bantuan air bersih tahun lalu mencapai 1.070 tangki termasuk bantuan dari masyarakat," papar dia.

Mengingat banyaknya bantuan air bersih dari masyarakat, BPBD harus menerapkan manajemen tepat agar distribusi merata. (kwl/wa/ria)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia