alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Berdaya di Tengah Pandemi ala Warga Gandekan, Bahan Pangan Tercukupi

Buat Kolam Ikan, Kebun Sayur & Urunan Beras

01 Juli 2020, 22: 32: 22 WIB | editor : Perdana

Lurah Gandekan Arik Ramadhani (kiri) melihat warga panen lele.

Lurah Gandekan Arik Ramadhani (kiri) melihat warga panen lele. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Kreativitas selalu lahir di tengah kesulitan. Warga Kelurahan Gandekan, Jebres, ini gotong-royong membuat kolam lele dan kebun sayur mayur serta mengumpulkan jimpitan beras. Semuanya kembali ke masyarakat, terutama bagi yang tidak mampu.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

KEBUN sayur di depan rumah warga Gandekan tampak hijau. Di sebelahnya ada kolam ikan lele. Semua itu dirawat oleh warga dan dimanfaatkan bersama-sama. “Kebetulan yang menjadi percontohan di RW 06 ini. Karena di sini juga dicanangkan Kampung Tangguh Nusantara. Idenya adalah masyarakat mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata salah seorang warga, Tegar Geri Pratama, kemarin. 

Warga merawat kebun sayur di rumahnya kemarin.

Warga merawat kebun sayur di rumahnya kemarin. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Pengurus karang taruna kelurahan setempat ini sedang sibuk menengok hasil pembibitan yang baru saja dipindahkan ke kolam lain untuk pembesaran ikan lele, sebelum bisa dipanen. Dibantu warga lainnya, dia mengecek keberadaan lele-lele itu, termasuk dalam pemberian pakan. “Semua warga ikut membantu. Siapa yang longgar bantu memberi makan ikan lele atau menguras kolamnya,” jelas dia.

Di kolam sederhana ukuran 1,2 meter x 4 meter itu terdapat ratusan lele. Satu setengah bulan lagi ikan-ikan ini sudah bisa dipanen. Perhitungan itu mengacu pada panen sebelumnya, di mana pengembangan dari bibit menjadi lele siap panen hanya butuh waktu dua sampai tiga bulan.

“Ikan lele perawatannya mudah, tidak memakan tempat dan tidak perlu waktu lama sampai bisa dipanen. Panen pertama sampai 50 kilogram, per kilo enam sampai tujuh ekor. Lalu dijual kembali ke warga yang berminat,” terang Tegar.

Hasil panen pun sangat bermanfaat bagi warga. Selain dagingnya bernutrisi dan cukup diminati berbagai kalangan masyarakat, ikan lele hasil panen itu juga dijual dengan harga di bawah pasaran. Sehingga sangat menguntungkan masyarakat dalam menghemat kebutuhan pangan mereka. 

“Sekilo ikan lele itu rata-rata Rp 22 ribu - Rp 24 ribu, kami jual Rp 15 ribu untuk warga yang membutuhkan,” jelas dia.

Tidak hanya ikan lele, warga juga merintis kebun sayur. Di lahan kecil seluas 4 meter × 1 meter hingga akhirnya gerakan ini menginspirasi setiap warga untuk berkebun di depan halaman rumah masing-masing. Maka tidak heran ketika menyusuri jalan-jalan sempit di RW 06 Gandekan ini, akan banyak dijumpai pot-pot hidroponik berisi sayur mayur siap konsumsi. 

“Sayur mayurnya ada terong, sawi, kangkung, dan cabai. Kebun sayurnya juga sudah sekali panen. Kemarin dimasak untuk konsumsi waktu giat kerja bakti dan penyemprotan disinfektan,” beber Tegar.

Dengan adanya kolam lele dan kebun sayur mayur itu pengeluaran warga sekitar bisa lebih ditekan lantaran lauk pauk dan sayur mayurnya bisa dilengkapi secara mandiri. Hal ini melengkapi subsidi beras yang dikumpulkan dari jimpitan ronda setiap malam. Segenggam beras dari tiap rumah warga itu kemudian dikumpulkan jadi satu dan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Mulai dari memenuhi konsumsi saat kerja bakti hingga dijual kembali dengan harga murah ke warga yang membutuhkan. 

“Kita tidak tahu kondisi seperti ini akan sampai kapan. Makanya warga berupaya agar kebutuhan pangan masyarakat sini bisa tercukupi dari usaha mandiri warga,” sambung dia.

Kreativitas masyarakat dalam kebutuhan pangan di masa sulit seperti ini pun membuat pihak kelurahan makin yakin warganya tak akan kekurangan dari segi pangan. “Pola gotong royong ini yang menjadi modal masyarakat agar bisa bertahan di tengah pandemik,” ujar Lurah Gandekan Arik Ramadhani. (*/bun/ria) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia