alexametrics
Kamis, 13 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Sutomo, Kakek 80 Tahun Penjual Kangkung Pakan Kebo Bule Keraton

Hidup Sebatang Kara, yang Penting Bisa Makan

02 Juli 2020, 22: 09: 16 WIB | editor : Perdana

Sutomo berjualan kangkung di alun-alun kidul keraton demi bertahan hidup.

Sutomo berjualan kangkung di alun-alun kidul keraton demi bertahan hidup. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Hidup sebatang kara memaksa kakek 80 tahun ini harus melakukan segalanya agar bisa bertahan hidup. Demi bisa makan dan membayar kos sebagai tempat tinggal, setiap hari berjualan beberapa ikat kangkung. Seperti apa kehidupan kakek Sutomo ini?

SILVESTER KURNIAWA, Solo, Radar Solo

JARUM jam menunjukkan pukul 06.00. Sutomo mulai beranjak dari kamar kosnya di Jalan Cidane, Joyosuran, Pasar Kliwon menuju Pasar Gading. Berjarak sekitar 500 meter. 

Di pasar itu, si kakek langsung membeli sejumlah ikat kangkung seharga Rp 2.000. Kemudian dia jual kembali di sekitar kolam kubangan utara Siti Hinggil Kidul Keraton Surakarta. “Saya jualnya Rp 2.500 per ikatnya, untungnya Rp 500,” jelas dia saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Rabu (1/7) pagi.

Lokasi dagang Sutomo pun tak pernah berpindah-pindah dalam 3 tahun terakhir. Dia menjajakan sayur di bawah pohon angsana besar di sisi timur Siti Hinggil Kidul. Di sana, si kakek cukup menggelar dua lembar koran bekas. Satu untuk alas dia duduk, satu lainnya untuk menggelar kangkung-kangkung dagangannya. “Mulai jualan sekitar pukul 06.30. Nanti pukul 09.00 sudah balik (kos),” jelas dia.

Tak perlu waktu lama bagi si kakek mengais rezeki dari jualan kangkung yang biasanya dipakai para pembelinya untuk memberi pakan sejumlah Kebo Bule (kerbau albino) Kyai Slamet milik keraton. Selain dia hanya membawa beberapa ikat kangkung saja, motivasi Sutomo berdagang bukan untuk mengumpulkan kekayaan, namun hanya sekadar untuk menyambung hidup sehari-hari. Asal perut kenyang, si kakek pun bisa istirahat dengan maksimal di malam harinya. “Tidak banyak-banyak, yang penting uangnya cukup buat beli makan saja,” tutur dia.

Ngobrol bareng si kakek memang cukup unik, bukan hanya dari kisah hidupnya saja, namun cara berkomunikasinya juga menarik. Untuk obrolan yang butuh penjelasan panjang lebar, Jawa Pos Radar Solo harus mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin agar pertanyaan yang kadang tak terdengar itu tetap bisa terjawab dengan jelas. 

“Kuping saya sudah tidak dengar, makanya komunikasinya ditulis saja. Saya juga menyiapkan kertas sama bolpoin kalau-kalau saya tidak dengar apa yang diucap pembeli,” kata Sutomo.

Mengapa masih bekerja di usia setua itu? Sutomo mengatakan ini demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Anak-anaknya berada di luar kota, sementara seorang anaknya sebenarnya di Solo, namun  jarang bertemu. “Anak saya tiga, cucu dua, kebanyakan di luar kota. Kalau istri saya sudah meninggal, jadi ya sendirian,” beber dia.

Berjualan kangkung seadanya itulah yang menjadi penyambung hidupnya. Sutomo mengaku tak banyak memiliki pilihan jenis pekerjaan karena fisiknya sudah renta. “Dulu waktu masih kuat saya jualan telur puyuh dadar di sekolah-sekolah, jualannya keliling. Karena sudah semakin tua ya seadanya saja yang penting ada yang laku,” terang Sutomo.

Tentu saja dagang beberapa ikat kangkung tak akan cukup untuk memenuhi biaya hidup harian dan sewa kamar kos. Beruntung, para pelanggannya selalu memberi uang lebih saat membeli kangkung-kangkung dari si kakek. “Banyak yang bantu karena boleh jualan di sini. Ada juga yang membolehkan saya menjualkan masker selama beberapa hari terakhir ini. Jadi bisa untuk tambah-tambah. Semoga selalu sehat,” papar Sutomo. (*/bun/ria) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia