alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Kontroversi Kalung Eucalyptus, PKS: Pemerintah Terlalu Terburu-Buru

07 Juli 2020, 15: 31: 17 WIB | editor : Perdana

Legislator PKS sekaligus anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin.

Legislator PKS sekaligus anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin.

Share this      

JAKARTA – Upaya pemerintah yang sudah bekerja keras untuk mengendalikan Covid-19 dengan menemukan berbagai produk, baik obat maupun jamu, tidak disertai penjelasan dan komunikasi publik yang baik. Alih-alih mendapat support penuh, yang muncul belakangan justru kontroversi dan keributan sana dan sini.

"Saya sebenarnya mengapresiasi berbagai lembaga yang telah berupaya melakukan pencarian dan penemuan produk obat maupun metode untuk mengendalikan virus corona ini. Tapi semua uji ilmiah beserta penjelasannya harus dilakukan secara seksama sehingga tidak perlu menimbulkan kontroversi," ucap anggota DPR RI Komisi IV Hamid Noor Yasin.

Legislator asal Jawa Tengah IV ini telah menerima penjelasan bahwa kementerian pertanian (kementan) menemukan produk dalam negeri yang efektif, efisien, murah untuk melawan Covid-19. Yakni minyak Atsiri Eucalyptus yang mengandung 1,8 cineole sudah diuji terhadap virus corona (beta dan gamma corona) di lab biosecurity level 3 Kementan. Hasilnya mampu membunuh virus corona 80 -100 persen.

Tetapi politisi PKS ini menyarankan, sebaiknya pemerintah, terutama kementan mesti mampu melakukan uji ilmiah maupun uji publik yang paten sehingga mendapat kepercayaan serta penerimaan di masyarakat. Karena bila penemuan kalung aroma terapi produk dari kementan akan dikatakan sebagai obat, maka harus melalui tahap uji klinis kepada manusia sesuai dengan prosedur penelitian obat.

"Kementan ini terlalu terburu-buru dalam merilis produk kalung aroma terapi yang masih tergolong jamu, bukan obat. Menjadi persoalan sudah ada klaim dapat menyembuhkan Covid-19. Tanpa penjelasan memadai, banyak pihak akan menyangka klenik atau jimat," ujar Hamid.

Dia menyarankan kepada kementan, segala tindakan penyembuhan penyakit harus ketat dalam persoalan ilmiah dan uji klinis. Segala asumsi dan uji coba empiris yang tidak banyak dilakukan dapat membuat gaduh. Sebagai contoh yang perlu dihindari adalah, analogi minyak Eucalyptus memiliki 1,8 cineole yang kemudian dapat diklaim merusak struktur protein (mpro) dari virus corona sehingga virus tidak bisa memperbanyak diri, lalu mati.

"Segala upaya penemuan yang tidak melalui uji klinis akan berhadapan pada perusahaan farmasi besar sekaligus kode etik kedokteran. Langkah kementan memang seharusnya didukung untuk menemukan produk penyembuh berasal dari dalam negeri. Tapi dukungan pemenuhan standar dan prosedur mesti dilalui dahulu baru merilis produk tersebut," tutup Hamid. (ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia