alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Untuk Evakuasi Merapi, Siapkan 3 Selter Pengungsian & Desa Paseduluran

10 Juli 2020, 15: 12: 46 WIB | editor : Perdana

Petugas memantau kondisi Gunung Merapi di Pos Induk Balerante Kemalang, Klaten, kemarin (9/7).

Petugas memantau kondisi Gunung Merapi di Pos Induk Balerante Kemalang, Klaten, kemarin (9/7). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten segera menggelar simulasi evakuasi bencana erupsi Merapi. Terutama di tiga desa yang memiliki jarak terdekat dari puncak Gunung Merapi, yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo di Kecamatan Kemalang. Kelompok usia rentan bakal menjadi prioritas saat evakuasi.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Sri Yuwana Haris Yulianta mengatakan, dalam simulasi evakuasi itu tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Seperti yang diarahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat kunjungan di Klaten pada Rabu (8/7) lalu.

“Pada prinsipnya kami siap. Sesuai dengan Perbup No.7 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penanganan Kedaruratan Bencana di Klaten, jika kelompok rentan harus diturunkan terlebih dahulu apabila status Merapi naik di level III atau siaga,” jelas Haris, kemarin.

Haris mengungkapkan, kelompok rentan yang menjadi prioritas dilakukan evakuasi ketika status Merapi menjadi siaga, yakni warga lanjut usia, orang sakit, ibu hamil, dan penyandang disabilitas. Dalam manajemen evakuasi tetap ada keterpaduan dengan pemkab dan relawan nantinya.

Selama ini lokasi yang menjadi tempat pengungsian telah disiapkan tiga selter. Masing-masing diperuntukkan bagi warga Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. Mereka akan menempati di selter pengungsian Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan; selter pengungsian Menden, Kecamatan Kebonarum; dan selter pengungsian Demak Ijo, Kecamatan Karangnongko.

“Kami sudah mengecek tiga selter itu. Pada bangunan utamanya memiliki luas 512 meter persegi di setiap titik selter. Dalam kondisi normal bisa menampung 171 jiwa dengan memenuhi aspek teknis, kesehatan, manusiawi, dan etika,” jelas Haris.

Mengingat apabila proses evakuasi hingga pengungsian diterapkan protokol pencegahan Covid-19, maka kapasitas selter akan berkurang. Nantinya hanya bisa manampung sekitar 77 jiwa. Maka dari itu, desa paseduluran yang terdiri dari 13 desa asal dan 26 desa penerima akan dioptimalkan.

Jumlah penduduk Desa Balerante saat ini ada 2.400 jiwa, Desa Sidorejo 5.000 jiwa, dan Desa Tegalmulyo 2.700 jiwa. Tentu semua warga tidak bisa ditampung di selter, tetapi sebagian dibawa ke desa paseduluran. Pihaknya segera menyiapkan segala sarana dan prasarana dalam pengungsian dengan tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

“Untuk ketersediaan masker yang kami miliki masih mencukupi karena saat ini masih ada 20 ribu masker. Ditambah pengadaan baru 10 ribu masker. Intinya BPBD akan menggelar simulasi sebagai persiapan kami dalam menghadapi erupsi Merapi,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Pos Induk Balerante Agus Saryata mengungkapkan, untuk kondisi Merapi yang terpantau saat ini, baik guguran maupun gempa dangkal intensitasnya masih kecil. Sedangkan pantauan secara visual lebih didominasi tidak terlihat karena pandangan tertutup oleh kabut.

“Terkait data-data Merapi terkait penggelembungan dan lainnya itu yang paham BPPTKG Jogja,” ucapnya.

Dia juga mengatakan pada pekan lalu juga terdapat indikasi guguran, tetapi secara visual terhalang kabut. Sedangkan suara sinyal seismograf yang tidak jauh dari Posko Induk Balerante bisa didengarkan warga guna mengetahui kondisi yang sedang terjadi puncak Merapi. 

Sebelumnya, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida mengatakan, tubuh Gunung Merapi terjadi penggembungan. Namun, kecepatan penggembungan ini masih lambat. “Per hari hanya setengah sentimeter. Penggembungannya masih kecil, tapi kita tetap harus waspada,” katanya (ren/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia