alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Rekor MURI dan Orientasi Mahasiswa Baru Menuju Sukses

15 Juli 2020, 23: 56: 42 WIB | editor : Perdana

Dwi Linna Suswardany, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FIK UMS dan Wakil Ketua Panitia Masta PMB UMS 2020

Dwi Linna Suswardany, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FIK UMS dan Wakil Ketua Panitia Masta PMB UMS 2020

Share this      

Oleh: Dwi Linna Suswardany, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FIK UMS dan Wakil Ketua Panitia Masta PMB UMS 2020

KECERIAAN mahasiswa yang berkerumun melemparkan toga dan memeluk kado kelulusan. Meski peluh bercucuran, namun wajah puas tergambar. Seakan memenangkan kompetisi. Inilah sebagian pengalaman yang akan dijemput para mahasiswa baru.

Tapi, mereka tidak akan sampai di sana. Sebelum melewati masa orientasi. Masa untuk bersiap menghadapi setiap tantangan sebagai mahasiswa di Indonesia. 

Senin, 13 Juli 2020 lalu, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memecahkan rekor sebagai perguruan tinggi pertama yang melakukan penyambutan mahasiswa baru secara daring (dalam jaringan). Rekor yang tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ini, bukan sekedar ingin menjadi yang tercepat. Peningkatan mutu pembelajaran, inovasi, dan prestasi di masa new normal, merupakan konsekuensi penting berikutnya. 

Catatan rekor MURI ini sejalan dengan Visi UMS, menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ipteks yang Islami dan memberi arah perubahan. Semangat memberi arah perubahan sangat dibutuhkan di masa penuh ketidakpastian ini. Sebab, tidak ada seorang pun yang tahu kapan pandemi benar-benar berakhir di Indonesia. 

Tidak ada yang tahu pula, kapan perguruan tinggi dapat membuka semua kegiatan dengan aman lagi. Arah perubahan tata laksana orientasi mahasiswa baru, harus diambil dengan cepat. Tanpa ragu. Namun tetap fleksibel menyesuaikan diri, jika ada dinamika lain yang perlu segera direspons.

Orientasi mahasiswa baru merupakan hal penting, bukanlah isapan jempol. Beberapa penelitian menunjukkan, di banyak perguruan tinggi, transisi dari sekolah menengah atas (SMA) ke universitas ditandai oleh ketakutan, kecemasan, harapan, dan stres pada banyak calon sarjana. 

Harapannya agar tujuan pembelajaran tercapai. Sehingga mahasiswa lulus dengan berbagai kecakapan yang bermanfaat. Inilah ekspektasi yang juga menjadi bahan bakar untuk sukses menyelesaikan kuliah. Lalu, bagaimana peran orientasi daring di masa new normal ini? 

Tentu saja belum ada hasil penelitian yang sama persis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saat ini, adalah kali pertama orientasi daring dilakukan di masa pandemi. Namun, kita bisa mendekati masalah ini dari penelitian terkait. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan, pengalaman orientasi mendukung transisi mahasiswa di tahun pertama kuliah dan menentukan kesuksesan kuliah. 

Penelitian lain membuktikan, bahwa mahasiswa yang berpartisipasi dalam program orientasi umumnya memiliki pencapaian belajar yang lebih baik. Daripada yang tidak mengikuti orientasi. Mahasiswa yang aktif mengikuti orientasi juga lebih banyak berhasil bertahan kuliah sampai lulus. Dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak mengikuti orientasi saat menjadi mahasiswa baru.

Oleh karena itu, menjadi yang tercepat melakukan penyambutan mahasiswa baru tidaklah cukup. Tapi torehan sejarah di MURI ini telah meningkatkan antusias mahasiswa baru dalam memulai langkah awal masa orientasi. Tantangan berikutnya adalah, memberikan program orientasi daring yang membuat mahasiswa baru lebih siap kuliah. Terutama kuliah di era new normal yang diwarnai banyak pembelajaran daring. Apa saja yang penting disiapkan?

Ada hal penting yang diperhatikan dalam menyiapkan orientasi mahasiswa secara daring. Pertama, penetapan tujuan. Kedua, perhatian terhadap elemen yang meningkatkan partisipasi sikap, emosional, dan kognitif. Ketiga, penyiapan instrumen penilaian dan tantangan. Keempat, leave no one behind.

Penetapan Tujuan

Program orientasi mahasiswa baru perlu didesain dengan tujuan yang tepat. Secara umum, meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa demi kelancaran belajar online di masa new normal. Memfasilitasi kesiapan akademik dan pengembangan keterampilan. Termasuk manajemen waktu yang cenderung lebih merdeka. Menyediakan fasilitas dan teknologi yang tidak hanya tepat, tetapi juga harus bisa diakses mahasiswa. Selanjutnya, menumbuhkan rasa kebersamaan di antara mahasiswa, dosen, dan staf sebagai satu komunitas di perguruan tinggi. 

Partisipasi Sikap, Emosional, dan Kognitif 

Partisipasi atau keterlibatan aktif mahasiswa dalam program orientasi perlu didefinisikan sejak awal. Meskipun definisi partisipasi adalah kompleks dan seringkali tumpang tindih. Namun menurut kajian Fredericks, Blumenfeld, and Paris, terdapat tiga bentuk partisipasi pada institusi pendidikan yang penting untuk diperhatikan dalam menyusun suatu program. Yaitu partisipasi sikap, emosional, dan kognitif. 

Penilaian dan Tantangan Berupa Game

Setiap pengalaman belajar yang berarti, biasanya diakhiri dengan penilaian. Donald L. Kirkpatrick and James D. Kirkpatrick mengemas penilaian menjadi empat level. Yakni, bagaimana mahasiswa merasakan pengalaman orientasi sebagai mahasiswa baru, Apa yang mahasiswa pelajari melalui masa orientasi ini? Bagaimana dampak orientasi mahasiswa terhadap kemampuan mahasiswa mengikuti kuliah di semester pertama? Terakhir, bagaimana program orientasi mahasiswa memengaruhi kesuksesan mahasiswa secara keseluruhan di masa kuliah?

Oleh karena itu, dalam orientasi ini, UMS akan memberi penghargaan pada tiga mahasiswa baru dari 12 fakultas. Sehingga total ada 36 mahasiswa baru yang menyandang predikat penilaian 3T. Yakni tertertib dalam mengikuti program orientasi, tertinggi total nilai post-test-nya, dan teraktif dan berbobot dalam diskusi pendalaman materi. Penilaian ini diharapkan mampu memantik partisipasi aktif mahasiswa, mulai dari sikap, emosional, sampai kognitif.

Leave No One Behind 

Komponen terakhir dan terpenting adalah, jangan pernah tidak memerhatikan mahasiswa peserta orientasi mahasiswa baru dengan kebutuhan khusus. Karakteristik paling menonjol dalam hal ini pada orientasi berbasis daring, adalah akses jaringan internet. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan finansial untuk mengakses materi dengan size kilobyte (KB) yang besar. Oleh karena itu, harus dipilih metode-metode pembelajaran dan pendekatan yang relatif terjangkau.

Sebagai penutup, meskipun mungkin ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan program orientasi mahasiswa baru secara daring, namun empat hal yang telah diuraikan ini diharapkan dapat menjadi modal kuat menyambut mahasiswa baru.

Selamat menyiapkan masa orientasi di era new normal bagi institusi pendidikan. Menyiapkan orientasi daring bagi pendidikan yang semula luring, jangan sampai menjadi keterpaksaan. Tetapi jadikan sebagai peluang tumbuhnya inovasi-inovasi pembelajaran yang siap mengantarkan para mahasiswa sukses menjalani kehidupan di perguruan tinggi. Dengan demikian, tujuan mengantarkan para mahasiswa baru menjadi generasi yang aktif memajukan bangsa dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik, semoga sukses dicapai. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia