alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

SMA Muhammadiyah 1 Surakarta Awwalussanah sekaligus Parenting

19 Juli 2020, 21: 48: 12 WIB | editor : Perdana

VIRTUAL: Kepala SMA Muhi 1 Rahayuningsih memberikan sambutan sekaligus membuka acara Awwalussanah dan Seminar Parenting kelas X di lab komputer setempat, Sabtu (18/7).

VIRTUAL: Kepala SMA Muhi 1 Rahayuningsih memberikan sambutan sekaligus membuka acara Awwalussanah dan Seminar Parenting kelas X di lab komputer setempat, Sabtu (18/7). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – SMA Muhammadiyah 1 surakarta (Muhi) menggelar Awwalussanah dan Seminar Parenting, Sabtu (18/7). Mengusung tema “Membangun Sinergi Membentuk Generasi Islami, Cerdas, dan Kreatif di Era New Normal”. Program ini diadakan untuk mempersiapkan orang tua dalam pendampingan belajar buah hatinya. 

Tahun ajaran baru 2020/2021 ini, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta memiliki 630 siswa. Dari jumlah tersebut, 118 di antaranya siswa baru. Kepala SMA Muhammadiyah 1 Surakarta Rahayuningsih menjelaskan, seminar parenting untuk membekali orang tua dalam pembentukan kepribadian anak. Terutama di masa pandemi covid-19. Di mana 100 persen kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan di rumah. 

“Kami memahami, anak setiap hari di rumah dan tentu saja bosan. Apalagi kelas X belum kenal dengan teman dan guru. Paling hanya sepintas saja. Untuk membentuk karakter anak tetap terbingkai Islami, cerdas, dan kreatif, dibutuhkan peran orang tua,” ucapnya usai kegiatan parenting.

Menurut Rahayu, orang tua merupakan panutan anak. Karena itu, orang tua harus meluangkan watu dalam memperhatikan perkembangan anak. Namun di sisi lain, tidak boleh mengekang. Karena berpotensi menyebabkan anak memiliki sifat memberontak. Sehingga metode paling tepat, yakni dengan tarik ulur dan merangkul.

“Selama satu semeseter ke depan, masih pembelajaran jarak jauh (PJJ). Parenting sangat penting dalam mendidik dan mendampingi anak. Kelas X ini kan unik. Disebut anak kecil juga tidak, disebut dewasa juga belum. Sehingga untuk membedakan sesuatu itu benar dan kurang tepat, masih kesulitan,” katanya. 

Awwalussanah juga memaparkan program sekolah dan PJJ. Membangun sinergisitas dengan wali murid, dibuatkan grup WhatsApp (WA). Sehingga selama PJJ, wali murid bisa memantau lewat online. Selain itu, lewat grup WA tersebut, wali murid bisa berkoordinasi dan menyampaikan keluhan. 

“PJJ sudah dilakukan sejak Senin (13/7).  Dimulai pukul 07.30-10.45. Sehari ada empat sesi untuk 3-4 mata pelajaran (mapel). Kami tidak ingin memberatkan orang tua dan siswa. Sehingga PJJ hanya menggunakan dua aplikasi pembelajaran,” imbuhnya. 

Sebelumnya, SMA Muhi sudah melakukan in house training (IHT) atau semacam workshop bagi guru. Pelaksanaannya terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama mengupas PJJ secara umum. Sedangkan tahap kedua praktik pelaksanaan dan teknisnya. 

“Kami bentuk tim PJJ yang terdiri dari 11 guru. Kami bentuk lima klaster. Yakni Bahasa, Matematika dan IPA, IPS, Olahraga dan Seni Budaya, serta Pendidikan Agama Islam dan Bimbingan Konseling (PAI BK). Satu klaster akan diisi satu mentor yang mendampingi dan memastikan PJJ berjalan baik,” urainya.

Selama PJJ, siswa wajib presensi daring dan mengenakan seragam sekolah tiap hari. Sedangkan guru wajib membuat jurnal pembelajaran. Bagi anak yang kesulitan, akan dilakukan home visit. 

Ketua PDM Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Kota Surakarta Trijono menegaskan, PJJ wajib memperhatikan kompetensi kepribadian anak. Sebab menurutnya, psikologis anak, khususnya kelas X rawan. “Jadi orang tua perlu mencermati kondisi anak. Agar anak berkesinambungan. Tidak hanya pandai, tapi juga akhlakul kharimah,” ungkapnya. (rgl/fer)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia