alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan
Sisi Lain Belajar Daring selama Pandemi

Minim Fasilitas Internet, Siswa Harus 'Ngungsi' di Rumah Saudara

20 Juli 2020, 22: 13: 17 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi orang tua mendampingi anak saat belajar daring.

Ilustrasi orang tua mendampingi anak saat belajar daring. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Pembelajaran jarak jauh dilakukan selama masa pandemi Covid-19. Tidak semua anak merasa nyaman belajar dari rumah. Bahkan, sebagian mengalami kendala karena tidak memiliki fasilitas memadai. Seperti apa perjuangan anak, orang tua dan guru menjalani ini?  

Putri Ramadhani, 11, semester ini naik kelas VI di SDN Randu, Cepogo, Boyolali. Sementara adiknya Keisha Aqila, 4, mulai masuk TK. Selama ini keduanya tinggal bersama kakek dan neneknya. 

Masalah muncul ketika masa pandemi seluruh siswa diwajibkan belajar jarak jauh. Tentu tugas-tugas sekolah pun dilakukan melalui media online. Termasuk Putri. Ada yang melalui google form, ada pula yang ditulis di buku. Dan tugas melalui media digital ini sedikit menyulitkannya. Apalagi kakek Kasbi dan neneknya, Siti Kiptiyah hanya menggunakan ponsel sebagai media komunikasi telepon saja. 

Terpaksa, Putri pun harus “mengungsi” belajar hingga ke Kecamatan Musuk. Di sana dia menumpang di rumah saudara yang kebetulan guru SD di daerah setempat.  “Ada saudara guru. Jadi saya diajari sekalian bisa kerjakan tugas online,” ungkapnya. 

Putri kadang mengeluhkan ketika di rumah tidak ada yang mengajari. Alhasil tidak jarang pekerjaan sekolah menumpuk. Putri mengaku juga kesulitan mengerjakan soal dari google form. Dia lantas berinisiatif untuk meminta bantuan belajar. Setiap pagi dia pun dijemput saudaranya di lain kecamatan yang berjarak 3 kilometer dari rumah neneknya. 

“Kadang ikut nginep sekalian. Karena di rumah, mbah (simbah) belum bisa mengajari PR sekolah. Setiap hari harus bolak-balik, tapi nggak apa-apa agar tugasnya selesai,” ungkapnya. 

Guru kelas II SDN 1 Simo sekaligus pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK) Sri Jariyani mengaku, setiap hari dia berangkat ke sekolah pukul 06.00. Sebab, perjalanan dari rumahnya di Musuk ke Simo berjarak 25 km. Apalagi dia juga ditunjuk sebagai guru pendamping khusus bagi ABK. Dan dia merupakan guru honorer yang sudah mengabdi selama 15 tahun. 

“Saya juga mengajar siswa inklusi slow learner. Kalau mau home visit rumahnya jauh dan tidak boleh home visit karena Simo masuk zona merah. Jadi selama mengajari anak-anak saya juga membuat video pembelajaran daring. Saya coba bagi waktu agar semua hak anak dalam belajar bisa mendapat,” katanya. 

Jariyani juga membuka diri bagi anak tetangganya yang kesulitan belajar daring. Tidak jarang mereka datang belajar ke rumah. Rata-rata merupakan siswa PAUD, TK, dan SD. 

Terpisah, seorang wali murid kelas VI SD asal Karangturi, Pajang Anik Kurniawati mengatakan, anaknya cukup beruntung. Karena sang anak yang menginjak kelas VI bisa terus didampinginya selama pembelajaran. Meski diakui Anik kadang menemui beberapa kendala. 

“Saya termasuk orang tua yang agak ketat kalau masalah ponsel. Jadi memang saya batasi anak bermain ponsel. Namun, selama pembelajaran daring saya izinkan memakai ponsel sesuai keperluan. Dan saya dampingi selama pembelajaran,” katanya. 

Dikatakan Anik, selama ini kendala yang dihadapi hanya sebatas materi pembelajaran. Anik pun harus ikut belajar agar bisa membantu proses belajar sang anak. Padahal dia juga mesti membagi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Nah, di semester ini, Anik menyiasati dengan membuat jadwal belajar anak. Dan tidak setiap jam anak diizinkan memegang ponsel. (rgl/bun/ria) 

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia