alexametrics
Jumat, 14 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Perjuangan Guru Pendamping Siswa Inklusi saat PJJ,Tak Lelah Home Visit

20 Juli 2020, 22: 37: 33 WIB | editor : Perdana

Guru Pendamping Khusus (GPK) SMPN 12 Surakarta Istiqomah dan Asih (pakai masker) mengecek alamat salah satu siswa ABK, Jumat (16/7).

Guru Pendamping Khusus (GPK) SMPN 12 Surakarta Istiqomah dan Asih (pakai masker) mengecek alamat salah satu siswa ABK, Jumat (16/7). (ISTIMEWA)

Share this      

SOLO - Perjuangan guru demi memenuhi hak belajar anak didiknya selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) sangat luar biasa. Terutama guru pendamping khusus (GPK) siswa inklusi, taman kanak-kanak, dan kelas I SD. Mereka rela mengecek alamat rumah siswanya satu per satu.  

Berbekal sepeda motor Dwi Asih dan Istiqomah mendatangi satu per satu alamat rumah siswa inklusinya. GPK di SMPN 12 Surakarta ini mengaku tidak mengenal lelah. 

“Mereka itu (siswa inklusi) unik dan layak mendapat hak belajar yang sama seperti siswa lainnya,” ujar Dwi Asih di balik senyumnya. 

Sejak Kamis (16/7) pukul 10.00, Asih dan Istiqomah menyambangi satu per satu anak berkebutuhan khusus (ABK). Setidaknya ada delapan siswa inklusi yang belajar di SMPN 12 Surakarta. Mereka memiliki berbagai keterbatasan, mulai dari down syndrome, autis, tuna rungu, slow learner, dan lainnya. 

“Minggu kemarin kami mengecek alamat rumah siswa sekaligus meminta izin orang tua untuk home visit. Dan Alhamdulillah tidak ada kendala. Insya Allah mulai minggu ini pembelajaran daring bisa berjalan,” kata Asih. 

Selama ini, pembelajaran hanya dilakukan melalui daring. Pemantauan hanya sebatas lewat WhatsApp dan video call. Selebihnya hanya parenting agar orang tua bisa lebih sabar mengajari anak. Sebab, semester lalu belum diizinkan home visit. 

“Kami mengecek apakah anak bisa mengikuti pembelajaran atau tidak. Dan grade kompetensi juga diturunkan. Sehingga tidak dituntut grade-nya sama dengan anak normal. Meskipun begitu, capaian ketuntasan juga harus terpenuhi," katanya. 

Pada saat normal, Asih akan menyampaikan materi dengan lebih mudah. Sebab, kebanyakan anak ABK cenderung membutuhkan perhatian. Dan lebih pada cara penyampaian materi yang disesuaikan dengan daya tangkap anak. Hal tersebut tidak semua orang bisa lakukan. 

“Sekarang kami sudah mempersiapkan. Dan akan menjadwalkan home visit paling tidak seminggu sekali untuk satu anak. Media pembelajaran juga tidak terlalu sulit. Jadi semisal di rumah tidak ada bisa kami bawakan,” katanya. 

Sementara itu, Istiqomah mengaku ketertarikan mengajar ABK muncul tatkala melihat orang tunawicara menggunakan bahasa isyarat. Dia pernah menjadi guru individual satu anak satu ruang dan terapi pembelajaran pada 2006 silam. Sebab, pada saat itu sekolah inklusi belum ada. 

“Mereka ini kan unik. Lalu komunikasinya juga berbeda dan harus disesuaikan dengan mereka. Terkadang juga lucu. Dengan adanya sekolah inklusi, mereka bisa merasakan bahwa mereka ini sama dengan anak sekolah lainnya. Dan kepercayaan diri yang coba kami bangun,” terangnya. 

Terpisah, pengalaman Rahmawati Wahyuningtiyas, 24, pengajar kelas I SD tidak kalah susah di masa pandemi ini. Beruntung, di semester lalu, siswa kelas I SDN Pajang III sudah bisa membaca dan menulis. Sehingga tugas tema dan materi Covid-19 masih bisa disisipkan. Namun, untuk semester ini Rahma mengampu 21 siswa kelas I SD. 

“Semester ini sudah ada persiapan. Hanya nanti teknis home visit masih akan dikoordinasikan dengan orang tua. Yang pasti, saya harus mengecek alamat rumah satu per satu agar bisa menentukan pokjar. Sebab, ada beberapa temuan yang alamat rumahnya beda antara surat keterangan domisili dengan alamat kartu keluarga (KK),” katanya. 

Hal serupa juga dialami guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Guwang, Gatak Ayunda Dwi Junita. Selama pandemi dia mengajar kelas I sampai V. Dia juga rajin memantau efektivitas pembelajaran. Sebab, ada beberapa temuan di mana pembelajaran anak kurang efektif. 

“Meski sudah ada penjadwalan belajar, namun menyiapkan materi saya lakukan setiap pagi. Memastikan materi bisa tersampaikan tanpa memberatkan anak didik. Karena masa pandemi ini melatih kejujuran anak dan orang tua juga,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Etty Retnowati mengatakan, mekanisme home visit sudah disiapkan. Baik untuk anak TK, kelas I SD maupun anak berkebutuhan khusus (ABK) yang cenderung lebih membutuhkan perhatian. Melalui mekanisme home visit yang telah ditentukan, disdik membebaskan sekolah membuat skenario yang tepat. 

Sekretaris Disdik Kota Surakarta Dwi Ariyatno mengatakan, pihaknya bisa memantau kemampuan sekolah untuk melaksanakan home visit. Total siswa SDN sebanyak 3.857 orang. Tersebar di 58 sekolah. Sedangkan SD swasta sebanyak 5.229 siswa tersebar di 98 sekolah. 

Karena banyak siswa SD, maka pelaksanaan home visit dengan membuat kelompok belajar (pokjar) sesuai lingkungan. Tidak luput, siswa ABK di jenjang SMP sebanyak 45 siswa yang tersebar di tujuh SMP negeri dan swasta juga jadi perhatian. “Pelaksanaan home visit dikelompokkan pada pokjar dalam satu area tempat tinggal. Kami batasi setidaknya satu pokjar ada 3 sampai 5 anak SD,” ungkapnya. 

Dwi menegaskan, pelaksanaan protokol kesehatan harus dilakukan. Guru dan siswa wajib mengenakan masker dan menjaga jarak. Selain itu, waktu pelaksanaan home visit dilakukan secukupnya. Sedangkan bagi ABK, mekanisme home visit-nya sama. Hanya saja, butuh pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK) dan tidak perlu membuat pokjar, menilik lokasi rumah berpencar dan siswa lebih membutuhkan pendampingan. 

Lalu bagaimana dengan siswa yang berada di zona merah? Dwi menerangkan belum ada laporan terkait zona wilayah. Namun, ada arahan pelaksanaan home visit untuk wilayah khusus. Pelaksanaan home visit juga mempertimbangkan kondisi masing-masing. (rgl/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia