alexametrics
Kamis, 13 Aug 2020
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

2 SMAN di Pinggiran Sragen Kurang Murid, Mayoritas Justru dari Jatim

21 Juli 2020, 13: 13: 06 WIB | editor : Perdana

Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMAN 1 Sambungmacan, Senin lalu (13/7). Siswa dan guru tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMAN 1 Sambungmacan, Senin lalu (13/7). Siswa dan guru tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Sejumlah sekolah di wilayah perbatasan Sragen seperti, SMAN 1 Sambungmacan dan SMAN 1 Tangeh kekurangan murid. Namun, justru banyak menampung siswa asal luar daerah.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Sragen Wasiyo menyampaikan, dari 10 SMAN di Sragen, yang tidak memenuhi kuota hanya dua sekolah. Yakni SMA 1 Sambungmacan dan SMA 1 Tangen. Dari daya tampung 287 siswa SMAN 1 Sambungmacan, hanya 272 siswa yang melakukan daftar ulang. Artinya ada 15 kuota yang tidak terpenuhi. Kondisi serupa juga terjadi di SMAN Tangen.

”Sekitar 25 persen (kekosongan kuota,Red) untuk SMAN 1 Tangen. Sekolah lain di wilayah pedesaan terpenuhi,” ujarnya.

Kepala SMAN 1 Sambungmacan tersebut menambahkan, meski dari kuota tidak terpenuhi, namun justru banyak yang berasal dari wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Mengingat Kecamatan Sambungmacan berbatasan dengan Ngawi. Diperkirakan, dari 272 siswa, 40 persennya berasal dari Ngawi. Seperti wilayah Mantingan, Widodaren, Sine, dan Ngrambe.

”Sepertinya mereka yang perbatasan lebih suka sekolah di Sragen, cukup banyak dari Jawa Timur,” bebernya.

Penyebabnya rata-rata mereka memilih sekolah dengan cara lain selain zonasi. Misalnya menggunakan jalur prestasi. Padahal jika dilihat zonasinya, mereka bisa masuk ke sekolah terdekat. ”Sebagian juga pilih swasta jika tidak diterima di jalur prestasi,” terang dia.

Lebih lanjut diungkapkan Wasiyo, saat ini dilakukan pembelajaran jarak jauh. Meski tidak memenuhi target kuota, tetap bisa menjalankan delapan rombongan belajar (rombel). ”Kami bisa memenuhi delapan rombel dengan jumlah siswa tiap rombel kurang dari 36 siswa,” terangnya. (din/adi/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia