alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Identitas Mahasiswa Baru

22 Juli 2020, 17: 59: 56 WIB | editor : Perdana

Agus Triyono, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan, FKI UMS

Agus Triyono, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan, FKI UMS

Share this      

Oleh: Agus Triyono, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan, FKI UMS 

MENJELANG pelaksanaan semester gasal, beberapa lembaga pendidikan tinggi sudah mulai melakukan persiapan pembelajaran blended antara pertemuan tatap muka di kelas dengan pembelajaran daring (dalam jaringan). Namun demikian, surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di masa pandemi Covid-19 memutuskan bahwa kegiatan pembelajaran tahun ajaran 2020/2021 tetap akan dijalankan secara daring. 

Pasca terbitnya SKB tersebut, beberapa kampus yang telah mempersiapkan skema pembelajaran 50 persen luar jaringan (luring) dan 50 persen daring, mau tidak mau harus meninjau kembali kebijakan pembelajaran yang akan diterapkan pada tahun pelajaran 2020/2021. Hal ini dilakukan dalam rangka menekan peningkatan kasus Covid-19. 

Tidak dapat dipungkiri, mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi (PT), seperti UMS sangat heterogen. Membentang dari Sabang–Merauke. Dengan kondisi seperti ini, maka potensi penularan Covid-19 akan semakin mudah, dan grafik kasus Covid-19 berpotensi meningkat signifikan. 

Pembelajaran Berkualitas 

Dalam setiap proses pembelajaran, setidaknya melibatkan unsur utama yakni  universitas, dosen serta mahasiswa. Agar proses pembelajaran daring dapat berjalan maksimal, maka masing-masing pihak harus menjalankan tugas dan fungsinya dalam satu bangunan sinergitas antarunsur. 

Sebagai sebuah lembaga, universitas mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan kebijakan, membangun sistem, dan menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran.

Termasuk di dalamnya adalah bagaimanakah mekanisme kontrol dan evaluasi yang akan dijalankan untuk memastikan bahwa sistem sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya. 

Mengambil peran pengemban amanah, maka dosen mempunyai tugas yang tidak ringan. Proses pembelajaran daring menuntut persiapan yang maksimal, khususnya dalam penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. UMS tidak berlepas diri, secara penuh sebagai penyelenggara, UMS memberikan pendampingan mulai dari pra pembelajaran, produksi konten pembelajaran sampai dengan proses PBM berlangsung. 

Namun demikian, pekerjaan yang paling berat  bagi dosen adalah bagaimana mewujudkan pendidikan yang tidak sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), namun juga transfer nilai (transfer of value). Dengan demikian, sebagaimana misi UMS, maka lulusan yang dihasilkan bukan hanya unggul dalam aspek pengetahuan, namun juga mempunyai akhlak yang Islami menuju masyarakat yang utama. 

Unsur mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebagai mitra proses pembelajaran, maka mahasiswa harus ditempatkan pada posisi yang setara, bukan lagi sebagai objek, tapi juga bagian dari subjek pembelajaran.

Nalar kritis perlu dikedepankan dengan tetap mengedepankan pada unsur adab. Hal ini penting, karena di tengah kehidupan digital banyak pihak merasakan turunnya adab dalam pribadi generasi digital. 

Identitas Mahasiswa Baru 

Sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa baru, tugas utama berada di perguruan tinggi bukan sekadar mencari status sebagai mahasiswa, atau sekadar gaya-gayaan bahkan pelengkap profil di akun sosial media.

Perlu dibedakan, ketika masih menjadi siswa, penguasaan pengetahuan lebih cenderung pada aspek personal, sedangkan ketika menjadi mahasiswa, Anda tidak hanya dituntut untuk sekadar menyimak materi, namun demikian Anda harus mampu mengintegrasikan apa yang dipelajari di kampus dalam rangka menyelesaikan problematika masyarakat.  

Penyambutan mahasiswa baru di UMS yang dilakukan secara daring adalah bagian dari komitmen UMS untuk menjamin kesiapan masa transisi siswa menjadi mahasiswa.

Mahasiswa disiapkan bukan hanya sekadar menjadi hamba Allah SWT yang menghafal ilmu, tapi menjadi pribadi yang bermanfaat sebagaimana nasehat Imam Syafi’i bahwa Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat. 

Sebagai mahasiswa, kini bukan lagi demam K-Pop, ataupun budaya popular lainnya yang Anda gandrungi, namun harus bergeser pada forum-forum diskusi ilmiah yang di era pandemi ini banyak bermunculan. Anda harus keluar dari zona nyaman yang selama ini membuat Anda ter-nina bobok-an. Kesempatan pengembangan soft skill melalui oganisasi kemahasiswan yang sudah tersedia di UMS harus diambil.

Jangan hanya sekadar menjadi mahasiswa kupu-kupu yang hanya kuliah pulang-kuliah pulang. Perlu diingat, bahwa belajar tidak hanya melalui bangku kuliah di kelas baik daring maupun luring, namun organisasi kemahasiswaan juga menjadi wadah belajar sesungguhnya.

Kalimat bijak mengatakan bahwa kesuksesan mahasiswa harus dimulai dari adanya perubahan. Dan perubahan utama yang menentukan adalah perubahan yang dimulai dari pola pikir yang merupakan awal dari perilaku. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia