alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Wahyu Tri Nugroho Hibahkan Seragam Persis Solo Miliknya

23 Juli 2020, 11: 47: 30 WIB | editor : Perdana

MEMORABILIA: Wahyu Tri Nugroho menunjukkan koleksi miliknya saat membela Persis yang dihibahkan di Museum Titik Nol Pasoepati, Rabu pagi (22/7).

MEMORABILIA: Wahyu Tri Nugroho menunjukkan koleksi miliknya saat membela Persis yang dihibahkan di Museum Titik Nol Pasoepati, Rabu pagi (22/7). (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

Solo Pernah punya tiga kiper berlabel Timnas. Yakni R. Maladi (1937-1938), Yudo Hadianto (1962-1972), Wahyu Tri Nugroho (2012). Wahyu, ternyata menaruh jejaknya di Museum Titik Nol Pasoepati. Ini kisahnya.

NIKKO AUGLANDY, Radar Solo, Solo

SOSOK pria berkaos putih, celana pendek dan sepatu kets datang ke lokasi bendirinya Pasoeparti di daerah Kampung Nayu, Nusukan, Banjarsari, Rabu pagi (22/7). Sosok ini jadi sorotan, karena datang membawa  koper. Dia ternyata bukan tengah pulang kampung.

“Wah kok bawa koper segala,” ucap Mayor Haristanto, empu yang punya rumah tersebut.

“Wah ini koper sak isinya punya cerita berharga buat karir saya. Dan akan saya hibahkan ke museum ini,” ujarnya dengan tawa berseri.

Ya, sosok yang dimaksud ini adalah WTN (sapaan akrab Wahyu Tri Nugroho), yang kini menjadi penjaga gawang klub Liga 1 Bhayangkara FC. Dia membawa banyak barang berharga yang sempat digunakannya saat membela Persis Solo, 2007 silam. Kebetulan mantan kiper Timnas 2012 tersebut sempat membela Laskar Sambernyawa (julukan Persis Solo) di musim 2006 hingga 2008.

“Ini koper pemberian manajemen Persis Solo, dan saya bawa saat Persis tandang ke luar kota di zamannya Greg (Nwokolo, mantan striker Persis musim 2007) dulu. Ini masih saya simpan di rumah (Nguter, Sukoharjo),” ujarnya sembari menunjuk koper warna hitam, dengan masih ada tulisan Persis Solo-nya.

Tak hanya satu, ternyata dia juga memberikan sepatu, sarung tangan, kaos berwarna hitam yang digunakan Persis saat TC di Grup 2 Kopassus, dan juga jersey Persis berwarna hijau stabilo. 

”Jersey ini saya gunakan pas kompetisi Copa Dji Sam Soe (Piala Indonesia). Ini jersey tambelan. Awalnya di dada hanya tulisan Persis Solo, tapi karena ada kompetisi bersponsor, akhirnya ditambel emblem,” ujarnya.

Di Piala Indonesia ini, Persis gagal juara. Di babak penyisihan, Persis menang atas Persikabo Bogor. Leg pertama di Bogor imbang 0-0, dan leg kedua di babak normal juga imbang 1-1. Saat adu penalti Persis menang 4-3.

Sayang langkah Persis hanya sampai babak perdelapan final, karena dijegal Persita Tangerang. Di leg pertama di Manahan (28/8/2007), kedua tim imbang 0-0. Sayang di markas Persita (25/10/2007), Persis tumbang 1-2

“Di musim itu, saya juga punya sepatu putih. Itu jadi sepatu warna putih pertama saya, yang saat itu memang lagi tenar ada sepatu warna itu. Ini juga saya hibahkan juga. Walau pulnya sudah patah dan bentuknya sudah buluk, tak masalah, karena ini membuktikan bahwa ini memang benar-benar saya gunakan untuk main membela Persis saat itu,” terangnya.

Di lain sisi,  ternyata ada banyak hal menarik buat WTN dengan Solo. Salah satunya saat Pelita Jaya ber-home ground di Solo 2000-2002, dia sempat jadi anak gawang di Stadion Manahan. “Kalau tidak salah sempat ngambil bola pas Pelita lawan PSM Makassar. Abis pertandingan, seperti anak-anak lainnya saya ngejar pemain untuk minta tanda tangannya. Momen itu melecut semangat saya untuk bisa menjadi seperti mereka di kemudian hari. Bersyukur sekali beberapa tahun kemudian, saya bisa jadi pemain Persis yang didukung ribuan Pasoepati di Manahan. Seperti mimpi yang jadi kenyataan,” tutur WTN yang sempat membawa Persiba Bantul juara Divisi Utama 2010/2011 di Manahan. (*) 

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia