alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola

Maryadi Gondrong Sempat Pukul Pemain Persema Pakai Megaphone

26 Juli 2020, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

SOSOK PANUTAN : Maryadi Gondrong membawa megaphonenya yang digunakan untuk mengomandoi Pasoepati.

SOSOK PANUTAN : Maryadi Gondrong membawa megaphonenya yang digunakan untuk mengomandoi Pasoepati. (RYAN AGUSTIONO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Lama berdiri di steger Stadion Manahan, ternyata membuat Maryadi Gondrong memiliki banyak kenangan. Dirigen Pasoepati tersebut mengakui hampir semua laga yang didukung Pasoepati di Manahan selalu dilihatnya. Baik saat mengawal Pelita Solo, Persijatim Solo FC, Solo FC ataupun Persis Solo.

Laga Persis melawan Persema Malang 2007 juga tak bisa dilupakannya. Saat itu, pertandingan pramusim berakhir dengan keributan antar pemain. Kapten Persis, Agung Setyobudi berkelahi dengan bomber Persema asal Argentina, Franco Hita.

Melihat situasi tersebut Gondrong ikut terpancing emosinya, dan ikut berkelahi dengan Hita. Pertandingan berujung kerusuhan, hingga membuat tim Persema baru bisa keluar dari Stadion Manahan.

"Megaphone saya pernah tak gunakan untuk berkelahi dengan Franco Hita. Saat pemain itu berkelahi dengan Agung di tengah lapangan, saya pun lari dari tribune selatan ke ujung lapangan sisi utara," kenang Gondrong.

"Saya ikut ke dalam lapangan dan saya pukul Hita dengan megaphone. Saya kalah dan megaphone lepas semua baterainya. Untungnya tidak rusak," jelasnya.

Laga Pelita Solo di markas PSIM Jogja juga tak pernah dilupakannya, 2000 silam. Saat itu 15.000 Pasoepati memerahkan Stadion Mandala Krida. Sayang laga ini terdapat insiden antara dua kubu suporter lemparan baru beterbangan dari dalam dan luar stadion. Naasnya kendaraan yang dibawa Pasoepati banyak yang rusak.

"Mereka (suporter PSIM) melempar sesuatu dari luar, pulang-pulang semua bus kami pecah. Dari stadion kita jalan ke salah satu terminal di Jogjakarta karena waktu itu bus diiring oleh aparat ke terminal agar tidak berlanjut kerusuhan. Uniknya, kami berjalan kaki tanpa melakukan pembalasan, itu momen yang susah dilupakan,” tuturnya dengan semangat.

Tak hanya itu, momen tak terlupakan juga terjadi saat Pasoepati menyewa loko 12 gerbong tur ke Surabaya, untuk mengawal Pelita melawan Persebaya.

“Dari (stasiun) Gubeng ke stadion kami disambut Bonek. Saat pertandingan masih kondusif dan sempat ada ejek-ejekan chant antar supporter. Laga selesai kami pulang dilempari batu oleh Bonek namun tertolong dengan hujan. Saat hujan, kami dijemput dengan mobil armada Brimob dibawa ke Gubeng. Syukurnya tidak ada korban sama sekali, dan kami berhasil pulang ke Solo dengan selamat,” tuturnya. (ryn/nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia