alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Sosok Teguh Prakosa, Tolak Tawaran Jadi ASN, Pilih Urus Partai

26 Juli 2020, 14: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Sosok Teguh Prakosa, Tolak Tawaran Jadi ASN, Pilih Urus Partai

SOLO – Nama Teguh Prakosa sudah tidak asing dalam perpolitikan Kota Surakarta. Lahir dari keluarga PNI, Teguh tumbuh sebagai loyalis PDIP. Dia sudah tiga kali terpilih sebagai anggota DPRD Surakarta.

Pria 61 tahun itu awalnya bekerja sebagai seorang guru tidak tetap di sekolah swasta sejak 1986. Saat itu, Teguh juga sudah mulai menjadi pengurus partai.

"Pada waktu wali kotanya Pak Slamet Suryanto, saya ditawari menjadi PNS. Diberi waktu satu minggu berpikir, akhirnya saya tolak dan memilih mengurus partai," terangnya. 

Pertama kali menjadi pengurus partai, Teguh berada di posisi koordinator desa. Perjalanan karier politiknya terus menanjak, Teguh lalu menjadi Sekretaris DPC PDIP Solo sejak 2005 hingga sekarang.

"Saya tidak pernah punya maksud menjadi seperti sekarang ini. Yang menuntun saya menuju ke sini berkat bimbingan pak ketua DPC PDIP (F.X. Hadi Rudyatmo)," ujar pria kelahiran 10 November 1958 itu.

Pada 2009, Teguh kali pertama mengikuti pemilihan calon legislatif DPRD Surakarta. Maju dari daerah pemilihan (dapil) Pasar Kliwon-Serengan, Teguh sukses lolos ke parlemen.

"Waktu itu saya jadi caleg (calon legislatif) juga atas perintah ketua. Awalnya menolak karena masih ada senior saya. Tapi akhirnya lolos," katanya.

Pada periode keduanya, Teguh dipercaya menjadi ketua DPRD Surakarta. Kemudian pada periode ketiga ini, dia duduk di komisi III dan akan melepaskan jabatannya untuk mendaftarkan diri dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020.

Teguh akan mencontoh F.X. Hadi Rudyatmo yang pernah dalam posisi serupa. Jika dulu Rudy mengawal Wali Kota Jokowi, kini Teguh mengawal putra Jokowi. “Ini menjadi tantangan bagi saya. Dari sekian tahun saya mengawal Jokowi-Rudy, lalu Rudy-Purnomo, sekarang saya maju di eksekutif. Nanti kita lihat apa yang belum selesai, kami selesaikan," janjinya.

Program 3WMP atau waras, wasis, wareg, mapan, papan yang selama ini berjalan merupakan fondasi bagi Gibran-Teguh membuat visi-misi yang akan ditawarkan kepada warga Solo.

“3WMP tidak mungkin hilang. Kebutuhan dasar ini harus dikunci, anggaran sekian miliar itu harus dikunci, selebihnya kesempatan Mas Gibran mengembangkan,” katanya.

Teguh mengaku telah sedikit membicarakan visi-misi dengan Gibran. Dia membocorkan sekelumit gambaran yang akan dilakukan Gibran. "Ya intinya UMKM dan pariwisata. Dan itu adalah satu kesatuan. Kalau ada pariwisata pasti UMKM hidup. Tapi 3WMP itu fondasi, jadi sudah tepat," ucapnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia