alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Hudzaifah Salman Rabbani, Bocah SMP Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

28 Juli 2020, 13: 43: 52 WIB | editor : Perdana

Salman Rabbani menunjukkan sabun karyanya dan mencobanya untuk mencuci kain.

Salman Rabbani menunjukkan sabun karyanya dan mencobanya untuk mencuci kain. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

Minyak jelantah biasanya dibuang. Padahal dari hasil ekspresimen Salam Rabbani, minyak goreng bekas ini bisa digunakan untuk bahan membuat sabun. Lho kok bisa?

RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo

SABUN batang berbentuk segi empat itu digoreskan Salman pada kain serbet makanan yang kotor. Setelah dirasa cukup, siswa SMP ini mulai membilasnya dengan air. Noda yang sebelumnya ada tampak menghilang. Bahkan, serbet makanan itu jauh lebih bersih dan keset. 

Ya, sabun batang tersebut awalnya akan digunakan untuk sabun cuci tangan. Namun, belum ada uji laboratorium untuk menentukan keamanan kandungan sabun. Menilik bahan dasar yang digunakan adalah minyak jelantah atau minyak goreng sisa. 

Tetapi, sepanjang pemakaian untuk mencuci, masih aman digunakan. Dan tidak menimbulkan iritasi pada tangan. Sehingga sabun jelantah itu baru sebatas digunakan keluarga Salman yang kini tinggal di Perumahan UNS IV Triyagan Mojolaban, Sukoharjo.

“Awalnya  setiap habis menggoreng banyak minyak jelantah. Kalau dibuang pasti bikin kotor. Lalu saya baca-baca referensi di internet untuk memanfaatkan minyak jelantah ini. Dan ternyata bisa didaur ulang untuk bahan membuat sabun,” ungkap Salman pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (27/7). 

Anak yang hobi olahraga ini mengaku mendapat bimbingan dari sang ibu yang merupakan lulusan jurusan kimia. Berbekal minyak jelantah sebanyak 500 mililiter (ml), 120 ml nitrogen hiroksida (NaOH), dan ekstrak serai atau pandan serta esktrak teh, Salman berhasil membuat sabun batangan yang dicetaknya dalam tempat bekal makanan. 

“Jadi minyak jelantah tadi dikumpulkan. Lalu disaring dulu dan direndam dengan arang selama sehari semalam. Setelah direndam minyaknya jadi lebih jernih dan tidak berbau. Lalu disaring lagi untuk memisahkan dengan arangnya,” katanya. 

Setelah dirasa cukup jernih, minyak jelantah dicampur dengan cairan NaOH sebanyak 120 ml. Keduanya dilarutkan dan ditambahkan dengan ekstrak serai atau pandan sebagai pewangi. Tidak lupa, menambahkan ekstrak teh sebagai antibakteri. Setelah semua bahan dilarutkan, cairan diaduk hingga mengental. 

“Kalau dirasa cukup mengental, lalu dituangkan di cetakan. Ditunggu sehari semalam biasanya sudah memadat. Namun, perlu waktu sepekan sampai dua pekan agar proses saponifikasinya sempurna. Baru bisa dipakai dengan aman. Dan dari takaran itu bisa menghasilkan sekitar 10 batang sabun,” ungkap siswa yang bercita-cita menjadi dosen ini. 

Salman mengaku sempat gagal. Dia telah empat kali membuat sabun jelantah ini. Kegagalan terjadi karena takaran campuran ekstrak serai itu belum tersaring bersih. Lalu menyisakan potongan daun yang ikut terlarut. Alhasil cairan sabunnya enggan mengental. Tidak putus asa, dia mencoba lagi sampai berhasil. 

“Bahan-bahannya masih ditemui di rumah. Hanya NaOH dibelikan ibu. Apalagi saya suka sains sejak kecil lalu membaca-baca ensiklopedia. Tiap habis baca selalu penasaran. Jadi saya coba eksperimen-eksperimen kecil di rumah sejak SD itu,” katanya. 

Beberapa eksperimen yang pernah dicobanya saat kecil seperti eksperimen cuka dengan baking soda, merica dengan sabun dan lainnya. Bahkan Salman juga gemar berekperimen dengan mencoba mencampur bahan-bahan yang ada di rumah. Kegemarannya ini terus berlanjut hingga sekarang. 

“Sekarang masih pembelajaran jarak jauh (PJJ) di SMPN Lazuardi Kamila GIS. Jadi ada pendampingan juga dari ibu. Dan eksperimen-eksperimen masih saya lakukan di rumah. Seperti membuat sabun jelantah ini. Dan sementara ini masih digunakan sendiri,” katanya. (*/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia