alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

1.500 Siswa di Solo Kesulitasn Ikuti Belajar Jarak Jauh, Tak Punya HP

30 Juli 2020, 09: 44: 59 WIB | editor : Perdana

Kepala Disdik Surakarta Etty Retnowati

Kepala Disdik Surakarta Etty Retnowati

Share this      

SOLO – Evaluasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta. Setidaknya ada 1.000 - 1.500 anak yang tidak memiliki handphone (HP) dan kesulitan mengakses PJJ. Pemkot lantas berupaya menggandeng pihak ketiga melalui program corporate social responsibility (CSR) untuk membantu memfasilitasi akses internet siswa yang kurang mampu. 

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Surakarta Etty Retnowati menyebutkan, ada 1.000 sampai 1.500 siswa kelas VII yang belum terfasilitasi selama PJJ. Data tersebut diambil dari sepertiga total kuota keluarga miskin (gakin) untuk jenjang SMP. Rata-rata mereka tidak memiliki ponsel pintar sendiri atau masih harus menebeng anggota keluarga lainnya. 

“Kalau kita logikakan yang kuota gakin ada 30 persen dan sepertiga dari 4 ribu anak yang diterima, angkanya sekitar 1.000 sampai 1.500 anak tidak memiliki handphone. Jadi kita upayakan agar bisa mengakses pembelajaran. Dan selama ini masih ada kendala untuk mengikuti PJJ,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (29/7). 

Tidak hanya itu, jika diakumulasi dengan siswa kelas VIII dan IX angkanya bisa mencapai 4 ribuan anak. Etty mengaku telah membicarakan hal tersebut kepada Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Agar pemkot bisa memberikan solusi bagi anak yang kesulitan  mengikuti PJJ. Menilik kegiatan PJJ akan dilakukan sampai akhir tahun. 

“Saya sudah matur wali kota dan sudah dibicarakan. Pemkot akan mencarikan bantuan CSR dulu. Ini masih menunggu. Kami prioritaskan dulu yang 1.000 sampai 1.500 anak itu dulu,” imbuhnya. 

Selain itu, Etty menilai guru sekolah di Solo sudah cukup siap menghadapi PJJ. Hanya, memang ada guru-guru senior yang harus mengikuti perkembangan teknologi pembelajaran. “Meski harus bisa mengikuti perkembangan teknologi, saya rasa semangatnya sama dan lancar (PJJ, Red). Insya Allah masuk sekolah juga sama 2 Januari 2021 kalau situasinya sudah memungkinkan. Itu juga prediksi kita. Namun, kita berharapnya situasi kondisi aman tentu segera kami persiapkan,” imbuhnya. 

Selain itu, untuk menambah semangat PJJ siswa, pemkot membagikan 30 sepeda dan 15 laptop. Pembagian tersebut merupakan hadiah bagi pemenang kuis siaran pembelajaran Radio Konata. Di mana pembagian hadiah dimulai sejak Senin (27/7) lalu sampai September mendatang. Setiap sekolah yang mengisi kegiatan pembelajaran wajib menyiapkan soal yang berbobot. 

“Ada 30 sepeda, untuk SD 15 sepeda dan SMP 15 sepeda. Juga 15 laptop, untuk SD lima buah dan SMP 10 buah. Dan itu akan dibagikan satu hari satu. Yang menang juga bisa jadi anak sekolah lain karena yang menyimak kan dari siswa sekolah lain yang mengisi,” katanya. 

Mekanisme pengambilan hadiah cukup mudah. Sebelumnya seksi siaran akan mengisi data pada form surat keterangan verifikasi bagi siswa yang menang. Dan telah ditandatangani seksi siaran serta narasumber. Kemudian diserahkan ke Bidang SD Disdik Surakarta untuk dimintakan tanda tangan kadisdik. Pemenang bisa mengambil di kantor wali kota. 

Sementara itu, Kepala SMPN 10 Surakarta Joko Slameto mengakui, pelaksanaan PJJ memang masih ada kendala. Terutama soal kendala fasilitas seperti HP. Sebab, dalam satu kelas, ada 2-3 anak yang tidak memiliki HP sendiri. Ada yang menebeng pada orang tua maupun saudara. Bahkan, ada temuan di mana seluruh nomor anggota keluarga dimasukkan ke WhatsApp Grup (WAG). 

“Kami ada opsi untuk orang tua mengambil printout tugas ke sekolah atau siswa school visit yang menggunakan laboratorium komputer untuk mengikuti PJJ. Namun, school visit harus izin dulu ke dinas kesehatan dan disdik. Jadi belum bisa dilakukan. Ditambah lagi sekitar 60 persen dari 37 guru di SMPN 10 Surakarta masuk kategori angkatan tua. Jadi harus belajar lagi mengikuti perkembangan,” terangnya. 

Serupa, Kepala SMPN 15 Surakarta Iswita mengatakan, pendataan siswa yang terkendala HP tengah dilakukan. Sebab, masih ditemukan siswa yang nebeng HP orang tua. Sehingga PJJ tidak bisa tepat waktu seperti anak lain. Dan sekolah mengambil langkah untuk menolerir siswa-siswa yang terkendala fasilitas itu. 

“Pembelajaran kan diunggah di Youtube sekolah. Untuk siswa yang tidak memiliki ponsel sendiri masih bisa menyimak, meski terlambat. Yang penting absensi dan jurnal kegiatan siswa selama sehari tetap diisi,” papar Iswita. (rgl/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia