alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Belasan Batu di Watu Sigong Mranggen Diduga BCB dari Zaman Majapahit

30 Juli 2020, 10: 22: 33 WIB | editor : Perdana

Disparbudpora bersama Klaten Heritage Community mengecek benda yang diduga BCB di Desa Mraggen, Kecamatan Jatinom, Rabu (29/7).

Disparbudpora bersama Klaten Heritage Community mengecek benda yang diduga BCB di Desa Mraggen, Kecamatan Jatinom, Rabu (29/7). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten terjun ke lapangan, menginventarisasi benda yang diduga cagar budaya di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, kemarin (29/7). Rombongan dipimpin Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbudpora Klaten Yuli Budi Susilowati menuju ke Watu Sigong di Desa Mranggen. Terdapat 11 batu yang salah satunya menyerupai alat musik gamelan, yakni gong.

Belasan batu tersebut dibiarkan tergeletak tak bertuan di tanah kas desa setempat. Tak terawat karena tertutup ilalang. Setiba di lokasi, tim dari disparbudpora langsung mengukur dimensi batu tersebut.

“Ini upaya kami dalam pelastarian situs cagar budaya di Klaten. Nanti akan kami koordinasikan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Kepastian apakah masuk benda cagar budaya (BCB) atau bukan, biar dilihat BPCB dulu,” jelas perempuan yang akrab disapa Susi tersebut.

Jika belasan batu tersebut masuk cagar budaya, disparbudpora siap mengelolanya. Sebagai catatan selama ini sering ditemui BCB di Kota Bersinar. Mayoritas dalam wujud lingga dan yoni.

“Setidaknya benda-benda ini bisa dibawa ke kantor (disparbudpora) dulu untuk dijadikan satu. Ada rencana akan ditempatkan semacam di museum,” urainya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Mranggen Parsidi menambahkan, ada batu yang bentuknya mirip gong (alat musik gamelan). Bahkan di malam tertentu, warga sering mendengar alunan musik gamelan dari arah bebatuan tersebut. “Tetapi saat dicari sumbernya, suaranya menghilang. Jujur saya tidak tahu sejarahnya. Tapi, sudah lama ada di tempat tersebut dan ada yang berani memindah,” ujarnya.

Rombongan disparbudpora didampingi para pegiat Klaten Heritage Community (KHC). Seorang di antaranya Harry Wahyudi. Dia meyakini batu-batu tersebut peninggalan Mataram kuno. Tepatnya pada abad ke-8 hingga 10. Bisa dilihat dari relief yang masuk kelas candi pinggir.

“Kami menduga, batuan itu bagian dari candi. Tapi campuran karena terdapat umpak. Ada bangunan semi permanennya. Tetapi yang jadi pertanyaan, terkait kemuncaknya. Ini yang belum terpecahkan,” urai Harry.

Dia berharap disparbudpora terus melakukan pendataan terhadap benda yang diduga BCB di Kota Bersinar. Harapannya, bisa terselamatkan dan terawat. Sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya dan warisan untuk generasi penerus. (ren/fer/ria) 

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia