alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Borong Emas saat Harga Kian Menggila, Toko Emas di Solo Kehabisan Stok

30 Juli 2020, 10: 35: 56 WIB | editor : Perdana

Logam mulia banyak diserbu konsumen meski harganya kini melambung hingga Rp 1 juta per gram.

Logam mulia banyak diserbu konsumen meski harganya kini melambung hingga Rp 1 juta per gram. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Harga logam mulia (LM) kian hari terus meroket. Saat ini harganya tembus di atas Rp 1 juta per gram. Anehnya, toko emas mengaku justru kewalahan memenuhi permintaan lantaran banyak konsumen memesan barang ini. Harga yang diprediksi akan terus melambung tinggi dipercaya sebagai investasi yang tepat di masa krisis ini.

“LM ini banyak sekali yang mencari. Banyak yang beli sampai kami kehabisan stok. Jadi beberapa pembeli harus inden dulu agar bisa dapat LM,” beber owner toko emas di Solo Paragon Mall Mona Pangestu kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Ada empat LM yang dijual di toko emasnya. Yakni LM Antham seharga Rp 1.025.000 per gram, LM Lotus Archi seharga Rp 1.028.000 per gram, LM UBS seharga Rp 957 ribu, dan LM Jawa seharga Rp 927 ribu. Keempatnya diburu pembeli tergantung stok yang tersedia. 

“Jadi tidak ada yang paling diminati. Semuanya dibeli. Tinggal yang ada barangnya yang mana. Bahkan, kami harus cari barang, biasanya ke Jakarta. Untuk memenuhi pembeli yang inden ini,” sambungnya.

Selain LM, emas jenis perhiasan juga banyak diburu masyarakat. Meski ada masyarakat yang memanfaatkan kondisi ini dengan menjual emasnya, namun persentasenya sangat sedikit. Hanya 10 persen masyarakat yang menjual perhiasannya. Selebihnya justru membeli emas meskipun hanya ringan. 

“Banyak yang beli karena investasi. Mayoritas pembeli ini merasa lega karena bisa memegang sendiri investasinya secara fisik. Beda kalau di bank hanya diberi kertas. Kalau emas, terutama perhiasan kan bisa dipakai sendiri. Yang simple aja seperti cincin atau gelang,” jelasnya.

Mona melihat fenomena kenaikan harga emas ini tidak lantas membuat masyarakat berbondong-bondong menjual emasnya. Justru menjadi momen bagi masyarakat menambah investasinya. Ia menilai masyarakat cenderung menunggu harga emas ini sampai di titik tertinggi.

“Masyarakat itu sebenarnya sebutuhnya saja menjual emas. Kalau tidak butuh, meskipun harganya tinggi, ya tidak dijual. Kalaupun mau dijual, ya lihat dulu ini harganya akan k emana. Makin tinggi atau akan turun,” ujarnya.

Salah seorang konsumen, Vie Achmadi memilih menjual perhiasannya seberat 5,1 gram dengan kadar 50 persen atau 12 karat. Vie menerima Rp 2.250.000 dari hasil penjualannya. Padahal harga beli perhiasan tersebut sebesar Rp 1,8 juta.

“Harusnya Rp 2,5 juta tapi dipotong 10 persen. Karena aturannya kalau jual emas memang harus dipotong segitu. Kalau harga emas sedang tinggi, ya masih untung,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin. 

Vie mengaku menjual perhiasannya lantaran aji mumpung harga emas sedang tinggi. Dia juga berspekulasi harga emas saat ini sudah harga tertinggi. Artinya, tidak akan bertambah mahal lagi. Sehingga kesempatan ini sayang jika dilewatkan. 

“Kebetulan sudah bosan juga sama perhiasan yang ini. Tapi kalau dijual pas harga emas murah kan rugi. Jadi mumpung pas harganya tinggi sekalian dijual saja,” sambungnya. 

Menurutnya, perhiasan memang barang yang mudah segera dijual jika membutuhkan uang tunai dalam waktu cepat. Itu yang menjadi pertimbangannya membeli perhiasan. Agar bisa dijual sewaktu-waktu untuk kebutuhan lain yang lumayan membutuhkan uang dengan nominal besar.

“Saya juga punya logam mulia. Tapi tidak berniat untuk dijual. Karena untuk investasi pendidikan anak. Saya meyakini di masa mendatang hanya emas yang nilainya stabil,” katanya.

Akhir tahun lalu, Vie membeli logam mulia seberat 5 gram seharga Rp 3 juta. Saat ini, dengan berat tersebut logam mulianya bisa dihargai sekitar Rp 5 juta. Namun dia enggan menjualnya dan memilih tetap menyimpannya. (aya/bun/ria) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia