alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Pakar Ekonomi: Tetap Waspada, Jangan Dulu Borong Banyak Emas

30 Juli 2020, 11: 02: 30 WIB | editor : Perdana

Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret Lukman Hakim.

Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret Lukman Hakim.

Share this      

SOLO - Kenaikan harga emas salah satunya dipicu oleh investasi di sektor finansial yang kurang menarik di masa krisis ini. Harga saham yang sedang turun. Ditambah nilai tukar rupiah yang melemah. Membuat investor beralih ke logam mulia. Logam mulia dinilai berbeda dibandingkan dengan barang investasi lain seperti saham. 

“Emas barang fisik yang langka. Semakin orang punya estimasi, barang itu semakin langka, maka orang banyak membutuhkan. Pasti nanti akan semakin tinggi harganya. Ini baru prakrisis. Kemungkinan dugaan saya akan naik terus harganya. Mungkin akan semakin mahal. Sampai nanti krisis selesai,” beber pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Lukman Hakim kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (29/7). 

Namun pada titik tertentu, masyarakat akan menilai harga emas sudah terlalu mahal. Maka harga emas akan turun sendirinya. Sebab, Lukman menyebut terkadang ada permainan pasar dalam situasi krisis ini. Banyak orang yang mencoba mencari keuntungan. Termasuk emas yang merupakan barang langka. Masyarakat punya estimasi bahwa harganya akan terus melambung. Sehingga ketika ditawarkan ke pasar, orang akan mencari.

“Tapi bisa jadi juga karena meskipun barang ini langka, tapi produsen emasnya sudah ada sendiri. Misalkan, Antham sebagai BUMN. Kemudian emas dunia juga sudah ada brokernya sendiri. Kalau dari segi pasar sifatnya oligopolis. Artinya, pemainnya tidak banyak. Dari pemain itu dia akan men-drive pasar bagaimana kalau kemudian harganya dinaikkan. Ternyata banyak peminatnya. Berarti orang punya estimasi akan naik terus barang ini,” jelasnya. 

Lukman mengimbau investor untuk waspada. Jangan hanya karena melihat peluang besar, kemudian memborong semua emas. Sebab, ini akan berimbas pada naiknya permintaan yang diikuti kenaikan harga. Sampai pada titik tertentu harga tersebut akan turun. Namun, berapa penurunannya tergantung demand and supply. 

“Bisa jadi merangkak dari Rp 500 ribu kemudian jadi Rp 1 juta. Bisa jadi minggu depan Rp 1,5 juta kalau kemudian orang berekspektasi akan naik terus. Yang perlu diwaspadai justru itu. Pasar yang tidak normal harus hati-hati. Justru para investor terutama menengah ke bawah menurut saya dalam situasi seperti ini, wait and see,” sambungnya. 

Terpenting, dalam situasi krisis yang tidak pasti kapan akan berakhir, sebaiknya memperkuat likuiditas. Lukman menegaskan saat ini cash is the king. Kekhawatirannya adalah jika sudah terlanjur membeli emas kemudian disimpan, lalu di kemudian hari ada masalah, maka investor akan rugi. Misalkan harganya turun atau tidak bisa dijual kembali. Sebab, ini spekulasi.

“Bagi masyarakat menengah ke bawah fenomena ini memang bagian dari strategi untuk menghadapi masalah likuiditas. Orang yang punya utang di bank, bunganya tinggi untuk membayar itu. Kemudian menjual emas. Sekarang kan untung. Kalau dulu belinya Rp 500 ribu sekarang Rp 1 juta. Untungnya bisa untuk recovery bisnisnya. Ini kesempatan,” imbuhnya. 

Sementara bagi masyarakat menengah ke atas, Lukman menganjurkan investor untuk memecah jenis kekayaan ke berbagai bentuk. Sebut saja, emas, saham, valas, dan tanah. “Kalau masing-masing kita share 25 persen. Agak aman. Kalau emas naik, pas saham turun. Aman. Sebaiknya begitu. Jadi tidak hanya dalam satu jenis kekayaan saja,” tandasnya. (aya/bun/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia