alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kenang Perjanjian Giyanti, 2 Warga Klaten Jalani Laku Badar 30 Km

Rasa Lelah Hilang setelah Satukan Mataram

30 Juli 2020, 11: 56: 03 WIB | editor : Perdana

Agung Bakar dan Iwan Purwoko jalani Laku Badar Giyanti dan bertemu di titik 0 Km Klaten, Rabu (28/7).

Agung Bakar dan Iwan Purwoko jalani Laku Badar Giyanti dan bertemu di titik 0 Km Klaten, Rabu (28/7). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Dua warga Klaten dari Komunitas Peduli Klaten melakukan perjalanan spritual Laku Badar Giyanti tepat di Hari Jadi Klaten ke-216. Agung Bakar dan Iwan Purwoko memulai perjalanan dari Kartasura dan Kota Gede. Lantas apa makna dan pesan yang ingin disampaikan melalui ritual ini?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

PERJALANAN Laku Badar Giyanti memang dilatarbelakangi adanya Perjanjian Giyanti pada 1755 yang dinilai telah membelah bumi Mataram. Hal ini yang membuat Jogja dan Solo dianggap tidak lagi bersatu. Kondisi tersebut telah mengusik Agung Bakar dan Iwan Purwoko untuk melakukan Laku Badar Giyanti.

Perjalanan spiritual Laku Badar Giyanti dilakukan dengan berjalan kaki sepanjang 30 km.

Perjalanan spiritual Laku Badar Giyanti dilakukan dengan berjalan kaki sepanjang 30 km. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Aksi spiritual ini diawali Agung Bakar dengan melakukan perjalanan kaki dari Keraton Kartasura, Sukoharjo menuju ke titik 0 Km Klaten. Ditandai dengan tugu cor di pinggir Jalan Pemuda di Kampung Kanjengan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah yang tertera tulisan KLAT 0 di sisi kiri dan YOGY 30 di sisi kanan.

Perjalanan Agung dimulai Senin (27/7) malam pukul 19.30 dengan membawa kendi berisikan air dari sumur keraton setempat. Dalam perjalanannya dari Kartasura ke pusat Kota Klaten, Agung membawa kain merah polos dan batik sidomukti. 

Awalnya, perjalanan dari Kartasura ke Delanggu berjalan tanpa menggunakan alas kaki sama sekali. Hal ini yang membuat bagian telapak kaki Agung merasakan kesakitan sebelum akhirnya dilanjutkan dengan menggunakan sandal.

Usai menempuh perjalanan selama 10 jam lamanya dengan jarak sekitar 30 kilometer (km) akhirnya Agung sampai di titik 0 km Klaten pada Selasa (28/7) pagi pukul 06.00. Sementara saat itu Iwan Purwoko melakukan perjalanan dari Kota Gede, Jogja pada Senin (27/7) malam sekitar pukul 20.00 belum sampai.

Iwan baru sampai di titik 0 km Klaten sekitar pukul 09.00 usai melakukan perjalanan sekitar 35 km dalam 11 jam lamanya. Hampir sama dengan Agung, Iwan juga membawa kain polos berwarna putih dan kendi berisikan air. Tampak sekali Iwan begitu tertatih-tatih untuk sampai 0 km tersebut.

Agung dan Iwan saling bertemu tepat di titik 0 km Klaten yang dilanjutkan dengan prosesi yang diiringi tarian. Air yang ada di dalam dua kendi itu lantas dijadikan satu dan diarak hingga di depan Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Klaten. Dengan prosesi yang dijalani itu diharapkan bisa menandai berakhirnya kegelisahan atas Perjanjian Giyanti 1755.

Pertemuan itu pula yang diharapkan menjadi simbol bersatunya Bumi Mataram dengan semangat persatuan dan kesatuan negeri. Adapun kain merah dan putih yang dibawa Agung dan Iwan memang direncanakan untuk dijahit agar menjadi bendera Indonesia yakni Sang Saka Merah Putih.

“Saya kira untuk prosesnya biasa saja. Tapi ini semua sebuah pengharapan dan pelaksanaan Mataram Nyawiji. Bagimana prosesi bisa menyatukan kembali sebagai masyarakat Mataram antara Jogja dan Solo. Ini harapan dari kami seperti itu maka prosesi Badar Giyanti ini kita lakukan,” ucap Agung yang tinggal di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo.

Meskipun seluruh badannya merasakan sakit, tetapi terobati atas niatannya untuk menyatukan Mataram. Dia juga memiliki harapan di Hari Jadi Klaten ke-216 ini bisa menghargai kebudayaan. Jadi bukan sekadar seremonial, tapi mampu mendudukkan pada tempatnya.

Sementara itu, Iwan yang tinggal di Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan ini sejak sampai di titik 0 km itu tidak banyak berbicara karena rasa lelah yang dirasakannya. Apalagi bagian kakinya yang menonjol karena saat perjalanan dari Kota Gede sampai Bandara Adisucipto Jogja tidak menggunakan alas kaki. Hingga akhirnya melanjutkan perjalanan kembali dengan mengenakan sandal.

Dalam melakukan perjalanan itu Iwan sempat berhenti di sejumlah titik seperti di daerah Janti, Bandara Adisucipto, Kalasan, Prambanan, Kemudo, dan Tegalmas. Sampai di titik 0 km Klaten Iwan mengikuti prosesi dan sempat meneteskan air mata atas perjalanan spritual Laku Badar Giyanti untuk menyatukan Mataram. (*/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia