alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Koperasi sebagai Tulang Punggung Pemulihan Ekonomi

30 Juli 2020, 19: 57: 47 WIB | editor : Perdana

Koperasi sebagai Tulang Punggung Pemulihan Ekonomi

Oleh: Anton A Setyawan, Guru Besar Ilmu Manajemen Fak Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi selalu kita peringati dengan berbagai upacara dan seremoni lainnya. Namun demikian perkembangan badan usaha ini masih saja termarjinalkan.

Data dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan di Indonesia saat ini tercatat ada 177.000 koperasi dan 28 persen di antaranya tidak aktif. Sisanya meskipun beroperasi, namun belum mencapai kinerja yang memuaskan.

Pada masa kelesuan ekonomi karena pandemi Covid-19 yang berpotensi menjadi krisis bahkan resesi ekonomi nasional, koperasi Indonesia saat ini menghadapi sebuah pilihan menarik, yaitu menjadi lembaga bisnis yang memotori pemulihan ekonomi atau justru terpuruk karena krisis ekonomi.

Sebuah organisasi bisnis yang mengalami perubahan lingkungan eksternal harus melakukan penyesuaian. Langkah penyesuaian dilakukan mulai dari penyesuaian taktik bisnis sampai dengan transformasi organisasi.

Masalah restrukturisasi bisnis ini menjadi salah satu kunci dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Koperasi adalah sebuah badan usaha dengan karakteristik khusus.

Badan usaha atau organisasi bisnis koperasi mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi sosial dan bisnis. Fungsi sosial koperasi adalah kewajiban untuk memenuhi kesejahteraan anggotanya, sedangkan fungsi bisnis adalah menciptakan nilai tambah ekonomi atau keuntungan bisnis.

Namun demikian, untuk mencapai kedua tujuan tersebut, mau tidak mau koperasi harus memilik kemampuan untuk menghasilkan keuntungan bisnis (profit).

Koperasi adalah sebuah organisasi bisnis yang harus memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam praktik bisnis. Koperasi harus menerapkan prinsip manajemen modern apabila mempunyai tujuan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Penerapan prinsip manajemen modern ini untuk menghindari koperasi agar tidak terjebak menjadi organisasi yang lembek dan tidak mampu bersaing dalam iklim bisnis. Kritik yang selama ini dialamatkan pada koperasi pada umumnya adalah ketidakmampuan mereka bersaing dalam praktik bisnis.

Koperasi terjebak pada fungsi sosialnya, sehingga mereka kurang inovatif dan tidak mempunyai keberanian dalam mengambil risiko.

Membangun Daya Saing

Organisasi bisnis yang mengalami perubahan lingkungan perlu memperkuat daya saingnya. Daya saing sebuah organisasi bisnis berasal dari sumber daya internalnya (resource base). Oleh karena itu, perusahaan harus mampu mengidentifikasi sumber daya internalnya sebagai cara untuk menemukan daya saing.

Pendekatan Value Chain Analysis atau Value Chain Management adalah  sebuah pendekatan analisis perusahaan yang dikemukakan oleh Porter (1985).

Dalam analisis ini, sebuah industri dibagi menjadi dua kelompok aktivitas, yaitu aktivitas pendukung dan utama. Kedua jenis aktivitas ini menjadi unsur pembentuk daya saing perusahaan.

Permasalahan mendasar dari koperasi adalah tidak adanya kemauan dan kemampuan dalam mengelola usahanya secara profesional dan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, tidak antisipatif terhadap perubahan, dan tidak mempunyai visi jangka panjang (Thoha 2000, Masyhuri, 2000).

Sebenarnya pemerintah dan LSM telah banyak melakukan program-program pendampingan bagi mereka. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Hal ini dapat di lihat dari dua sisi, pertama, program-program pendampingan tersebut bersifat teknis dan permodalan.

Padahal masalah internal pengusaha kecil-menengah adalah rendahnya kualitas kewirausahaan mereka. Kedua, kurangnya tenaga profesional dalam koperasi. Sebagian besar dari mereka adalah para sarjana fresh graduated yang direkrut oleh badan usaha ini.

Mereka kurang memiliki komitmen kuat karena menganggap pekerjaan ini hanya sebagai “batu loncatan” menuju pekerjaan lain yang lebih prestos.

Keunggulan kompetitif muncul pada saat sebuah perusahaan menemukan cara yang lebih efisien untuk bersaing dalam sebuah industri dan kemudian menyusun strategi dalam bentuk yang konkret berdasarkan temuan tersebut (Passemard dan Kleiner, 2000).

Menciptakan keunggulan kompetitif adalah sebuah usaha yang sulit, namun menjaganya tetap di perusahaan adalah usaha yang lebih sulit lagi. Passemard dan Kleiner (2000) menyatakan, pemeliharaan keunggulan kompetitif tergantung dari tiga hal. Pertama, sumber keunggulan kompetitif. Ada hierarki di antara keunggulan ini, yaitu keunggulan minor (misalnya: tenaga kerja yang murah) dan keunggulan mayor (misalnya: penguasaan teknologi baru).

Kedua, jumlah keunggulan kompetitif. Kuncinya semakin banyak sebuah perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif maka semakin baik.  Ketiga, mengubah strategi perusahaan secara terus menerus untuk menuju pada kinerja perusahaan yang terbaik. 

Noer Soetrisno (2003) dalam sebuah tulisannya di Jurnal Ekonomi Rakyat, membagi koperasi menjadi tiga kelompok, terkait dengan pengaruh perdagangan bebas, yaitu koperasi produsen, koperasi konsumen dan koperasi kredit dan jasa keuangan.

Koperasi produsen yang bergerak di bidang produksi mengalami pengaruh langsung perdagangan bebas. Hal ini dikarenakan di era perdagangan bebas maka semua hambatan perdagangan dihilangkan, padahal biasanya koperasi menikmati proteksi yang diberikan pemerintah. 

Pandemi Covid-19 mempunyai sisi positif bagi koperasi. Koperasi bisa menjadi salah satu pilihan lembaga yang menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi.

Krisis ekonomi tahun 1998 lalu, salah satu kebijakan pemulihan ekonomi yang ditempuh pemerintah masa itu adalah mendorong tumbuhnya koperasi-koperasi baru sebagai unit bisnis yang menampung korban PHK, sehingga mereka bisa menjadi wirausahawan-wirausahawan baru.

Masalahnya dengan realitas kinerja yang belum optimal bisakah kita berharap koperasi Indonesia menjadi sebuah unit bisnis yang unggul? Kiranya jawaban dari pertanyaan itu ada ditangan para pelaku ekonomi nasional, yaitu pemerintah, pengusaha dan masyarakat. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia