alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Gemolong Diproyeksi Jadi Kota Satelit, Pemkab Gencar Undang Investor

01 Agustus 2020, 12: 17: 08 WIB | editor : Perdana

Salah satu sudut Kecamatan Gemolong yang akan dikembangkan.

Salah satu sudut Kecamatan Gemolong yang akan dikembangkan. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Wilayah Kecamatan Gemolong dan sekitarnya diproyeksikan menjadi kota satelit Kabupaten Sragen. Hal itu berdasarkan peraturan daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sragen 2020.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen Marija menyampaikan, Gemolong lokasinya strategis. Berada di persimpangan tiga kota/kabupaten. Yakni Solo, Boyolali, dan Grobogan. Didukung kawasan industri Kalijambe, juga potensial untuk investasi. Bahkan, bakal ada penambahan kawasan pemukiman di Gemolong seluas 1.500 hektare.

”Potensi pengembangan Kecamatan Gemolong sangat besar, daripada Sragen kota sudah mentok karena dikelilingi irigasi,” jelas Marija.

Dia menjelaskan, dengan pengembagan industri di sekitarnya seperti Kalijambe, Tanon, Sumberlawang, dan Miri tentu akan berdampak positif. Termasuk rencana pengembangan wisata di Gunung Kemukus dan Waduk Kedung Ombo (WKO) yang saat ini tahap lelang. Selain itu, juga ada rencana penyambungan Desa Gilirejo Lama-Gilirejo Baru di Kecamatan Miri yang melintasi WKO.

”Selama ini warga Gilirejo Baru kalau mau ke Sragen harus melintasi wilayah Kabupaten Boyolali,” terangnya.

Pengembangan di Gemolong akan terbantu lebih cepat dengan pembuatan jalan lintas utara Sragen. Menyambungkan dari Kecamatan Sambungmacan, Tangen, Sukodono sampai tembus wilayah Sumberlawang.

”Jalan lintas itu sudah tersambung dan sudah cor, ini juga pengembangan Singensumonar,” bebernya.

Untuk pengembangan yang lebih spesifik wilayah kota satelit Gemolong, seperti sebagai lokasi sentra perdagangan, wisata, hiburan, dan sebagainya memang tidak muncul dalam RTRW. Sehingga pemkab bakal menyiapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk membahas lebih rinci.

”Misalnya untuk RDTR Gemolong nanti lebih detail, seperti pelebaran jalan, pemukiman, dan sebagainya,” ucap Marija.

Dia membuka ruang seluas-luasnya untuk investor terkait tata ruang di Sragen. Informasi terkait tata ruang bisa menghubungi DPUPR.

”Siapapun yang mencari informasi tentang tata ruang, kami layani. Agar tidak salah, misalnya terlanjur beli lahan untuk industri ternyata dalam aturan tidak diperkenankan,” tuturnya. (din/adi/ria) 

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia