alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Perjuangan Siswa Berburu Akses Internet Gratis demi Belajar Online

Numpang Wifi Kantor Desa, Tempuh Jarak 4 Km

01 Agustus 2020, 13: 39: 11 WIB | editor : Perdana

Dika dan Aditya belajar online via HP di teras Kantor Desa Bogem, Kecamatan Bayat, Klaten.

Dika dan Aditya belajar online via HP di teras Kantor Desa Bogem, Kecamatan Bayat, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Belajar secara online di masa pandemi Covid-19 tak selamanya berjalan mulus. Sebab, tidak semua siswa memiliki akses internet. Agar tidak tertinggal pelajaran, siswa di Desa Bogem, Bayat, Klaten ini terpaksa numpang wifi di balai desa setempat. Bagaimana perjuangannya?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

TERIK sinar matahari begitu menyengat di sekitar Kantor Desa Bogem, Kecamatan Bayat, Kamis siang (30/7). Namun, itu tak membuat Dika Saputra malas-malasan untuk belajar online. Siswa yang duduk di Kelas VIII SMP Muhammadiyah 7 Bayat itu tidak bisa lepas dari pandangan smartphone-nya. Dia cukup memperhatikan penugasan yang diberikan gurunya via WhatsApp (WA).

Dika tidak hanya sendiri. Masih ada Aditya Alfa Rizki. Dia duduk di kelas IV SDN 1 Melikan, Bayat. Dia juga sedang belajar online lewat smartphone yang digenggamnya. Awalnya mereka belajar di sekitar musala belakang kantor desa. Sebelum akhirnya pindah ke bagian depan kantor untuk memanfaatkan wifi gratis sehingga bisa mengakses internet secara maksimal.

Mereka berdua sebenarnya bukan warga Desa Bogem, melainkan Desa Melikan. Jarak kedua kantor desa sekitar 4 kilometer (km). Setiap hari mereka mengayuh sepeda dari rumah masing-masing untuk belajar di Kantor Desa Bogem. Mengingat pemerintah desa setempat menyediakan fasilitas free wifi bagi warganya.

“Belajar online-nya ya sudah lama sejak pandemi Covid-19. Sebenarnya mengakses dari rumah bisa dan lancar, tapi kuotanya terbatas. Makanya saya pilih ke kantor desa karena ada fasilitas free wifi,” ucap Dika di sela-sela belajar online di Kantor Desa Bogem.

Setiap hari, Dika bersama teman-temannya mendatangi Kantor Desa Bogem dengan mengayuh sepedanya sekitar pukul 10.00. Dia memanfaatkan betul fasilitas free wifi itu untuk belajar online. Mulai dari memperhatikan penjelasan dari guru hingga penugasan yang diberikan kepada para siswa. Seperti saat itu dia sedang belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Sebelum memanfaatkan fasilitas free wifi itu, Dika dibelikan oleh orangtuanya kuota internet sebesar 4 GB. Orangtuanya harus merogoh kocek Rp 23 ribu untuk penggunaan internet sekitar 25 hari. Meski sudah dibelikan kuota internet, tetapi Dika tidak ingin menyusahkan orang tuanya.

“Selama ini memang pulsa dari bapak ibu sebelum akhirnya menggunakan free wifi ini. Pukul 10.00 berangkat ke kantor desa dan sekitar sejam biasanya sudah selesai mengerjakan tugas,” ucap Dika yang merindukan belajar secara tatap muka dengan guru dan teman-temannya di kelas ini.

Selama ini dalam belajar online Dika selalu bersama sahabatnya yang masih satu desa, yakni Aditya Alfa Rizki. Bocah yang duduk di kelas IV SD ini tanpa mengeluh mengayuh sepeda menuju ke Kantor Desa Bogem demi belajar online. Meski sebenarnya sudah beda wilayah, baik desa maupun kecamatan.

“Sebenarnya di desa kami juga ada fasilitas wifi, tetapi dikasih sandi (password). Makanya saya memiliki ke sini (Kantor Desa Bogem) karena gratis,” ucap Aditya yang saat itu belajar matematika.

Sekretaris Desa (Sekdes) Bogem Hariyanta mengatakan jika fasilitas free wifi di kantor desanya sebenarnya sudah ada sejak 2007. Fasilitas itu dihadirkan mengingat warganya kesulitan dalam mengakses internet ketika mengerjakan tugas sekolah. Sebab, wilayah Desa Bogem sendiri dikeliling perbukitan serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, DIJ.

“Bertepatan dengan pandemi Covid-19 ini yang mengharuskan belajar di rumah dan memerlukan kuota internet, maka  kami bagikan informasi melalui media sosial supaya warga lainnya tetap mengetahuinya," jelasnya.

Dira pun tetap mempersilakan warga dari luar desa seperti Dika dan Aditya untuk mengakses internet demi belajar online. “Rata-rata setiap harinya ada sekitar 10 siswa hingga 15 siswa baik SD dan SMP yang belajar online di kantor desa setempat,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia