alexametrics
Kamis, 29 Oct 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Inovasi dan Solusi UMKM di Era Pandemi Covid-19

06 Agustus 2020, 13: 13: 24 WIB | editor : Perdana

Inovasi dan Solusi UMKM di Era Pandemi Covid-19

Oleh: Kussudyarsana,  Dosen Prodi Manajemen, FEB UMS Surakarta

UMKM tidak terlepas dari dampak buruk pandemi Covid-19.  Berbeda dengan krisis 1998, yang dampak buruknya lebih mengena pada usaha besar, maka pandemi Covid-19  juga menyasar UMKM.

Banyak UMKM yang  mengalami penurunan pendapatan hingga harus menghentikan usahanya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh organisasi buruh internasional (ILO) di Indonesia pada kurun waktu 6-24 April 2020 ditemukan hampir 70 persen UMKM stop produksi. Sebanyak 63 persen UMKM meminta karyawannya untuk cuti berbayar atau tidak berbayar. Sebanyak 90 persen mengalami masalah arus kas.

Banyak pakar dan pembicara  berpendapat bahwa UMKM harus melakukan inovasi agar dapat bertahan di tengah pandemi. Inovasi di anggap sebagai obat generic yang mampu membawa UMKM bertahan dan keluar dari krisis.

Kondisi saat ini ibarat pesawat yang terkena angin turbulensi yang mengakibatkan sebagain mesin dan perangkat lainnya mengalami kerusakan. Dalam kondisi mesin rusak, maka sang pilot harus mampu berimprovisasi, melakukan kreativitas dan terobosan agar dapat mendaratkan pesawat dengan risiko terkecil.

Definisi dan Bentuk Inovasi

Dalam kamus Merriam-Webster, inovasi mengacu pada sesuatu yang baru atau membuat perubahan bagi produk, ide atau hal/bidang. Menurut Bessant dan  Tidd (2011), inovasi ada empat bentuk, yaitu inovasi  produk, proses, posisi dan paradigma. Inovasi produk berkenaan dengan penawaran produk baru ke pasar.

Inovasi proses, berkaitan dengan pembaruan dalam cara membuat dan menyampaikan  produk dan jasa, sedangkan inovasi posisi adalah perubahan  dalam cara memperkenal produk dan jasa.

Adapun inovasi paradigma berhubungan dengan model mental atau cara pandang  yang mendasari organisasi dalam bertindak atau beraktivitas.

Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana bentuk inovasi tersebut dapat diaplikasikan oleh UMKM di tengah Pandemi tersebut? Apakah semua bentuk inovasi tersebut relevan bagi UMKM di tengah Pandemi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja harus dirunut keterkaitan antara Pandemi dan perlambatan ekonomi. Ekonomi melambat karena adanya efek dari social dan physical distancing.

Adanya social dan physical distancing tersebut kemudian menyebabkan terhambatnya penyampaian produk dan jasa dari produsen ke konsumen.

Sebagai contoh, adanya social dan physical distancing menyebabkan orang tidak bisa menghadiri acara resepsi pernikahan, konferensi, perkuliahan, pertemuan bisnis, kunjungan wisata, rapat,  dan lain sebagainya.

Adanya Pandemi Covid-19 juga menurunkan minat masyarakat untuk berkunjung ke  ke rumah makan, mal dan pusat keramaian lainnya.  Sebagai hasilnya, pendapatan UMKM menjadi berkurang. 

Kelayakan Strategi Inovasi 

Tampaknya, tidak semua inovasi tersebut layak untuk diterapkan oleh UMKM di masa krisis Pandemi Covid-19. Inovasi produk berupa pengenalan produk baru ke konsumen sulit dilakukan, karena produk baru identik dengan tambahan biaya.

Di dalam produk baru, ada tambahan biaya komersialisasi dan promosi yang harus ditanggung konsumen. Di tengah  daya beli konsumen yang menurun,  konsumen mungkin mengerem pembelian produk baru,  dibandingkan menggunakan produk mereka yang lama.

 Inovasi proses, terkait dengan cara baru penyampaian produk ke konsumen sangat mungkin di lakukan. UMKM dapat menggunakan media online untuk menyampaikan produk mereka ke konsumen.

Baru-baru ini ada perusahaan katering pernikahan melakukan inovasi dengan menawarkan delivery service yang memungkinkan para tamu undangan menikmati hidangan sambil menyaksikan pernikahan secara daring di rumah. Demikian juga dengan jasa les privat, yang menawarkan model belajar daring.  

Inovasi proses berupa pembaruan cara berproduksi juga perlu dipertimbangkan. UMKM perlu memikirkan proses produksi yang dapat mengurangi penggunaan biaya tetap.

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap, berapapun volume produk yang dihasilkan. Dalam kondisi permintaan yang cenderung rendah, biaya tetap per-unit produk adalah tinggi.

Salah satu komponen biaya tetap adalah gaji pegawai tetap. Dengan cara kerja yang baru, diharapkan dapat mengurangi model penggajian yang mendasarkan pada biaya tetap dan mengalihkannya ke biaya variabel. 

Di UMKM, di mana sistem penggajian cenderung lebih fleksibel dibandingkan perusahaan besar, upaya ini bisa dilakukan. Inovasi posisi dilakukan manakala perusahaan mengalihkan produk lama mereka ke pasar baru.

Dalam inovasi posisi, perusahaan berusaha melakukan penyesuain agar produk lama mereka dapat diterima di pasar yang baru. Sebagai contoh film yang seharusnya ditayangkan di gedung bioskop, ditawarkan ke jaringan televisi berbayar, ataupun produk kebersihan rumah ditawarkan ke pasar kesehatan.

Saat ini banyak dijumpai  UMKM di Industri konveksi sebagian mengalihkan produk fashion mereka ke alat pelindung diri (APD), masker dan produk lain terkait dengan perlindungan diri.

Terakhir, inovasi paradigma, terkait dengan perubahan cara pandang organisasi tentang apa yang mereka lakukan. Perusahaan besar seperti Amazon, Google, dan Skype, telah meredefinisikan industri periklanan, retail dan telekomunikasi melalui media online.

 Dalam pendekatan ini UMKM perlu melakukan redefinisi ulang bisnis mereka, sehingga lebih relevan dengan bisnis yang saat ini ada.

Inovasi bisnis dalam situasi pandemi, bagaimanapun harus memperhatikan dua aspek penting yaitu: sumber daya finansial dan pasar. Dari sisi finansial, pandemi secara umum telah menggerus sumberdaya UMKM, seiring dengan penurunan pendapatan mereka.

Sumber daya finansial mereka akan lebih banyak digunakan untuk bertahan hidup. Itu artinya, inovasi yang membutuhkan sumberdaya finansial yang besar, seperti peluncuran produk baru sebaiknya dijauhi.

UMKM perlu lebih fokus pada inovasi dengan biaya yang lebih sedikit, seperti inovasi proses dan posisi.  Pasar, di sisi lain  ditandai dengan melemahnya daya beli  dan disertai dengan perubahan preferensi konsumen.

Konsumen lebih memilih berbelanja pada barang kebutuhan yang penting dan mendesak, dibandingkan dengan barang kebutuhan yang kurang penting dan mendesak. Sebab itu, inovasi yang dipilih pun bukan hanya selaras dengan sumberdaya, akan tetapi juga aksesibilitas pasar. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP